Revolusi Kartografi: PBB Sahkan Peta Dunia Baru untuk Akhiri Distorsi Global

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 11 September 2026 | Dunia internasional kini tengah memasuki babak baru dalam cara kita memandang bumi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi telah mengadopsi resolusi nomor A/RES/80/306 yang bertajuk Correct the Map, sebuah langkah monumental yang mendorong komunitas global untuk meninggalkan proyeksi peta konvensional yang telah digunakan selama berabad-abad. Keputusan yang diambil melalui pemungutan suara pada 4 September 2026 ini menandai pergeseran paradigma dari peta Mercator menuju proyeksi Equal Earth yang dinilai jauh lebih akurat.

Mengapa Peta Mercator Perlu Ditinggalkan?

Selama lebih dari 450 tahun, dunia didominasi oleh peta yang dibuat oleh kartografer Gerardus Mercator pada tahun 1569. Peta ini dirancang khusus untuk kebutuhan navigasi maritim, di mana garis lurus pada peta menyesuaikan dengan arah kompas. Namun, demi mempertahankan akurasi arah tersebut, Mercator harus mengorbankan proporsi luas wilayah. Semakin jauh suatu daratan dari garis khatulistiwa, maka ukurannya akan tampak semakin besar di atas peta.

Dampaknya, terjadi distorsi visual yang ekstrem. Sebagai contoh, Greenland sering digambarkan hampir menyamai luas Benua Afrika, padahal realitas geografisnya Afrika memiliki luas 14 kali lipat lebih besar. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut oleh Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, sebagai masalah keadilan kognitif, di mana wilayah di belahan bumi utara terlihat mendominasi secara visual dibandingkan wilayah khatulistiwa dan selatan.

Era Baru dengan Proyeksi Equal Earth

Resolusi yang diinisiasi oleh Togo dan didukung penuh oleh Uni Afrika ini bertujuan untuk memperbaiki distorsi tersebut. Sebanyak 164 negara memberikan suara dukungan, menjadikannya sebuah kesepakatan global yang kuat. PBB kini merekomendasikan penggunaan proyeksi Equal Earth, yang mampu merepresentasikan luas relatif antarnegara dengan jauh lebih proporsional tanpa mengabaikan bentuk daratan secara ekstrem.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait perubahan standar peta dunia ini:

  • Koreksi Proporsi: Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan kini akan ditampilkan dalam ukuran yang sebenarnya.
  • Standarisasi Global: Pemerintah, institusi pendidikan, hingga perusahaan teknologi didorong untuk beralih menggunakan standar Equal Earth.
  • Objektivitas Visual: Mengurangi bias stereotip barat dalam representasi geografis global.

Tantangan dan Dinamika Politik

Transisi menuju peta dunia baru ini tidak lepas dari dinamika politik. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut, dengan alasan bahwa langkah ini dianggap sebagai bagian dari proyek ideologi radikal. Di sisi lain, implementasi peta ini juga menuntut ketelitian tinggi, terutama terkait sengketa wilayah. Sebagai contoh, kartografer Tom Patterson baru-baru ini melakukan penyesuaian pada peta Equal Earth setelah menerima permintaan dari pemerintah Jepang terkait status wilayah utara yang diklaim oleh Jepang namun dikuasai oleh Rusia.

Di tengah upaya standarisasi ini, kedaulatan negara tetap menjadi isu yang sensitif. Ketegangan sempat mencuat ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengunggah peta yang memasukkan negara lain seperti Islandia sebagai bagian dari wilayah AS. Hal ini memicu kecaman keras dari Perdana Menteri Islandia, Kristrun Frostadottir, yang menegaskan bahwa kedaulatan negara tidak boleh dijadikan bahan gurauan di tengah upaya dunia untuk menciptakan keadilan representasi melalui peta yang lebih akurat.

Secara keseluruhan, adopsi peta dunia baru melalui resolusi PBB bukan sekadar perubahan teknis dalam dunia kartografi. Ini adalah upaya kolektif untuk menyajikan realitas dunia yang lebih adil dan objektif. Dengan meminimalisir distorsi yang telah mengakar selama ratusan tahun, diharapkan masyarakat dunia dapat memiliki pemahaman yang lebih jujur mengenai skala, potensi, dan arti penting setiap wilayah di permukaan bumi.