Gayatri Putri News – 29 September 2026 | Kekecewaan mendalam menyelimuti sepak bola Turki setelah tim nasional mereka dihancurkan Italia dengan skor 1-4 dalam lanjutan UEFA Nations League 2026/2027 di Timsah Arena, Bursa. Kekalahan ini tidak sekadar menorehkan luka di papan skor, tetapi juga memicu gelombang kemarahan besar dari para suporter, tuntutan pengunduran diri, hingga rasa malu yang diakui secara terbuka oleh para pemain.
Ambruk di Babak Pertama
Sejak menit awal, tim asuhan Vincenzo Montella tampil tanpa daya di hadapan publik sendiri. Alessandro Bastoni membuka keunggulan Italia pada menit kesembilan, disusul gol cepat Davide Frattesi pada menit ke-22 dan Michael Kayode pada menit ke-27. Tiga gol dalam 27 menit pertama itu membuat kedudukan menjadi 0-3 dan praktis mengubur asa tuan rumah.
Para suporter yang memadati stadion langsung meluapkan ketidakpuasan. Koor siulan keras bergema sepanjang babak pertama, disertai teriakan tuntutan agar Montella mundur dari kursi pelatih. Tidak hanya sang pelatih, federasi sepak bola Turki (TFF) juga menjadi sasaran kemarahan. Teriakan “TFF, mundur!” menggema di tribun. Presiden TFF, Ibrahim Haciosmanoglu, dikabarkan meninggalkan stadion sebelum babak kedua dimulai.
Rasa Malu yang Diakui Para Pemain
Kapten timnas Turki, Merih Demiral, tidak menyembunyikan rasa malunya. Dalam wawancara usai laga, ia menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh rakyat Turki dan menyebut penampilan tersebut sebagai sesuatu yang tidak layak bagi timnya.
Senada dengan kapten, Zeki Celik menegaskan bahwa sehebat apa pun Italia, kekalahan 4-1 di kandang sendiri seharusnya tidak pernah terjadi. Ia berharap timnya dapat membalas dengan kemenangan pada dua pertandingan berikutnya demi membahagiakan kembali para pendukung.
Montella sendiri mengakui bahwa 30 menit pertama adalah periode yang harus segera dilupakan. Ia menilai bermain setiap tiga hari di level kompetisi ini menuntut konsentrasi dan pengalaman tertentu yang belum dimiliki skuadnya saat ini. Meski memahami kemarahan publik, pelatih asal Italia itu mengaku tidak menyangka reaksi akan sebesar itu setelah apa yang telah dicapai para pemainnya selama tiga tahun terakhir.
Kebangkitan Italia dan Debut Gemilang Kayode
Di sisi lain, Italia menunjukkan wajah yang sama sekali berbeda dibanding kekalahan 0-2 dari Belgia pada laga pembuka. Pelatih Roberto Mancini melakukan delapan perubahan susunan pemain, dan keputusan itu terbukti mendongkrak ketajaman lini serang Gli Azzurri.
Mancini mengungkapkan kepuasannya karena para pemain mampu tampil apik di lapangan yang berat akibat hujan lebat. Ia memuji trisula depan yang cair serta instruksi taktis untuk melebarkan permainan sekaligus menempati area sentral guna menciptakan keunggulan jumlah pemain.
Malam itu juga menjadi momen istimewa bagi Michael Kayode, yang mencetak gol pada penampilan pertamanya bersama tim nasional senior. Mancini menilai pemain muda itu tampil sangat baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda gugup meski menjalani debut di laga sebesar ini.
Sejarah Langka Esposito Bersaudara
Kemenangan Italia turut melahirkan catatan bersejarah bagi keluarga Esposito. Francesco Pio Esposito dan kakaknya, Sebastiano Esposito, menjadi pasangan kakak-beradik keempat yang tampil dalam pertandingan yang sama untuk Italia, setelah Filippo dan Simone Inzaghi (2000), Aldo dan Luigi Cevenini (1915), serta Giuseppe dan Felice Milano (1912-1913).
Pio Esposito mencetak gol keempat Italia melalui sundulan memanfaatkan bola pantul dari tembakan Sandro Tonali yang membentur tiang gawang. Ia mendedikasikan gol tersebut untuk neneknya yang sedang mengalami masa sulit. Momen emosional itu menjadi pelengkap sempurna bagi malam bersejarah keluarga mereka di panggung internasional.
Posisi Klasemen dan Laga Berikutnya
Berkat hasil ini, Italia naik ke peringkat ketiga Grup A dengan raihan tiga poin, sementara Turki terpuruk di dasar klasemen tanpa poin. Meski meraih kemenangan pertama, Mancini menegaskan perjalanan timnya masih panjang. Menurutnya, kemenangan ini sama nilainya dengan kekalahan dari Belgia dan tidak berarti apa-apa jika para pemain tidak menyadari kemampuan terbaik mereka.
Italia kini bersiap menghadapi ujian berat melawan Prancis yang berada di puncak klasemen Grup A, sementara Turki harus segera bangkit dari keterpurukan jika tidak ingin kiprahnya di Nations League berakhir dengan kekecewaan.
Debakel di Bursa menjadi pengingat keras bahwa sepak bola tidak hanya soal kualitas individu, tetapi juga mentalitas dan kesiapan menghadapi tekanan. Bagi Turki, luka ini menuntut refleksi menyeluruh dari federasi hingga ruang ganti. Bagi Italia, kemenangan ini menjadi fondasi penting, namun konsistensi tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






