Gayatri Putri News – 04 Oktober 2026 | JAKARTA – Indonesia kembali diingatkan akan potensi gempa megathrust yang menyimpan ancaman serius bagi berbagai sektor strategis, khususnya pertanian, ketahanan pangan, dan energi. Namun, alih-alih memicu kepanikan, para ahli menegaskan bahwa informasi ini harus menjadi dasar untuk membangun sistem yang lebih siap dan tangguh dalam menghadapi skenario terburuk.
Memahami Potensi Gempa Megathrust
Gempa megathrust terjadi di zona subduksi, tempat satu lempeng tektonik menunjam di bawah lempeng lainnya. Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), terdapat sekitar 14 segmen megathrust yang dipetakan di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Beberapa segmen tersebut memiliki potensi magnitudo yang cukup signifikan berdasarkan pemodelan ilmiah.
Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (Unair), Dr Hijrah Saputra ST MSc, menjelaskan bahwa akumulasi tekanan pada zona penunjaman lempeng terus menumpuk hingga melampaui ambang batas elastisitas batuan. “Sesuai hukum elastisitas batuan, saat lempeng terus tertekan hingga tidak lagi mampu menahan beban, batuan akan retak atau patah secara mendadak dan memicu pelepasan gelombang gempa,” ujarnya.
Perhatian ilmuwan kini tertuju pada segmen di selatan Jawa yang dalam jangka waktu lama belum melepaskan akumulasi energinya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa data ini merupakan potensi, bukan prediksi waktu kejadian, sehingga pemahaman terhadap risiko ini menjadi dasar penting untuk merancang mitigasi jangka panjang.
Ketahanan Pangan dan Pertanian Jadi Sorotan
Sektor pertanian dan ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan memahami potensi bencana geologi, penguatan sistem yang sudah ada agar lebih adaptif menjadi langkah yang terus digalakkan. Beberapa upaya positif yang dapat dilakukan antara lain:
- Pemetaan daerah rawan bencana yang terintegrasi dengan lahan pertanian produktif.
- Pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan.
- Penguatan cadangan pangan di tingkat daerah hingga komunitas.
- Pembangunan infrastruktur penyimpanan hasil panen yang tahan gempa.
- Pelatihan petani mengenai respons cepat pascabencana.
Dengan pendekatan ini, potensi gangguan dapat diminimalkan, sementara kemampuan sektor pertanian untuk pulih cepat semakin meningkat. Ketahanan pangan tidak hanya soal stok, tetapi juga tentang sistem yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi.
Memperkuat Sektor Energi Agar Lebih Andal
Sektor energi juga menjadi perhatian penting dalam menghadapi potensi gempa megathrust. Infrastruktur energi seperti pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan fasilitas penyimpanan perlu dirancang dengan standar ketahanan gempa yang tinggi. Diversifikasi sumber energi dan penguatan sistem cadangan menjadi kunci agar pasokan energi tetap terjaga saat terjadi guncangan besar.
Selain itu, sistem peringatan dini seperti InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) terus dikembangkan agar informasi dapat disampaikan secara cepat dan akurat kepada masyarakat. Dr Hijrah menekankan bahwa EWS yang efektif terdiri dari empat komponen yang harus berjalan bersama, yakni pengetahuan tentang risiko, pemantauan dan peringatan, penyebaran informasi kepada masyarakat, serta kemampuan respons masyarakat.
Kesiapsiagaan Berlapis dan Komunikasi Risiko
Dalam mitigasi bencana di titik lokasi megathrust, diperlukan tiga lapis kesiapsiagaan, yakni tingkat struktural pemerintah, komunitas lokal, hingga unit terkecil keluarga. Pemodelan jangkauan gelombang serta pemetaan rute evakuasi harus terpadu dengan pelatihan respons cepat secara berkala pada kawasan rawan bencana.
Di level struktural, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara intensif melakukan sosialisasi dan simulasi. Instansi terkait juga melakukan pengujian skala nasional dengan membuat skenario terburuk. Peneliti telah memodelkan seberapa jauh tinggi gelombang masuk ke daratan saat terjadi gempa dengan magnitudo tertentu, lalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk membuat jalur evakuasi.
Selain perbaikan fisik, strategi komunikasi risiko perlu dibangun agar tidak memicu kepanikan massal. Penyampaian informasi kebencanaan harus menghindari bahasa akademis yang rumit dan melibatkan tokoh agama serta adat setempat. “Komunikasi bencana dapat dilakukan dengan basis solusi dan bukan ancaman, pesan konsisten dan terkoordinasi, menggunakan bahasa sederhana dan konseptual, melibatkan tokoh lokal dan media lokal, serta edukasi berkelanjutan,” pesan Dr Hijrah.
Respons Cepat Pascabencana di NTT
Gambaran nyata mengenai pentingnya kesiapsiagaan terlihat dari peristiwa gempa yang mengguncang sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026. BMKG mencatat dua gempa dengan kekuatan cukup besar dalam rentang waktu kurang dari satu jam.
Gempa pertama terjadi di wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan magnitudo 6,1 pada pukul 05:55:52 WIB. Pusat gempa berada di koordinat 9,70 Lintang Selatan dan 118,92 Bujur Timur, sekitar 14 kilometer barat daya Kodi, dengan kedalaman 10 kilometer. Sekitar 40 menit kemudian, gempa kembali mengguncang Aceh Jaya, Aceh, dengan magnitudo awal 5,9 yang kemudian diperbarui menjadi 5,8. Kedua gempa tersebut dinyatakan tidak berpotensi tsunami.
Menanggapi dampak bencana di NTT, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan kebijakan khusus berupa keringanan kredit dan pembiayaan bagi debitur yang terdampak di delapan kabupaten, yaitu Ende, Flores Timur, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka. Kebijakan ini berlaku selama tiga tahun sejak ditetapkan pada 28 September 2026 dan mencakup perbankan, perusahaan pembiayaan, modal ventura, fintech lending, pegadaian, serta lembaga jasa keuangan lainnya.
Tiga kebijakan utama yang diberikan meliputi penilaian kualitas kredit berplafon hingga Rp10 miliar yang hanya didasarkan pada ketepatan pembayaran, penetapan kualitas lancar secara langsung atas kredit yang direstrukturisasi, serta pemberian pembiayaan baru dengan penetapan kualitas kredit yang dipisahkan dari pembiayaan sebelumnya.
Kesimpulan
Potensi gempa megathrust bukanlah hal yang perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan harus dihadapi dengan kesiapsiagaan yang terukur. Penguatan sektor pertanian, ketahanan pangan, dan energi menjadi bagian penting dari upaya membangun bangsa yang tangguh menghadapi bencana. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga pulih dengan cepat ketika guncangan besar benar-benar terjadi.
Sumber Berita: BMKG, PuSGeN, Universitas Airlangga, OJK, Bisnisia.id, VIVA.
Penulis: Siska Permata Sari
Editor: Mayuliza
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






