Gayatri Putri News – 10 Oktober 2026 | Di usia ketika sebagian besar remaja masih menempuh pendidikan sekolah menengah atau baru mengenal kehidupan kampus, Hasna Nur Shadrina telah mengenakan toga dan menyandang gelar sarjana. Pada usia 19 tahun 7 bulan, perempuan asal Tangerang itu mencatatkan namanya sebagai wisudawan termuda dalam Wisuda ke-134 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu, 10 Oktober 2026.
Pencapaian tersebut bukan hasil dari perjalanan pendidikan yang berlangsung seperti kebanyakan mahasiswa. Sejak kecil, Hasna menjalani proses belajar dengan tempo lebih cepat. Ia masuk taman kanak-kanak pada usia 3 tahun, kemudian memulai pendidikan sekolah dasar ketika berusia 5 tahun. Langkah-langkah awal itu menjadi bagian dari perjalanan akademiknya yang membawanya menyelesaikan pendidikan tinggi jauh lebih awal daripada kebanyakan orang seusianya.
Perjalanan Pendidikan yang Lebih Cepat
Hasna menjalani pendidikan dasar dan menengah pertama melalui program akselerasi. Di sekolah dasar, ia menuntaskan kelas 4 hingga kelas 6 hanya dalam waktu dua tahun. Pola belajar yang lebih singkat itu kemudian berlanjut ketika ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Berikut gambaran ringkas tahapan pendidikan yang dilalui Hasna:
- Masuk taman kanak-kanak pada usia 3 tahun.
- Memulai sekolah dasar pada usia 5 tahun.
- Menyelesaikan kelas 4 hingga kelas 6 sekolah dasar dalam dua tahun melalui program akselerasi.
- Melanjutkan pendidikan menengah pertama dengan pola belajar yang lebih singkat.
- Menuntaskan pendidikan tinggi dan diwisuda pada usia 19 tahun 7 bulan.
Kemampuan menuntaskan pendidikan lebih cepat tidak hanya bergantung pada kecerdasan, tetapi juga pada kedisiplinan, dukungan keluarga, serta lingkungan belajar yang mampu mengakomodasi kebutuhan siswa dengan tempo belajar berbeda. Program akselerasi menjadi salah satu jalur yang memungkinkan hal tersebut.
Wisudawan Termuda di Wisuda ke-134 ITS
Dalam Wisuda ke-134 ITS yang digelar pada Sabtu, 10 Oktober 2026, nama Hasna Nur Shadrina mencuat sebagai wisudawan termuda. Status tersebut menjadikannya sorotan di antara para lulusan lain yang umumnya berusia lebih matang.
Pencapaian ini menunjukkan bahwa jalur pendidikan yang ditempuh secara lebih cepat dapat menjadi pilihan bagi siswa dengan kesiapan akademik dan mental yang memadai. Meski demikian, proses tersebut tetap memerlukan pendampingan agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.
Kisah Hasna menjadi gambaran bahwa usia bukanlah batas utama untuk meraih gelar sarjana. Dengan perencanaan pendidikan yang tepat, dukungan berkelanjutan, dan konsistensi belajar, seorang pelajar dapat menempuh jenjang pendidikan tinggi lebih awal dari kebanyakan orang seusianya.
Sumber Berita: Suara Landak
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






