Gayatri Putri News – 10 Oktober 2026 | Ekspor minyak sawit Indonesia diproyeksikan mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan volume ekspor sawit nasional akan menyusut menjadi 26,5 juta ton pada 2027, turun dari sekitar 31 juta ton yang diproyeksikan pada 2026.
Penurunan ini disebut sebagai dampak dari melemahnya produksi serta meningkatnya kebutuhan domestik, terutama untuk program biodiesel B50. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers menjelang The 22nd Indonesian Palm Oil Conference and 2027 Price Outlook (IPOC 2026) di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Produksi Melambat dan Kebutuhan Domestik Meningkat
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menjelaskan bahwa melambatnya produksi dan naiknya konsumsi dalam negeri berpotensi mengurangi pasokan bagi pasar internasional. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi industri karena ekspor selama ini menjadi salah satu penopang utama penerimaan devisa negara.
Dampak pada Pendanaan Biodiesel
Dalam penjelasan yang disampaikan melalui Ketua Umum Eddy Martono, GAPKI menegaskan bahwa program biodiesel sangat bergantung pada pungutan ekspor. Jika ekspor turun, maka dana yang tersedia untuk mendukung program tersebut juga akan semakin terbatas.
Berikut gambaran proyeksi ekspor sawit Indonesia berdasarkan data yang disampaikan GAPKI:
| Tahun | Proyeksi Ekspor |
|---|---|
| 2026 | Sekitar 31 juta ton |
| 2027 | 26,5 juta ton |
Penurunan sekitar 4,5 juta ton ini menjadi sinyal bahwa industri kelapa sawit nasional perlu mengantisipasi perubahan lanskap pasar, baik dari sisi produksi maupun kebijakan energi dalam negeri. GAPKI pun menyoroti pentingnya keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik dan menjaga kinerja ekspor.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






