Gayatri Putri News – 13 Oktober 2026 | Hujan deras disertai badai petir mengguyur New Delhi pada Senin dini hari, 12 Oktober 2026, membawa curah hujan Oktober tertinggi sejak 2022 sekaligus menurunkan suhu udara dan memperbaiki kualitas udara ibu kota India tersebut ke kategori memuaskan untuk pertama kalinya bulan ini.
Berdasarkan data India Meteorological Department (IMD), Stasiun Safdarjung yang menjadi stasiun cuaca acuan Delhi mencatat curah hujan 41,6 mm dalam periode 24 jam hingga pukul 08.30 waktu setempat. Curah hujan tertinggi sebelumnya tercatat pada 9 Oktober 2022 dengan sekitar 74 mm.
Dari lima stasiun cuaca di Delhi, Ridge mencatat curah hujan tertinggi mencapai 49 mm, disusul Safdarjung 41,6 mm, Lodhi Road 41,4 mm, Ayanagar 39 mm, dan Palam 31 mm. Antara pukul 08.30 hingga 17.30, Ridge kembali mencatat tambahan 1,4 mm hujan, sementara empat stasiun lainnya tidak melaporkan hujan.
Dampak pada Suhu dan Kualitas Udara
Hujan yang mengguyur sejak dini hari membuat suhu udara di ibu kota India turun signifikan. Safdarjung mencatat suhu minimum 18,7 derajat Celsius atau 2,3 derajat di bawah normal, menjadi yang terendah sepanjang bulan ini. Palam mencatat 17 derajat Celsius atau 4,5 derajat di bawah normal, sedangkan Lodhi Road 18,7 derajat Celsius dan Ayanagar 18,5 derajat Celsius.
Suhu maksimum di Safdarjung hanya mencapai 30,2 derajat Celsius atau empat derajat di bawah normal. Palam mencatat 28,4 derajat Celsius atau 6,1 derajat di bawah normal, Lodhi Road 29,8 derajat Celsius, Ridge 29,1 derajat Celsius, dan Ayanagar 29,5 derajat Celsius.
Central Pollution Control Board (CPCB) melaporkan rata-rata Air Quality Index (AQI) Delhi pada Senin berada di angka 83, masuk kategori memuaskan. Ini menjadi kali pertama sepanjang Oktober 2026 udara Delhi berada di kategori tersebut. Kategori AQI sendiri terdiri dari 0-50 baik, 51-100 memuaskan, 101-200 moderat, 201-300 buruk, 301-400 sangat buruk, dan 401-500 berbahaya.
Namun, Air Quality Early Warning System memperkirakan kualitas udara Delhi akan tetap memuaskan pada Senin sebelum kembali memburuk ke kategori moderat pada 13-15 Oktober. Proyeksi enam hari berikutnya menunjukkan level moderat hingga buruk.
Banjir dan Gangguan Lalu Lintas
Di sisi lain, hujan deras menyebabkan genangan di sejumlah kawasan. Genangan dilaporkan terjadi di sebagian Sainik Farm, Delhi selatan, dan Mahipalpur. Rekaman visual dari R K Puram, Kartavya Path, serta kawasan Delhi tengah, tenggara, dan barat menunjukkan hujan deras mengguyur kota.
Delhi Traffic Police melalui akun X menyatakan lalu lintas dialihkan di kedua jalur Ansari Road, antara Dharampura dan Iron Bridge, akibat genangan air. IMD juga mengeluarkan peringatan potensi gangguan lalu lintas dan mengimbau warga memeriksa kondisi kemacetan sebelum berangkat serta menghindari kawasan rawan genangan.
Penyebab Cuaca Ekstrem
Pakar cuaca Mahesh Palawat dari Skymet menjelaskan bahwa hujan ini disebabkan kombinasi beberapa sistem, termasuk gangguan barat di Pakistan utara, sirkulasi siklonik di Haryana, serta angin dari Teluk Benggala dan angin barat daya dari Laut Arab.
“Ini pola cuaca normal dan hujan ini tipikal curah hujan pasca-monsun. Warga dapat mengharapkan hujan intermiten selama tiga hari ke depan,” ujar Palawat.
