Gayatri Putri News – 12 Oktober 2026 | Penampilan pertama Mika Godts sebagai starter bersama Paris Saint-Germain berakhir jauh dari harapan. Pemain sayap asal Belgia itu dipercaya pelatih Luis Enrique untuk mengisi lini depan saat PSG menjamu Le Mans FC dalam lanjutan Ligue 1, Sabtu malam. Laga berakhir dengan kemenangan 3-1 untuk tuan rumah, tetapi kontribusi Godts justru menjadi sorotan tajam media Prancis.
Godts, yang didatangkan dari Ajax Amsterdam dengan nilai transfer besar pada bursa musim panas, sebelumnya hanya tampil sebagai pemain pengganti sebanyak lima hingga enam kali. Kesempatan menjadi starter akhirnya datang ketika PSG menghadapi Le Mans, lawan yang di atas kertas jauh di bawah level mereka dan cenderung membuka ruang bagi pemain menyerang untuk bersinar. Namun, ekspektasi tinggi itu tidak terwujud.
58 Menit Tanpa Dampak Nyata
Selama 58 menit berada di lapangan, Godts sama sekali tidak mampu memberikan ancaman berarti. Ia jarang mendapat bola dari rekan-rekannya, kesulitan melewati lawan dalam duel satu lawan satu, dan terlihat kehabisan tenaga. Catatan statistik memperkuat kesan tersebut: ia kehilangan bola hingga 16 kali, jumlah tertinggi dalam pertandingan itu, padahal ia hanya bermain kurang dari satu jam. Dari lima percobaan dribel, hanya satu yang berhasil, dan tingkat keberhasilan duelnya hanya berkisar 56 persen. Satu-satunya peluang yang ia dapatkan pun berakhir dengan tembakan yang tidak berbahaya.
Yang membuat situasi semakin pahit, penggantinya, Khvicha Kvaratskhelia, langsung mencetak gol hanya dua menit setelah masuk. Kontras antara performa Godts dan Kvaratskhelia menjadi perbandingan yang sulit diabaikan publik Paris.
Kritik Pedas Media Prancis
Media Prancis tidak memberi ampun. Le Parisien memberi Godts nilai 3, nilai terendah di antara pemain PSG malam itu. Ulasan mereka menyebut penampilannya “sangat mengecewakan”, dengan penilaian bahwa ia gagal mengalahkan lawan, membuat keputusan buruk, dan terlalu sering kehilangan bola. Bahkan, media tersebut menjulukinya sebagai “König Balverlies” atau raja kehilangan bola.
Maxi Foot sedikit lebih longgar dengan nilai 5,5, tetapi tetap menyoroti lemahnya efektivitas dribel dan momen ketika Kvaratskhelia mencetak gol tak lama setelah menggantikannya. Sementara itu, kanal penggemar seperti Culture PSG dan Paris Fans juga memberikan nilai di bawah standar, masing-masing 5 dan 4. L’Équipe menyoroti bahwa sejauh ini publik baru melihat sisi fisik Godts, seperti rambut pirang dan senyum khasnya, tanpa bukti nyata kualitas permainan yang konsisten di level tertinggi.
Persaingan Ketat di Lini Depan PSG
Masalah utama bagi Godts bukan sekadar satu penampilan buruk, melainkan posisinya dalam rotasi tim. PSG sudah memiliki trio penyerang yang mapan, sehingga Godts harus membuktikan diri sebagai opsi keempat yang mampu mengubah jalannya pertandingan. Peran itu pernah dijalankan Bradley Barcola musim lalu dengan cukup efektif.
Hingga kini, Godts dinilai masih kekurangan kepercayaan diri dan spontanitas untuk mengekspresikan kemampuannya. Ia tampak ragu mengambil risiko, terlalu lambat dalam mengambil keputusan, dan kerap memperlambat tempo serangan PSG.
Tantangan Berat Menanti
PSG dijadwalkan menghadapi Manchester City dalam laga besar Liga Champions pada tengah pekan. Diprediksi Godts akan kembali memulai dari bangku cadangan. Laga tersebut bisa menjadi momen pembuktian baginya jika diberi kesempatan, atau justru memperkuat keraguan bahwa ia belum siap bersaing di level elit Eropa.
Godts memang masih berusia 21 tahun dan memiliki waktu untuk berkembang. Namun, di klub sebesar PSG, kesabaran tidak berlimpah. Ia harus segera menunjukkan wajah berbeda jika ingin bertahan dan naik dalam hierarki yang ditetapkan Luis Enrique.
Debut starter yang buruk bukan akhir segalanya, tetapi menjadi peringatan serius. Godts perlu membuktikan bahwa nilai transfer besar yang dikeluarkan PSG bukan sekadar taruhan jangka panjang, melainkan investasi yang layak diandalkan musim ini.
Sumber Berita: Foot Mercato, Soccernews.nl, Voetbalzone.nl, Voetbalprimeur.nl
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






