Kecelakaan Beruntun di Baku: Norris Murka, Serukan Ban untuk Colapinto

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Kecelakaan Beruntun di Baku: Norris Murka, Serukan Ban untuk Colapinto

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 27 September 2026 | Insiden kecelakaan beruntun yang mewarnai balapan Formula 1 Grand Prix Azerbaijan di Sirkuit Jalan Raya Baku, Sabtu (27/9/2026), meninggalkan luka mendalam bagi sejumlah pembalap. Puncaknya, juara dunia bertahan Lando Norris melontarkan kritik tajam usai tersingkir lebih awal dari balapan, menyerukan sanksi larangan tampil bagi pembalap yang dinilainya bertanggung jawab atas kekacauan tersebut.

Kemarahan Norris dipicu oleh manuver Franco Colapinto dari tim Alpine. Pada lap 36, saat balapan kembali bergulir setelah periode Safety Car, pembalap asal Argentina itu mengalami lock-up pada ban depan mobilnya, meluncur ke sisi dalam Tikungan 1, dan menghantam rekan setimnya sendiri, Pierre Gasly. Dampak tabrakan tersebut merembet ke McLaren milik Norris yang berada di sisi luar, membuat ketiga mobil tidak dapat melanjutkan balapan.

Norris mengakui performanya sepanjang balapan tidak optimal dan sempat mengalami kesulitan sebelum insiden terjadi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kesalahannya tidak menghapus fakta bahwa dirinya menjadi korban dari manuver yang dinilainya ceroboh.

“Saya memang lambat, tetapi pada akhirnya saya hanya sekadar ditabrak. Ada beberapa pembalap yang seharusnya tidak berada di Formula 1,” ujar Norris kepada Sky Sports.

Pembalap McLaren itu menuntut Federasi Otomotif Internasional (FIA) bersikap lebih tegas. Menurutnya, insiden yang terjadi saat restart balapan seperti itu layak mendapatkan sanksi larangan tampil minimal satu balapan, bukan sekadar penalti waktu.

Penalti untuk Colapinto

Steward memutuskan Colapinto bersalah dan menjatuhkan penalti waktu 10 detik. Karena ia tidak dapat menjalani hukuman tersebut akibat sudah tersingkir dari balapan, penalti dikonversi menjadi penurunan lima posisi di grid untuk balapan berikutnya. Colapinto sendiri mengakui kesalahannya dan menyampaikan permohonan maaf kepada tim, Gasly, serta Norris.

“Saya minta maaf kepada seluruh tim, bukan hanya kepada Pierre. Ini kesalahan besar. Kami kehilangan banyak posisi padahal kedua mobil berada di zona poin,” kata Colapinto.

Insiden Serupa di Kubu Racing Bulls

Kekacauan di Baku tidak hanya melibatkan Alpine dan McLaren. Di barisan belakang insiden Colapinto, dua pembalap Racing Bulls, Liam Lawson dan Arvid Lindblad, juga terlibat kontak yang merusak balapan keduanya. Lindblad terlambat mengerem dan menabrak Lawson, membuat mobil rekannya itu berputar.

Steward menyelidiki insiden tersebut, namun Lindblad lolos dari hukuman karena dinilai terdampak ruang gerak terbatas dan efek berantai dari kecelakaan di depannya. Keputusan itu membuat Lawson kebingungan, terutama karena mobilnya mengalami kerusakan serius berupa lubang pada lantai mobil yang menghancurkan peluangnya untuk bersaing.

“Saya tidak akan memprotes rekan setim sendiri, tetapi saya tidak mengerti keputusan itu. Saya ditabrak begitu keras hingga lantai mobil saya berlubang,” ujar Lawson. Lindblad sendiri berhasil finis ketujuh setelah memenangi duel ketat melawan Esteban Ocon, sementara Lawson harus puas finis di posisi ke-12.

Gelombang Serangan di Media Sosial

Pernyataan Norris yang menyinggung soal pembalap yang tidak layak berada di F1 memicu reaksi keras dari publik Argentina. Akun media sosial Norris dibanjiri komentar bernada menyerang, sebagian bahkan menyinggung isu politik seperti Kepulauan Falkland dan kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia.

Legenda sepak bola Sergio Aguero, yang dikenal sebagai pendukung Colapinto, turut ambil bagian dengan mengunggah GIF yang telah disukai puluhan ribu pengguna. Bahkan pejabat Kementerian Luar Negeri Argentina, Pablo Quirno, menyindir Norris melalui akun resmi pemerintahnya dengan mengungkit insiden tabrakan yang melibatkan Norris dan rekan setimnya di McLaren, Oscar Piastri, pada GP Kanada 2025.

Menanggapi banjir kebencian tersebut, tim Alpine mengeluarkan pernyataan resmi yang menyerukan dihentikannya ujaran kebencian dan pelecehan daring, tidak hanya terhadap pembalap mereka, tetapi juga kepada seluruh komunitas Formula 1, termasuk media dan tim pesaing.

Pelajaran dari Sirkuit Jalan Raya

Balapan di Baku kembali membuktikan reputasinya sebagai salah satu sirkuit paling menantang dan penuh risiko di kalender F1. Sempitnya tikungan, minimnya area run-off, serta tingginya kecepatan membuat setiap kesalahan kecil berpotensi berbuah bencana besar, terutama saat restart setelah Safety Car ketika para pembalap saling berdesakan memperebutkan posisi.

  • Penalti waktu 10 detik untuk Colapinto dikonversi menjadi penurunan lima posisi grid pada balapan berikutnya.
  • Lindblad lolos dari sanksi setelah steward menilai insiden dipicu kondisi di luar kendalinya.
  • Lawson mengalami kerusakan lantai mobil yang merusak peluangnya meraih poin.

Insiden di Baku meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi FIA untuk meninjau ulang standar penalti, terutama pada momen-momen krusial seperti restart balapan. Di sisi lain, sorotan kini tertuju pada bagaimana Norris dan Colapinto menyikapi tensi yang memanas, baik di lintasan maupun di luar lintasan, menjelang seri balapan berikutnya. Balapan di Azerbaijan tahun ini akan dikenang bukan hanya karena aksi di aspal, tetapi juga karena perdebatan sengit mengenai batas antara agresivitas dan kelalaian yang dapat membahayakan keselamatan para pembalap.