Gayatri Putri News – 29 September 2026 | Krisis performa timnas Tunisia semakin dalam. Dalam laga kedua Grup 8 kualifikasi Piala Afrika 2027, Tunisia hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Botswana di Stadion Hammadi Agrebi, Rades, Senin malam. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi tuan rumah yang tampil di hadapan pendukung sendiri, sekaligus memperpanjang pencarian kemenangan pertama di bawah pelatih kepala baru, Mouine Chaabani.
Kegagalan Tunisia mengamankan tiga poin memicu reaksi keras dari berbagai pihak, terutama komentator olahraga Tunisia, Issam Chaouali, yang melontarkan kritik pedas usai pertandingan. Kemarahan publik sepak bola Tunisia pun kian memuncak karena ini merupakan hasil imbang kedua secara beruntun, setelah sebelumnya ditahan Uganda 1-1 pada laga pembuka.
Jalannya Pertandingan: Keunggulan yang Gagal Dipertahankan
Botswana tampil mengejutkan sejak awal laga. Pada menit ke-38, Thatayaone Kgamanyane membuka keunggulan memanfaatkan kesalahan lini pertahanan Tunisia. Tuan rumah baru bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-44 melalui sundulan Hazem Mastouri yang menyambut umpan silang di dalam kotak penalti. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Tunisia langsung mengambil inisiatif. Hazem Mastouri kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-49, membawa Tunisia berbalik unggul 2-1. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama. Botswana terus menekan dan akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-60 lewat aksi Lebogang Ditsele. Hingga peluit panjang dibunyikan, Tunisia gagal mencetak gol tambahan meski memiliki beberapa peluang di menit-menit akhir.
Hasil Imbang yang Mengejutkan dan Posisi Klasemen
Dengan hasil ini, Tunisia mengoleksi dua poin dari dua laga, sama dengan Botswana yang sebelumnya juga bermain imbang 2-2 melawan Libya. Persaingan di Grup 8 menjadi terbuka lebar. Tunisia untuk sementara masih memuncaki grup sebelum laga Libya melawan Uganda berlangsung, Selasa.
- Tunisia: 2 poin dari 2 laga (imbang 1-1 vs Uganda, imbang 2-2 vs Botswana)
- Botswana: 2 poin dari 2 laga (imbang 2-2 vs Libya, imbang 2-2 vs Tunisia)
- Libya dan Uganda: baru memainkan satu laga
Hasil ini tentu mencoreng tradisi Tunisia yang selalu lolos ke putaran final AFCON dalam 17 edisi terakhir. Tekanan kini semakin berat bagi Mouine Chaabani, yang menjadi pelatih permanen keempat dalam satu tahun kalender.
Kritik Pedas Issam Chaouali: “Bukan Sekadar Penenang”
Issam Chaouali tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Saat mengomentari pertandingan melalui beIN Sports, ia menyatakan bahwa para pemain saat ini tidak bisa dibandingkan dengan generasi sebelumnya seperti Mehdi Nafti, Nabil Taider, Adel Chedli, dan Chaouki Ben Saada. Ia menyerukan agar permainan yang dianggapnya sia-sia dengan sejarah sepak bola Tunisia dihentikan.
“Saya bukan ahli, tetapi setelah semua kegagalan ini, sekalipun kita menang hari ini, sebagian besar tim harus dilepas dan memilih nama-nama lain, kemudian kita bersabar dan berkorban. Pada akhirnya, jawabannya sudah jelas, keadaan tidak akan membaik,” ujar Chaouali. Ia mengibaratkan kondisi saat ini seperti “dosis oksigen ringan, yang akan diikuti oleh krisis pernapasan besar.”
Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan Tunisia adalah solusi mendasar, bukan sekadar penawar sementara. Chaouali juga mengkritik motivasi sebagian pemain yang dianggap hanya mencari tambahan gelar internasional untuk memperkuat riwayat hidup dan peluang profesional mereka. Menurutnya, level timnas saat ini terlalu mudah ditembus, sehingga setiap orang Tunisia yang melihat penampilan lemah tersebut merasa bisa bergabung dengan timnas, terlebih lagi Botswana yang berada di peringkat ke-150 dunia.
Kritik Serupa untuk Sebastian Tounekti
Kekecewaan terhadap performa Tunisia sebenarnya sudah muncul sejak laga pertama melawan Uganda. Winger Celtic, Sebastian Tounekti, menjadi sasaran kritik tajam penggemar setelah tampil kurang maksimal di posisi sayap kiri pada debut Moin Chaabani sebagai pelatih. Banyak penggemar di media sosial menyebutnya tidak efektif dan menyarankan perombakan skuad, termasuk melepaskan Tounekti.
Menanggapi kritik tersebut, Tounekti mengakui bahwa proses adaptasi dengan pelatih baru memerlukan waktu. Ia menekankan pentingnya mentalitas menang saat bermain di kandang dan kerja sama tim. Namun, hasil imbang melawan Botswana menunjukkan bahwa masalah Tunisia tidak hanya pada satu pemain, melainkan pada fondasi tim secara keseluruhan.
Kompetisi Lain: DR Kongo Sempurna
Di sisi lain, kualifikasi Piala Afrika 2027 matchday kedua juga mencatat hasil menarik dari tim lain. DR Kongo mempertahankan rekor sempurna setelah mengalahkan Zimbabwe 2-1 di Harare. Yoane Wissa menjadi bintang dengan satu gol dan satu assist, sementara Samuel Moutoussamy menambah gol kedua. Zimbabwe hanya mampu memperkecil ketertinggalan melalui Marshall Munetsi pada menit ke-90+3. Kemenangan ini membuat DR Kongo memimpin Grup E dengan enam poin dari dua laga.
Sementara itu, di Grup F, Burkina Faso meraih tiga poin setelah menang tipis 1-0 atas Republik Afrika Tengah. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa persaingan menuju putaran final Piala Afrika 2027 semakin ketat, sementara Tunisia justru tertinggal dalam perburuan tiket.
Tekanan Besar Menuju Laga Berikutnya
Dengan dua poin dari dua pertandingan, Tunisia wajib segera bangkit jika ingin mempertahankan tradisi lolos ke AFCON. Laga-laga berikutnya akan menjadi ujian berat bagi Mouine Chaabani dan para pemainnya. Dukungan suporter yang mulai goyah, kritik tajam dari media, serta tuntutan akan solusi mendasar menjadi beban yang harus dijawab di lapangan.
Jika tidak ada perbaikan signifikan, bukan tidak mungkin mimpi Tunisia untuk tampil di Piala Afrika 2027 akan berakhir lebih cepat dari yang dibayangkan. Kini, semua mata tertuju pada langkah apa yang akan diambil federasi dan tim pelatih untuk menyelamatkan kampanye kualifikasi yang berjalan di atas jalur yang salah.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






