Argentina vs Benin: Air Mata Messi dan Akhir Era 21 Tahun di Timnas Argentina

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Argentina vs Benin: Air Mata Messi dan Akhir Era 21 Tahun di Timnas Argentina

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 08 Oktober 2026 | Buenos Aires bergemuruh, tetapi juga basah oleh air mata. Estadio Monumental menjadi saksi momen paling emosional dalam sejarah sepak bola Argentina ketika Lionel Messi menjalani laga terakhirnya bersama La Albiceleste pada Rabu (7/10/2026) pagi WIB. Laga persahabatan melawan Benin bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan panggung perpisahan bagi pemain berusia 39 tahun yang telah mengenakan jersey putih-biru muda selama 21 tahun sejak 2005.

Argentina mengakhiri pertandingan dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Benin. Gol-gol kemenangan dicetak oleh Nicolas Otamendi, Nico Paz, dan Lionel Messi melalui titik penalti pada menit ke-71. Namun, skor akhir seolah menjadi catatan kaki dari sebuah narasi besar yang berlangsung sepanjang 90 menit penuh haru.

Tangisan yang Mengawali Perpisahan

Suasana emosional sudah terasa jauh sebelum kick-off. Dalam video yang beredar di media sosial, Messi terlihat menangis di dalam bus yang membawa para pemain Argentina menuju stadion. Ia menyeka air matanya dengan tisu sebelum melambaikan tangan kepada ribuan suporter yang memadati sepanjang jalan menuju Monumental.

Tangisan itu kembali pecah ketika lagu kebangsaan Argentina, Himno Nacional Argentino, dikumandangkan. Pelatih Lionel Scaloni pun terlihat berkaca-kaca dalam momen tersebut. Messi kemudian masuk ke lapangan dengan menggandeng ketiga putranya, Thiago, Mateo, dan Ciro, yang turut menyanyikan lagu kebangsaan bersama sang ayah. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat di dunia sepak bola modern.

Tribut Menit ke-10 untuk Sang Legenda

Momen paling ikonik terjadi ketika pertandingan memasuki menit ke-10. Wasit Fernando Vejar menghentikan laga selama satu menit untuk memberikan penghormatan kepada Messi, yang identik dengan nomor punggung 10. Para pemain dan suporter di stadion berdiri, bertepuk tangan, dan meneriakkan namanya. Bahkan para pemain Benin turut menghampiri Messi untuk menyalami dan memberikan respek.

Messi menyambut momen tersebut dengan senyum tipis dan lambaian tangan ke arah penonton. Sebuah jersey raksasa bernomor 10 bertuliskan “Gracias” terbentang di lapangan, menjadi simbol terima kasih seluruh bangsa Argentina atas dedikasi La Pulga.

Kontribusi Nyata di Laga Terakhir

Meski usianya tak lagi muda, Messi membuktikan kelasnya belum pudar. Ia tampil penuh selama 90 menit dan mengemas dua assist, masing-masing untuk gol Otamendi dan Nico Paz, sebelum menutup penampilannya dengan gol penalti. Dengan tambahan dua assist tersebut, total assist Messi bersama Argentina menjadi 70. Sementara gol penalti itu menambah koleksi golnya menjadi 126 sepanjang karier bersama La Albiceleste, dengan rincian 71 gol di laga kompetitif dan 55 gol di partai persahabatan.

Pelatih Lionel Scaloni menurunkan formasi 4-3-3 dengan trisula lini depan yang diisi Messi, Julian Alvarez, dan Lautaro Martinez. Di lini tengah, Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, dan Alexis Mac Allister mengendalikan permainan. Argentina mendominasi penguasaan bola hingga 64,4 persen sepanjang paruh pertama, meski Benin sempat memberikan perlawanan melalui serangan balik Junior Olaitan pada menit ke-19.

Rahasia Kebugaran di Usia 39 Tahun

Penampilan Messi di usia 39 tahun bukanlah kebetulan. Ia dikenal sangat disiplin dalam menjaga kondisi fisik. Sejak 2014, Messi mengubah pola makannya dengan bantuan ahli nutrisi Giuliano Poser. Ia menghilangkan makanan olahan dan menggantinya dengan makanan kaya vitamin, sereal, sayuran, ikan, dan minyak zaitun. Messi juga sepenuhnya menjauhi minuman bersoda dan menggantinya dengan yerba mate, minuman khas Amerika Selatan yang mengandung kafein alami tanpa gula berlebih.

Selain itu, ia rutin menjalani berbagai teknik recovery seperti yoga, pendinginan kardio, rehidrasi terus-menerus, dan mandi es, terutama selama periode stres yang meningkat. Kombinasi disiplin ini yang membuatnya tetap mampu bersaing di level tertinggi meski usia tak lagi muda.

Kontras dengan Akhir Karier Cristiano Ronaldo

Perpisahan Messi dengan Timnas Argentina menjadi kontras menarik jika dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo di Portugal. Keduanya telah menjadi rival abadi sejak menempati posisi pertama dan kedua dalam voting Ballon d’Or 2008. Selama lebih dari satu dekade, mereka bersaing ketat dalam hal gelar, gol, dan rekor, memicu perdebatan abadi tentang siapa yang terbaik sepanjang masa.

Namun, akhir karier internasional keduanya berjalan dengan cara yang sangat berbeda. Messi mendapatkan penghormatan luar biasa dari 85 ribu penonton di Monumental, lengkap dengan pertunjukan drone, kembang api, dan momen perpisahan yang penuh haru. Sementara Ronaldo dilaporkan menghadapi situasi yang jauh lebih tidak nyaman bersama Portugal, tanpa perayaan sebesar yang diterima Messi.

Warisan yang Tak Terlupakan

Dengan tampil melawan Benin, Messi tercatat telah berlaga 208 kali untuk Argentina dalam 21 tahun karier internasionalnya. Ia meninggalkan warisan yang sulit ditandingi: gelar juara dunia, trofi Copa America, dan sederet rekor yang mungkin tidak akan terpecahkan dalam waktu dekat.

Laga perpisahan ini bukan hanya tentang kemenangan 3-0 atau statistik gol dan assist. Ini tentang seorang anak yang bermimpi mengenakan jersey Argentina, lalu mengubah mimpi itu menjadi kenyataan yang menginspirasi jutaan orang. Monumental mungkin akan kembali menggelar pertandingan besar, tetapi malam itu, stadion tersebut menjadi saksi bisu akhir dari sebuah era.

Sepak bola Argentina kini harus bersiap menghadapi era baru tanpa nomor 10 yang telah menjadi ikon selama dua dekade. Beban berat kini berada di pundak generasi berikutnya, seperti Nico Paz dan Julian Alvarez, untuk melanjutkan warisan yang telah ditinggalkan Messi. Namun untuk saat ini, seluruh dunia sepak bola hanya bisa mengucapkan satu kata: gracias, Leo.

Sumber Berita: SI FC, ESPN, Gazzetta dello Sport, Marca, detikSport, VIVA, Tirto.id

Penulis: Lucía Domínguez
Editor: Afif Farhan