Data jaringan stasiun cuaca otomatis IMD menunjukkan Kamla Nehru Nagar di Ghaziabad mencatat curah hujan tertinggi 52 mm antara pukul 08.30 Minggu dan 07.00 Senin. Janakpuri mencatat 35 mm, Pragati Maidan 35,2 mm, Narayana 40 mm, dan Pusa 42 mm.
Proyeksi Cuaca Enam Hari ke Depan
IMD memperkirakan langit Delhi akan berawan sebagian hingga 17 Oktober dengan peluang hujan rendah. Suhu maksimum diprediksi berkisar 31-35 derajat Celsius dan suhu minimum 22-25 derajat Celsius.
| Tanggal | Suhu Maksimum | Suhu Minimum | Peluang Hujan |
|---|---|---|---|
| 13 Oktober | 32-34 C | 23-25 C | Rendah |
| 14 Oktober | 33-35 C | 23-25 C | Rendah |
| 15 Oktober | 31-33 C | 23-25 C | Rendah |
| 16 Oktober | 32-34 C | 22-24 C | Rendah |
| 17 Oktober | 32-34 C | 22-24 C | Rendah |
Kebijakan GRAP dan Kritik Sistem Pemeringkatan
Di tengah dinamika kualitas udara tersebut, Commission for Air Quality Management (CAQM) merevisi Graded Response Action Plan (GRAP) untuk wilayah Delhi-NCR dan sekitarnya melalui rapat ke-30 pada 28 September 2026. Revisi ini mencakup perluasan pembatasan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin BS-III dan diesel BS-IV ke Sonipat, Haryana, yang sebelumnya hanya berlaku di Gurugram, Faridabad, Ghaziabad, dan Gautam Budh Nagar.
Selain itu, bus antarkota dan antarnegara bagian dari Haryana, Uttar Pradesh, Rajasthan, Punjab, Himachal Pradesh, Madhya Pradesh, Uttarakhand, dan Jammu-Kashmir hanya diizinkan masuk Delhi-NCR jika berbasis listrik, CNG, atau diesel BS-VI pada tahap GRAP-1. Pengecualian bagi kendaraan barang BS-IV ke bawah pengangkut komoditas esensial pada GRAP-3 dan GRAP-4 juga dihapus.
GRAP merupakan rangkaian tindakan darurat yang diberlakukan bertahap sesuai ambang AQI. GRAP-1 berlaku saat AQI 201-300, GRAP-2 pada AQI 301-400, GRAP-3 pada AQI 401-450, dan GRAP-4 saat AQI melampaui 450.
Sementara itu, tim peneliti Indian Institute of Science (IISc) menyerukan penghentian kerangka pemeringkatan Swachh Vayu Sarvekshan karena dinilai tidak efektif dalam mendorong perbaikan kualitas udara secara substantif di kota-kota India.
Sorotan Global
Persoalan kualitas udara tidak hanya terjadi di India. Data pemeringkatan kota besar paling tercemar di dunia pada 12 Oktober 2026 pukul 06.00-07.00 waktu setempat menempatkan Kolkata di peringkat pertama dengan AQI 196, disusul Hanoi, Vietnam (188), Beijing, China (177), Singapura (172), dan Jakarta, Indonesia (167).
Kuala Lumpur menempati posisi keenam dengan AQI 162, Dhaka 158, Wuhan 154, Hangzhou 132, dan Baghdad 127. Nilai AQI 151-200 dalam standar Amerika Serikat tergolong tidak sehat, di mana masyarakat umum mulai merasakan dampak dan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, dan jantung perlu meningkatkan kewaspadaan. Partikel PM2.5 yang berukuran sangat kecil dapat menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru dan memicu iritasi mata, hidung, batuk, sesak napas, serta memperburuk penyakit kronis.
Hujan yang mengguyur Delhi pada awal pekan ini memang membawa berkah sementara berupa udara bersih dan suhu sejuk. Namun perbaikan tersebut diprediksi hanya bertahan singkat sebelum polusi kembali meningkat seiring masuknya musim dingin, ketika pembakaran sisa panen, emisi kendaraan, dan kondisi angin yang stagnan kerap memperburuk kualitas udara di kawasan ibu kota India.
Sumber Berita: India Today, Autocar India, The Hindu, Siamrath, dan Zee Business.
Penulis: Muhammad Nur
Editor: Rizky Zulianda
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






