Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Jakarta — Timnas Indonesia akhirnya mengakhiri puasa gelar selama 35 tahun di level senior. Pada laga final FIFA ASEAN Cup 2026 yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), skuad asuhan John Herdman menaklukkan Thailand melalui adu penalti dengan skor 4-2 setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit.
Gelar ini terasa istimewa karena menjadi yang pertama bagi Indonesia sejak SEA Games 1991, ketika sepak bola masih menggunakan tim senior. Lemari trofi Tim Merah-Putih pun tak lagi kosong, dan Timnas tidak lagi menjadi bahan meme setiap kali turnamen ASEAN bergulir.
Jalannya Final yang Dramatis
Indonesia sebenarnya sempat berada di atas angin. Setelah Thailand harus bermain dengan sepuluh orang, Dean James mencetak gol pada menit ke-84 dan membawa tuan rumah unggul. Namun keunggulan itu gagal dijaga dengan baik. Gawang Emil Audero bobol oleh Peeradol Chamrasamee, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan.
Di babak tambahan, Thailand justru sempat berbalik unggul lewat Sanron Iklas. Beruntung, Elkan Baggott tampil sebagai pahlawan melalui golnya yang menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Pada adu penalti, dua penendang Thailand gagal memasukkan bola, dan Indonesia keluar sebagai juara.
Tiga Mahasiswa di Balik Skuad Juara
Menariknya, di balik skuad juara tersebut terdapat sejumlah pemain muda yang masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Setidaknya ada tiga pemain yang mampu membagi waktu antara lapangan dan kewajiban akademik:
- Rizky Ridho — masih aktif berkuliah dan terakhir mengikuti bimbingan tugas akhir melalui Zoom bersama dosen wali. Ia mencetak satu gol saat menghadapi Bangladesh dan menyumbangkan assist pada final melawan Thailand.
- Dony Tri Pamungkas — pemain berusia 21 tahun yang tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Kepelatihan dan Olahraga, FKIP Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP). Ia sebelumnya memperkuat Timnas Indonesia U-23 pada SEA Games 2025.
- Arly — rekan setim Dony di UTP yang juga menyumbang prestasi di level nasional.
Pihak kampus pun menyampaikan rasa bangga. Rektor Umsura, Prof Mundakir, menyebut Rizky Ridho bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga mengharumkan nama kampus. Sementara Wakil Rektor III UTP Surakarta, Prof Dr Nuruddin Priya Budi, menilai prestasi para mahasiswanya menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika.
Apresiasi dari Mantan Kapten Garuda
Mantan kapten Timnas Indonesia, Agung Setyabudi, ikut berbangga atas pencapaian Kevin Diks dan kawan-kawan. Ia mengapresiasi perjuangan para pemain yang terus berjuang keras hingga adu penalti, meski mengakui Thailand memberikan perlawanan sengit walau kalah jumlah pemain.
Menurut Agung, nilai plus skuad Garuda saat ini adalah agresivitas ala Eropa. Hal itu tak lepas dari peran sebagian besar pemain pilar yang berkarier di klub-klub Benua Biru. Ia menilai tim sekarang lebih berani memegang bola, mengirim umpan terobosan, dan memiliki striker yang tajam.
Momen Haru Egy Maulana Vikri
Selebrasi kemenangan juga diwarnai momen mengharukan. Egy Maulana Vikri, yang masuk menggantikan Calvin Verdonk pada babak tambahan waktu, merayakan gelar bersama sang istri, Adiba Khanza, dan putri kecil mereka, Elara Mahakalila. Elara yang lahir pada 1 Desember 2025 tampil menggemaskan dengan jersey merah mungil bertuliskan namanya dan pelindung telinga.
Tangis bahagia Egy berubah menjadi senyum lebar ketika bertemu keluarganya di lapangan. Ia sempat digendong sambil memegang trofi juara, diangkat tinggi, dan tampak memperhatikan medali emas sang ayah.
Penebusan dan Target Piala Dunia 2030
Penyerang Ole Romeny mengaku ada satu hal yang disesalkannya di final. Menurutnya, Indonesia seharusnya bisa menjaga keunggulan saat melawan tim yang hanya beranggotakan sepuluh orang. Meski begitu, ia bersyukur Indonesia tetap mampu memaksakan adu penalti dan akhirnya juara.
Romeny menyebut trofi FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai penebusan usai kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026. Ia pun menargetkan Piala Dunia 2030 sebagai sasaran berikutnya yang bagus untuk dikejar, dengan membangun tim selangkah demi selangkah.
Obat bagi Inner Child yang Terluka
Bagi penggemar Timnas yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an, gelar ini menjadi obat bagi luka lama. Rentetan kegagalan di SEA Games 1997, enam final Piala AFF yang berakhir sebagai runner-up, insiden ‘sepak bola gajah’ 1998, isu kekalahan yang disengaja di final 2010, hingga dualisme Timnas 2014 menjadi bagian dari pengalaman pahit yang panjang.
Kini, lemari trofi Indonesia tak lagi kosong. Generasi yang dulu menangis melihat Timnas kalah di adu penalti akhirnya bisa menyaksikan Garuda mengangkat trofi di hadapan publik sendiri.
Kemenangan ini bukan sekadar soal satu gelar. Ia menjadi penanda bahwa sepak bola Indonesia mampu bangkit, berkat kombinasi pemain abroad, pemain muda yang tetap menempuh pendidikan, dan dukungan suporter yang tak pernah putus. Jika konsistensi ini dijaga, target Piala Dunia 2030 bukanlah mimpi yang mustahil.
Sumber Berita: Bola.com, Popmama.com, dan laporan lapangan Tim Redaksi.
Penulis: Redaksi Olahraga
Editor: Redaksi Olahraga
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






