Rupiah Tertekan di Tengah Eskalasi Geopolitik dan Penantian Kebijakan The Fed

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 11 September 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026), mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.547 per dolar AS. Tren negatif ini diprediksi masih akan berlanjut dengan pergerakan fluktuatif di rentang Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS pada perdagangan Jumat (11/9/2026).

Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Tekanan terhadap mata uang domestik ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang cukup kompleks. Dari sisi eksternal, para pelaku pasar saat ini tengah berada dalam posisi wait-and-see menanti rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat, yaitu Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI). Kedua indikator ini menjadi acuan utama bagi pasar dalam memprediksi arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed saat ini diperkirakan mencapai 60 persen, yang memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) ke level 4,84 persen, sehingga memikat investor untuk kembali memegang aset berdenominasi dolar.

Selain itu, eskalasi ketegangan geopolitik di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran turut memperkeruh situasi. Konfrontasi bersenjata yang memanas kembali pasca-serangan terhadap armada perkapalan telah mendongkrak harga minyak dunia hingga menembus level US$100 per barel. Kondisi ini memicu kekhawatiran global mengenai inflasi dan stabilitas biaya energi.

Dampak pada Sektor Riil dan Korporasi

Dampak pelemahan nilai tukar ini tidak hanya dirasakan di pasar keuangan, tetapi juga mulai merembes ke sektor riil. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri perdagangan ternak. Importir sapi yang melakukan transaksi dalam dolar AS kini menghadapi biaya yang jauh lebih tinggi akibat depresiasi rupiah. Meskipun volume impor ternak ke Indonesia sempat melonjak mencapai 58.966 ekor pada Agustus lalu, dinamika kurs mata uang tetap menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha feedlot yang harus menyesuaikan margin keuntungan di tengah harga beli yang semakin mahal.

Di sisi lain, sektor korporasi besar Indonesia tetap berupaya melakukan ekspansi internasional di tengah volatilitas ini. PT Amman Mineral Internasional, misalnya, dilaporkan tengah menjajaki rencana penawaran saham perdana (IPO) di Hong Kong dengan target perolehan dana minimal US$1 miliar. Langkah ini diambil sebagai strategi diversifikasi pendanaan di tengah upaya perusahaan untuk terus memperkuat posisi pasar globalnya.

Tabel Proyeksi dan Kondisi Pasar

Indikator Posisi
Kurs Rupiah (10/9) Rp17.547/USD
Prediksi Rentang (11/9) Rp17.540 – Rp17.590/USD
Sentimen Utama Kebijakan The Fed & Ketegangan Selat Hormuz

Secara keseluruhan, kondisi ekonomi domestik saat ini sedang diuji oleh beban fiskal yang meningkat akibat potensi subsidi energi yang membengkak seiring tingginya harga minyak dunia. Stabilitas fiskal akan menjadi kunci utama dalam meredam volatilitas nilai tukar rupiah. Pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati dalam mengambil posisi baru sembari memantau perkembangan kebijakan moneter global dan stabilitas keamanan di Timur Tengah yang sewaktu-waktu dapat mengubah arah pergerakan pasar keuangan secara tajam.