Gayatri Putri News – 27 September 2026 | Prancis menjadi pusat perhatian dunia dalam sepekan terakhir. Mulai dari kunjungan kenegaraan Paus Leo XIV yang membawa pesan moral tentang kecerdasan buatan, hingga debut Zinedine Zidane sebagai pelatih tim nasional sepak bola yang menuai kritik meski berbuah kemenangan. Dua peristiwa besar ini menggambarkan wajah Prancis yang tengah bergulat dengan isu global sekaligus ekspektasi publik di dalam negeri.
Paus Leo XIV Peringatkan Bahaya AI di Istana Élysée
Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Leo XIV, memulai kunjungan empat hari di Prancis pada Jumat (25/9/2026). Lawatan ini menjadi kunjungan resmi kenegaraan pertama seorang paus ke Prancis dalam 18 tahun terakhir. Di hadapan Presiden Emmanuel Macron dan ratusan pejabat di Istana Élysée, Paris, Paus menyampaikan peringatan keras mengenai perkembangan kecerdasan buatan atau AI.
Ia menegaskan bahwa teknologi AI harus tetap melayani manusia dan tidak boleh menjadi alat dominasi maupun ketidakadilan. Menurutnya, masyarakat modern kini menghadapi serbuan teknologi yang mengendalikan rutinitas harian, sehingga publik memerlukan bekal pertimbangan moral agar tidak tergilas oleh kemajuan tersebut.
“Jika kita ingin menghindari merosotnya kemanusiaan di tengah surga mesin yang menyerbu dan mengondisikan kehidupan harian kita, ada kebutuhan mendesak untuk menumbuhkan pertimbangan etis,” ujar Paus Leo XIV.
Paus juga menyoroti perlakuan terhadap martabat manusia di era AI. Ia menilai sistem mesin kini diberi label cerdas, sementara manusia justru rentan disingkirkan jika dianggap tidak lagi produktif dan efisien. Isu AI telah menjadi fokus perhatiannya sejak awal masa jabatan pada 2025 melalui ensiklik “Magnificent Humanity”. Ia pun mengapresiasi dialog dengan para petinggi teknologi yang mulai fokus memastikan AI tidak merusak peradaban manusia.
Kritik atas Komersialisasi Sains dan Bantuan Bunuh Diri
Selain membahas AI, Paus Leo XIV menyoroti bahaya komersialisasi dalam bidang bioteknologi dan sains medis. Ia mengkritik tren riset yang semata-mata mengejar keuntungan finansial, seperti manipulasi genetik, sewa rahim, hingga perdagangan organ tubuh manusia.
Paus turut menyinggung undang-undang baru di Prancis yang melegalkan bantuan bunuh diri bagi pasien penyakit parah. Ia menegaskan kembali pandangan gereja bahwa hak hidup manusia wajib dilindungi sejak dalam kandungan hingga kematian alami.
“Ketika sains dan teknologi tidak dipandu oleh hati nurani, hal itu memang bisa menawarkan solusi instan yang seolah meringankan penderitaan manusia, tetapi juga dapat menyesatkan mereka,” tuturnya.
Agenda kunjungan Paus selama empat hari mencakup doa di Katedral Notre-Dame, misa besar di Paris dan Lourdes, pertemuan dengan korban pelecehan klerus, serta pidato perdamaian di Metz. Rangkaian kegiatan ini menegaskan posisi Vatikan sebagai kekuatan moral yang aktif menyuarakan isu-isu kontemporer, termasuk di negara sekuler seperti Prancis.
Debut Zidane: Kemenangan yang Tak Meyakinkan
Di lapangan hijau, Prancis mengawali era baru bersama Zinedine Zidane. Legenda hidup sepak bola Prancis itu akhirnya menakhodai timnas setelah lama dinanti. Debutnya berlangsung di Kocaeli Stadium, Turki, pada matchday pertama Grup 1 UEFA Nations League A, Sabtu (26/9/2026) dini hari WIB.
