Gayatri Putri News – 27 September 2026 | Pagi buta di Denpasar, Bali, pada Minggu, 27 September 2026, kembali diwarnai seruan azan Subuh yang menggema dari masjid dan musala. Umat Muslim di ibu kota Provinsi Bali itu memiliki panduan resmi waktu salat yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Berdasarkan jadwal tersebut, waktu Subuh di Denpasar dan sekitarnya dimulai sekitar pukul 05.30 WITA, menandai terbitnya fajar shadiq yang menjadi penanda masuknya waktu salat Subuh.
Jadwal salat lima waktu untuk wilayah Denpasar, Badung, dan Gianyar pada hari itu menjadi acuan penting bagi masyarakat agar dapat menunaikan ibadah tepat waktu, mulai dari imsak hingga isya. Bagi umat Muslim, ketepatan waktu bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari kekhusyukan dan kepatuhan terhadap syariat, sebagaimana perintah salat yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 43.
Mengapa Azan Subuh Dikumandangkan Dua Kali?
Salah satu tradisi yang menarik perhatian adalah praktik azan Subuh yang dikumandangkan dua kali. Tradisi ini bukan hal baru, melainkan memiliki dasar historis sejak masa Rasulullah SAW. Pada zaman itu, terdapat dua muazin yang bertugas, yakni Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum. Azan pertama dikumandangkan sebelum terbit fajar sebagai tanda bagi umat untuk bersiap, sementara azan kedua dikumandangkan saat fajar shadiq telah terbit sebagai penanda resmi masuknya waktu salat Subuh.
Jeda antara azan pertama dan kedua biasanya berkisar antara 30 hingga 45 menit. Praktik ini disunnahkan dan bertujuan memberikan kesempatan bagi umat untuk makan, minum, serta bersiap sebelum menunaikan salat Subuh. Dengan demikian, umat tidak terburu-buru dan dapat melaksanakan ibadah dengan lebih tenang dan khusyuk.
Memahami jadwal salat dan tradisi azan dua kali ini penting agar ibadah berjalan sesuai syariat. Umat dianjurkan untuk selalu mengikuti jadwal resmi yang dikeluarkan instansi terkait dan tidak mengabaikan waktu salat demi menjaga konsistensi serta kualitas ibadah. Selain aspek spiritual, menjaga kebersihan diri dan sikap sosial yang baik juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan beragama, sebagaimana pesan yang kerap disampaikan para ulama agar umat menghindari sikap mengadu domba yang dapat merusak tatanan sosial.
Semangat Subuh di Sidoarjo: Sedekah untuk Pekerja Jalanan
Sementara itu, di Sidoarjo, Jawa Timur, momentum Subuh dimanfaatkan jajaran Satlantas Polresta Sidoarjo untuk menggelar kegiatan sosial. Personel kepolisian membagikan sedekah Subuh kepada masyarakat yang telah beraktivitas sejak dini hari. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 05.00 WIB itu berlangsung di Jalan Raya Cemengkalang dan Jalan Raya Pahlawan.
Sasaran kegiatan meliputi petugas kebersihan jalan, juru parkir, pedagang asongan, masyarakat kurang mampu, hingga pengguna jalan yang hendak memulai aktivitas pagi. Kasat Lantas Polresta Sidoarjo Kompol Yudhi Anugrah Putra menyatakan bahwa Sedekah Subuh merupakan bentuk kepedulian jajaran Satlantas sekaligus upaya membangun kedekatan antara polisi dan warga.
- Melibatkan Padal Satlantas dan personel piket Unit Gakkum Satlantas Polresta Sidoarjo.
- Menyasar pekerja jalanan dan masyarakat prasejahtera.
- Dirangkai dengan doa untuk keselamatan pengguna jalan.
Menurut Yudhi, kegiatan sederhana ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian sosial di kalangan anggota kepolisian. Ia juga menegaskan bahwa kedekatan dengan masyarakat merupakan bagian penting dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
Fenomena Pasar Kue Subuh dan Jajanan Viral
Di Jakarta Pusat, istilah subuh juga melekat pada sebuah pasar legendaris, yakni Pasar Kue Subuh Senen. Meski namanya mengandung kata subuh, aktivitas jual beli di pasar ini justru sudah menggeliat sejak sore hari. Pada Rabu, 16 September 2026, sekitar pukul 18.00 WIB, keramaian terlihat memenuhi lorong-lorong pasar yang menjual aneka kue tradisional seperti risol, lemper, kue cucur, dan gemblong.
Menariknya, tren jajanan kekinian turut meramaikan pasar ini. Dubai chewy cookies, dessert yang viral di media sosial, kini dijajakan berdampingan dengan kue tradisional. Di lapak Laris Manis Bakery, kue dengan tekstur kenyal, isian krim pistachio, dan lapisan kataifi renyah itu dijual seharga Rp18 ribu per potong, jauh lebih murah dibandingkan versi kafe yang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.
Seorang mahasiswa berusia 22 tahun, Arif, mengaku mengetahui keberadaan Pasar Kue Subuh Senen dari media sosial TikTok. Ia datang khusus untuk memburu Dubai Chewy Cookies di antara banyak jajanan tradisional. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar tradisional mampu beradaptasi dengan tren kuliner tanpa kehilangan identitasnya.
Dari jadwal salat Subuh di Denpasar, tradisi azan dua kali, aksi sedekah Subuh di Sidoarjo, hingga denyut Pasar Kue Subuh Senen, makna subuh ternyata jauh lebih luas dari sekadar penanda waktu. Subuh menjadi momentum spiritual, sosial, dan budaya yang menyatukan umat dalam ibadah, kepedulian, dan aktivitas ekonomi. Menjaga konsistensi salat tepat waktu, meneladani semangat berbagi, serta merawat tradisi yang selaras dengan syariat menjadi kunci untuk meraih keberkahan di setiap fajar yang terbit.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





