Gayatri Putri News – 12 September 2026 | Aksi kekerasan kembali mengguncang tanah Papua. Tiga orang Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya gugur setelah menjadi sasaran penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, Papua Pegunungan, pada Rabu, 9 September 2026. Peristiwa tragis ini terjadi saat rombongan yang berjumlah 11 orang tengah menunaikan tugas kedinasan untuk mendukung program cetak sawah dan distribusi bantuan pangan bagi masyarakat setempat.
Para korban yang gugur dalam insiden tersebut diidentifikasi sebagai Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik. Kepergian mereka meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah satu korban, Willi Mbuik, diketahui merupakan perantau asal Nusa Tenggara Timur yang dikenal sebagai sosok berdedikasi tinggi dalam pengabdiannya di wilayah Papua.
Pengejaran Intensif Satgas Operasi Damai Cartenz
Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz 2026 bergerak cepat merespons serangan tersebut. Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan keterangan saksi korban yang selamat, pihak kepolisian telah mengantongi identitas serta ciri-ciri dari delapan orang yang diduga kuat sebagai pelaku penembakan. Kombes Pol Yusuf Sutejo, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, memastikan bahwa upaya pengejaran terus dilakukan dengan memperkuat personel di lapangan.
Hasil investigasi di lokasi kejadian mengungkap bukti-bukti krusial yang menunjukkan kebrutalan kelompok tersebut. Tim penyidik menemukan tiga selongsong peluru dengan dua kaliber berbeda:
- Dua selongsong kaliber 5,56 mm yang identik dengan senjata api laras panjang.
- Satu selongsong kaliber 9 mm yang mengindikasikan penggunaan senjata api laras pendek.
Keterangan saksi mata menyebutkan bahwa setidaknya dua pelaku terlihat menenteng senjata api laras panjang saat melakukan penghadangan di jalanan Muliama. Untuk mempersempit ruang gerak para pelaku, aparat telah mengerahkan sekitar 50 personel tambahan dari wilayah Timika dan Lanny Jaya guna menyisir area sekitar lokasi penembakan.
Negara di Bawah Bayang-Bayang Teror
Serangan terhadap ASN ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menciptakan rasa takut di tengah masyarakat. Dengan menargetkan mereka yang bertugas memberikan pelayanan publik, kelompok bersenjata berusaha melumpuhkan fungsi negara di wilayah tersebut. Jika para abdi negara seperti guru, tenaga medis, dan penyuluh pertanian merasa terancam, maka akses masyarakat terhadap hak-hak dasar akan terputus.
Dimensi psikologis dalam serangan ini pun cukup mengguncang. Terdapat laporan bahwa perangkat komunikasi milik salah satu korban digunakan oleh pelaku untuk menghubungi keluarga korban melalui panggilan video. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk teror psikologis yang keji terhadap keluarga yang sedang berduka.
Menanggapi situasi ini, Komisi I DPR RI menyatakan kecaman keras dan mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi keamanan secara menyeluruh. Negara dituntut untuk hadir memberikan perlindungan maksimal bagi aparatur sipil yang bertugas di daerah rawan, termasuk melalui pemetaan ancaman yang lebih presisi, pengamanan yang proporsional, serta mekanisme evakuasi darurat yang lebih responsif.
Kejadian di Distrik Muliama menjadi pengingat bahwa penanganan konflik di Papua tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan pengejaran bersenjata. Diperlukan strategi komprehensif yang mampu menjamin keberlanjutan pelayanan negara, sehingga rasa takut tidak menjadi senjata bagi kelompok kriminal untuk menguasai wilayah tanpa harus menguasainya secara formal. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku penembakan ASN harus segera dilakukan agar keadilan bagi para korban dapat terpenuhi dan kepercayaan publik terhadap kehadiran negara di Papua tetap terjaga.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