Prancis menang 1-0 atas Turki berkat gol Kylian Mbappe pada menit ke-54. Namun, kemenangan itu tidak membuat publik puas. Turki yang secara kualitas di bawah Prancis ternyata mampu memberikan perlawanan sengit. Beberapa kali pertahanan Prancis kerepotan menghadapi serangan Turki yang melepaskan 10 tembakan di dalam kotak penalti.
Media-media Eropa pun menyoroti penampilan Les Bleus. Surat kabar Spanyol AS memberi judul “Awal yang Sulit bagi Zidane”, sementara Sport menilai laga di Stadion Kocaeli tidak mudah bagi Prancis, terutama setelah keluarnya kapten timnas yang berdampak pada kondisi mental para pemain. Di Jerman, Bild menyebut debut itu sebagai “awal yang penuh emosi” dan menegaskan Prancis kesulitan cukup lama di Turki.
Zidane sendiri mengakui timnya belum tampil sempurna. “Kami bermain lebih baik ketika menguasai bola. Kami harus memperbaiki pressing kami saat tidak menguasai bola dan lebih siap menghadapi momen-momen seperti ini. Turki bermain sangat baik hari ini, tapi saya rasa kami pantas menang,” ujarnya seperti dikutip situs resmi UEFA.
Cherki Puji Permainan Cair Prancis
Gelandang Manchester City, Rayan Cherki, memberikan pembelaan terhadap performa timnya. Ia menegaskan bahwa kondisi lapangan yang buruk menjadi salah satu faktor sulitnya Prancis mengembangkan permainan.
“Kami tahu ini akan menjadi pertandingan yang cukup rumit, kami tahu kualitas Turki. Kondisi lapangan tidak membantu kami, lapangan yang sangat sulit. Tetapi sejujurnya kami sangat senang dengan permainan yang kami tampilkan,” kata Cherki kepada wartawan.
Cherki mengungkapkan bahwa para pemain hanya menjalani tiga sesi latihan sebelum laga, namun prinsip taktik Zidane sudah mulai terlihat. Ia menyebut sang pelatih ingin tim menguasai bola secara langsung dan menjaga bola terus bergerak.
“Kami sendiri cukup terkejut, sejujurnya. Ini sebuah kesenangan murni. Kami tahu masa lalunya sebagai pemain dan pelatih, kami ingin memulai petualangan baru ini dengan kemenangan. Kemenangan ini untuk dia,” tambahnya.
Namun, kemenangan itu dibayangi cedera Kylian Mbappe. Penyerang andalan Prancis tersebut mengalami masalah pada lutut setelah mencetak gol, sehingga harus absen selama sisa periode jeda internasional. Kondisi ini menjadi kekhawatiran tersendiri menjelang laga melawan Belgia pada matchday kedua, Selasa (29/9) dini hari WIB.
Prancis dalam Dua Cermin Berbeda
Dalam waktu yang hampir bersamaan, Prancis menampilkan dua wajah yang kontras. Di panggung diplomasi dan moral, negara ini menjadi tuan rumah bagi pesan kemanusiaan Paus Leo XIV yang mengingatkan dunia akan bahaya dehumanisasi teknologi. Sementara di lapangan sepak bola, Prancis harus menerima kenyataan bahwa ekspektasi tinggi terhadap Zidane belum sepenuhnya terbayar dalam laga perdana.
Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa Prancis tetap menjadi panggung penting bagi isu-isu global, baik dalam ranah etika teknologi maupun sportivitas. Paus mengingatkan bahwa kemajuan harus tetap berpihak pada manusia, sementara Zidane diingatkan bahwa warisan besarnya sebagai pemain tidak otomatis menjamin kesuksesan sebagai pelatih. Publik Prancis, dan dunia, akan terus menyaksikan bagaimana kedua narasi besar ini berkembang dalam pekan-pekan mendatang.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






