Krisis Kualitas Udara Global: Dari Kabut Asap Mematikan di Kalimantan hingga Tantangan Kebijakan Lingkungan

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Krisis Kualitas Udara Global: Dari Kabut Asap Mematikan di Kalimantan hingga Tantangan Kebijakan Lingkungan

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 16 September 2026 | Dunia saat ini tengah menghadapi tantangan serius terkait kualitas udara yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, situasi darurat tengah terjadi akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung usai. Selama dua bulan terakhir, masyarakat harus bertahan hidup di bawah kepungan asap tebal dengan tingkat polusi yang mencapai angka mengkhawatirkan.

Darurat Kesehatan di Kalimantan Barat

Data dari Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Hingga 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 165.727 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Barat. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menekankan bahwa pemerintah harus segera mengubah orientasi penanganan karhutla. Fokus tidak boleh lagi hanya terpaku pada pemadaman api di lapangan, melainkan harus bergeser pada perlindungan kesehatan warga yang terpapar asap setiap hari.

Kondisi di Kota Pontianak menjadi bukti nyata betapa parahnya situasi ini. Berdasarkan pemantauan indeks kualitas udara (AQI), wilayah tersebut sempat menyentuh level 1.000 hingga 2.000 AQI US, yang dikategorikan sebagai level sangat berbahaya bagi manusia. Kelompok rentan seperti bayi dan balita menjadi korban paling terdampak, dengan ratusan kasus ISPA tercatat di berbagai kabupaten seperti Kubu Raya, Landak, dan Sambas.

Perbandingan Global dan Tantangan Kebijakan

Di belahan dunia lain, tantangan kualitas udara dihadapi dengan pendekatan yang berbeda. Singapura, misalnya, tengah berjuang melawan polusi lintas batas yang terperangkap di wilayah pusat kota. Fenomena ini diperparah oleh urbanisasi tinggi dan efek panas perkotaan yang memerangkap partikel polutan lebih dekat ke permukaan tanah, membuat indeks standar polusi (PSI) di wilayah tersebut konsisten lebih tinggi dibandingkan kawasan lainnya.

Sementara itu, di India, isu polusi udara menjadi cermin mengenai efektivitas pengelolaan dana lingkungan. Sebuah laporan audit mengungkapkan bahwa hampir 60 persen dari dana kompensasi lingkungan yang dikumpulkan pemerintah Delhi belum digunakan. Padahal, dana tersebut sangat krusial untuk membiayai langkah-langkah mitigasi jangka panjang guna menghadapi musim dingin yang biasanya memperburuk kualitas udara di ibu kota negara tersebut.

Berbeda dengan wilayah yang terpapar polusi, Mumbai justru mencatatkan kondisi udara yang relatif bersih dengan AQI di level ‘Baik’ yakni 39. Perbedaan drastis ini menunjukkan betapa krusialnya faktor cuaca dan kebijakan tata kota dalam menjaga kualitas udara agar tetap layak hirup bagi jutaan penduduknya.

Langkah Ke Depan

Kondisi krisis udara di Kalimantan Barat menjadi pengingat keras bahwa polusi adalah ancaman nyata bagi kesehatan publik. Penanganan yang hanya bersifat administratif atau sekadar menghitung titik api sudah tidak lagi relevan. Pemerintah perlu mengintegrasikan akses layanan kesehatan yang lebih luas ke daerah-daerah terdampak serta memastikan bahwa anggaran lingkungan digunakan secara transparan dan tepat sasaran untuk mitigasi polusi.

Upaya mengatasi polusi udara memerlukan komitmen yang lebih dari sekadar respons instan. Tanpa strategi yang berfokus pada keselamatan manusia, dampak jangka panjang dari paparan udara tidak sehat ini akan membebani sistem kesehatan nasional dan menurunkan kualitas hidup generasi mendatang. Sinergi antara perlindungan lingkungan dan kebijakan kesehatan masyarakat menjadi kunci utama untuk keluar dari ancaman kualitas udara yang semakin tidak menentu di masa depan.