Evaluasi Kabinet Prabowo: Kinerja Jadi Penentu, Siapa Menteri yang Terancam?

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Evaluasi Kabinet Prabowo: Kinerja Jadi Penentu, Siapa Menteri yang Terancam?

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 10 September 2026 | Wacana perombakan atau reshuffle kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mencuat ke permukaan seiring dengan mendekatnya masa dua tahun kepemimpinan. Evaluasi ini dipandang sebagai momentum krusial bagi Presiden untuk menakar efektivitas kerja para menteri dalam mengemban amanat rakyat. Di tengah dinamika politik yang menghangat, kinerja menteri kini menjadi sorotan utama dibandingkan sekadar popularitas atau loyalitas politik semata.

Ukur Kinerja Melalui Mandat Pemerintahan

Direktur Eksekutif Indonesia Political Analysis Center (IPAC), Dahlan Wattihelu, menegaskan bahwa evaluasi kabinet seharusnya tidak didasarkan pada apakah seorang menteri terlalu sibuk dengan aktivitas politik atau wacana pemilihan umum 2029. Menurutnya, parameter utama yang harus digunakan Presiden adalah capaian target kerja dan dampak kebijakan bagi masyarakat.

Dahlan memetakan menteri ke dalam tiga kategori utama untuk memudahkan evaluasi:

  • Menteri yang aktif berpolitik namun tetap berhasil mencapai target kerja.
  • Menteri yang bekerja, namun progres pencapaiannya dinilai lambat.
  • Menteri yang lebih sibuk membangun citra politik dibanding menjalankan program kementeriannya secara optimal.

Presiden Prabowo didorong untuk bertindak objektif dalam melihat menteri mana yang kebijakannya tidak sejalan dengan prioritas nasional. Loyalitas seorang menteri, menurut pandangan ini, harus diukur dari kemampuannya menjalankan mandat pemerintahan, bukan loyalitas politik yang hanya bersifat seremonial.

Rapor Terbaik dan Tantangan Anggaran

Di sisi lain, publik kini menyoroti capaian nyata di lapangan. Berdasarkan penilaian Government Performance Assessment dari IndexPolitica Indonesia, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati peringkat teratas dengan skor kinerja 91. Capaian ini didasarkan pada data konkret, seperti keberhasilan swasembada pangan pada delapan komoditas utama dan rekor produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada 2025.

Namun, tantangan besar membayangi para pembantu Presiden. Separuh dari kementerian dan lembaga negara saat ini dilaporkan telah mengajukan penambahan anggaran untuk tahun depan. Para menteri beralasan bahwa pagu indikatif dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 tidak mencukupi untuk membiayai program kerja yang telah direncanakan. Hal ini tentu menjadi beban tambahan bagi Presiden dalam menentukan siapa yang layak dipertahankan dan siapa yang harus diganti.

Menjaga Fokus di Tengah Dinamika

Dalam situasi ekonomi dan politik yang menantang, efektivitas menjadi kunci. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap rupiah anggaran yang diminta menteri benar-benar berdampak pada kesejahteraan rakyat, bukan sekadar untuk agenda sektoral yang tidak prioritas. Presiden Prabowo kini berada di persimpangan jalan untuk memilih antara mempertahankan menteri yang berkinerja tinggi atau melakukan penyegaran demi memastikan visi pemerintahannya berjalan mulus hingga akhir periode.

Pada akhirnya, masa depan kabinet sangat bergantung pada keberanian Presiden untuk menempatkan profesionalitas di atas kepentingan politik. Menteri yang mampu membuktikan hasil kerja nyata, seperti yang terlihat pada sektor pertanian, akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Sementara bagi mereka yang gagal memenuhi target atau lebih sibuk dengan citra diri, perombakan kabinet menjadi konsekuensi logis yang tidak terelakkan demi menjaga stabilitas dan kemajuan bangsa di sisa masa jabatan.