Gayatri Putri News – 01 Oktober 2026 | Bulgaria kembali menjadi sorotan internasional setelah serangkaian peristiwa penting yang mengguncang dunia politik, olahraga, dan warisan budaya. Dari rencana kontroversial pertukaran artefak gereja dengan Yunani hingga tewasnya pemilik klub sepak bola terkemuka, Bulgaria menghadapi ujian berat dalam menjaga stabilitas dan identitasnya.
Pertukaran Artefak Gereja: Antara Simbolisme dan Kontroversi
Pemerintah Bulgaria berencana mengembalikan 48 artefak gereja bersejarah ke Yunani sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran jenazah Tsar Samuil, penguasa besar Bulgaria. Namun, rencana ini menuai kritik tajam dari kalangan akademisi. Assoc. Prof. Ventsislav Karavalchev dari Fakultas Teologi Universitas Sofia ‘St. Kliment Ohridski’ menegaskan bahwa artefak dari biara Panagia Ikosifinisa di Gunung Pangea dan St. John the Baptist di Serres tidak dapat secara otomatis dianggap sebagai milik Yunani.
‘Tidak mungkin mereka didefinisikan sebagai Yunani. Yunani belum ada saat kedua biara itu berdiri,’ tegas Karavalchev. Ia menambahkan bahwa konsep Yunani modern baru muncul pada abad ke-19, sehingga menerapkan kategori nasional modern pada Abad Pertengahan adalah kesalahan historis. Menurutnya, ikonostasis dan sebagian besar ikon di biara St. John the Baptist dibuat oleh orang Bulgaria dari desa-desa sekitar, dan hubungan dengan tradisi spiritual Bulgaria diperkuat oleh dokumen sumbangan dari Tsar Ivan Shishman serta tradisi lokal yang menghubungkan biara dengan murid Santo Ivan dari Rila.
Nama ‘Ikosifinisa’ sendiri berasal dari bahasa Slavia, yang menurut Karavalchev tidak mungkin selain Bulgaria, berasal dari kata ‘koshinitsa’ atau ‘keranjang’, karena biara itu terletak di lembah gunung yang menyerupai keranjang. Meskipun ia mengakui makna simbolis pengembalian jenazah Tsar Samuil, Karavalchev mengkritik kurangnya transparansi mengenai biaya dan parameter kesepakatan. ‘Apa yang mengesankan saya dan saya anggap ofensif bagi publik Bulgaria adalah parameter dari apa yang terjadi disembunyikan,’ ujarnya kepada BGNES.
Tragedi di Plovdiv: Pemilik Klub Botev Plovdiv Tewas Ditembak
Dunia sepak bola Bulgaria berduka setelah Iliyan Filipov, pemilik mayoritas klub Botev Plovdiv, tewas ditembak pada dini hari Rabu di sebuah properti di Plovdiv. Filipov, yang juga pendiri perusahaan transportasi besar PIMK, berusia 53 tahun. Polisi menerima laporan sekitar pukul 01.00 waktu setempat dan menemukan korban tewas di lokasi kejadian.
Kementerian Dalam Negeri Bulgaria menyatakan bahwa tim dari Direktorat Regional Plovdiv dan Direktorat Jenderal ‘Polisi Nasional’ sedang menyelidiki kasus ini. Area sekitar lokasi kejadian telah disterilkan dan lalu lintas di beberapa jalan dibatasi. Jaksa Distrik Plovdiv, Vanya Hristeva, menambahkan bahwa pihaknya ‘secara aktif mengejar semua petunjuk yang mungkin’. Kota yang berjarak sekitar 145 kilometer dari Sofia itu menutup jalur masuk dan keluar utama selama penyelidikan.
Insiden Diskriminasi terhadap Atlet Para-Snooker
Di tengah gejolak tersebut, dunia olahraga Bulgaria juga dihebohkan oleh kasus diskriminasi terhadap Matthew Lester, pemain para-snooker asal Doncaster, Inggris. Lester ditolak naik pesawat Wizz Air menuju Bulgaria untuk Kejuaraan Eropa Billiard dan Snooker Difabel Dunia karena alat angkat (hoist) yang dibawanya dianggap terlalu berat. Padahal, ia telah memberi tahu maskapai sebelumnya.
‘Sungguh mengejutkan bagi saya bahwa di zaman sekarang ini penyandang disabilitas diperlakukan seperti warga kelas dua oleh maskapai penerbangan,’ kata Lester. Wizz Air menyampaikan permintaan maaf dan berjanji akan belajar dari kesalahan untuk meningkatkan pengalaman penumpang difabel. Lester, yang selalu membawa dokumen berisi dimensi dan berat peralatannya, terpaksa mengatur ulang jadwal pertandingannya.
Dampak dan Tantangan bagi Bulgaria
Ketiga peristiwa ini menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi Bulgaria: dari warisan budaya yang masih diperdebatkan, keamanan publik yang terguncang oleh pembunuhan tokoh terkemuka, hingga isu hak penyandang disabilitas dalam dunia olahraga internasional. Pemerintah Bulgaria dihadapkan pada tekanan untuk menangani setiap masalah dengan transparan dan adil, sambil menjaga hubungan diplomatik dengan Yunani dan citra negara di mata dunia.
Kesimpulannya, Bulgaria saat ini berada di persimpangan antara melestarikan sejarah dan menghadapi realitas modern. Kontroversi pertukaran artefak, kematian tragis Filipov, dan diskriminasi terhadap atlet difabel menjadi cermin kompleksitas masalah yang harus diselesaikan. Publik menuntut akuntabilitas dan keadilan, sementara komunitas internasional mengamati dengan cermat bagaimana Bulgaria mengelola krisis berlapis ini.
Sumber Berita: Fakti.bg, BGNES, Euronews, BBC News, Berita Olahraga Bulgaria
Penulis: Maria Atanasova
Editor: Redaksi Berita Bulgaria
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





