Gejolak Harga Minyak Dunia 2026: Indonesia Waspada Defisit 1 Juta Barel per Hari

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Gejolak Harga Minyak Dunia 2026: Indonesia Waspada Defisit 1 Juta Barel per Hari

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 09 Oktober 2026 | Jakarta – Pasar energi global kembali bergejolak sepanjang 2026. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan hambatan pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak bumi melonjak tajam, dari sekitar US$65 per barel menjadi US$110 per barel. Lonjakan ini menjadi alarm serius bagi Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Defisit Minyak Bumi Mencapai 1 Juta Barel per Hari

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan bahwa konsumsi bahan bakar nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak domestik hanya berkisar 600.000 barel per hari. Artinya, terdapat defisit sekitar 1 juta barel per hari yang harus ditutup melalui impor.

“Ketergantungan inilah yang membuat kita rentan ketika harga global berfluktuasi,” ujar Anindya dalam forum International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta.

Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya permintaan minyak dunia yang diperkirakan menembus 105 juta barel per hari pada 2026, dengan pertumbuhan sekitar 850.000 barel per hari. Pertumbuhan ini tidak lagi hanya didorong sektor transportasi, tetapi juga industri petrokimia dan pasar Asia yang semakin ekspansif.

Transisi Energi dan Investasi Rp13.000 Triliun

Di tengah tekanan tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat ketahanan energi melalui percepatan elektrifikasi, peningkatan skala energi terbarukan, dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar impor. Namun, upaya ini membutuhkan dukungan investasi dalam skala besar.

Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.

“Jumlah itu lebih besar dari total investasi yang kita tarik dalam 10 tahun terakhir jika digabungkan,” ujar Rosan. Ia menegaskan bahwa ketahanan energi, industrialisasi, dan hilirisasi menjadi pusat agenda pembangunan nasional, sembari tetap berkomitmen mencapai emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat.

Danantara Ekspansi ke Permian Basin

Langkah strategis juga diambil melalui PT Danantara Investment Management (DIM) yang menyuntikkan dana US$250 juta atau setara Rp4,48 triliun ke HighPeak Energy, Inc., perusahaan eksplorasi minyak dan gas asal Texas, Amerika Serikat. Investasi bertahap melalui saham preferen konvertibel ini memberi DIM akses ke portofolio aset minyak di Permian Basin, kawasan penghasil minyak mentah terbesar di AS yang menyumbang 48% produksi nasional pada 2025.

CEO DIM, Pandu Sjahrir, menyebut langkah ini sejalan dengan mandat Danantara untuk berinvestasi di sektor strategis yang memberikan imbal hasil berkelanjutan sekaligus mendukung kepentingan nasional. Melalui kemitraan ini, HighPeak akan membuka program pelatihan dan penugasan kerja bagi tenaga kerja Indonesia guna transfer keahlian teknis, termasuk penerapan teknologi pengeboran horizontal dan fracking yang berpotensi mendongkrak produksi migas dalam negeri.

Pasar Migas yang Semakin Selektif

Pengamat energi Yulian Dekri menilai pasar migas 2026 tidak lagi sekadar menilai volume produksi. Faktor seperti posisi biaya, keandalan, akses pasar, dan kecepatan eksekusi menjadi pembeda antara pemenang dan yang tertinggal. Di sisi hilir, efisiensi kilang dan utilisasi aset menjadi penentu daya saing, sementara nilai tambah terbesar justru datang dari integrasi dengan industri petrokimia.

Sementara itu, Kanada mengambil langkah besar dengan mempercepat proyek pipa minyak Pacific Link sepanjang 1.250 km dari Alberta ke British Columbia. Perdana Menteri Mark Carney menyatakan proyek senilai hingga 43,7 miliar dolar Kanada ini akan mengalirkan lebih dari 1 juta barel per hari dan memperluas ekspor minyak ke Asia, mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat yang tengah berselisih dagang.

Kesimpulan

Gejolak harga minyak bumi 2026 menegaskan bahwa ketahanan energi Indonesia tidak bisa lagi disandarkan pada pasokan impor semata. Defisit 1 juta barel per hari, lonjakan harga global, dan tekanan geopolitik menuntut percepatan transisi energi, hilirisasi, serta investasi besar yang terencana. Langkah Danantara mengakuisisi aset strategis di Permian Basin dan dorongan energi terbarukan menjadi sinyal bahwa diversifikasi menjadi kunci. Tanpa itu, Indonesia berisiko terus menjadi penonton di pasar energi yang semakin selektif.

Sumber Berita: Liputan6.com, Tirto.id, CNBC Indonesia, IDN Times

Penulis: Redaksi Energi
Editor: Redaksi Ekonomi