Darurat Kabut Asap: Kualitas Udara Memburuk, Sekolah Diliburkan hingga 50 Perusahaan Disegel

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Darurat Kabut Asap: Kualitas Udara Memburuk, Sekolah Diliburkan hingga 50 Perusahaan Disegel

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 18 September 2026 | Kondisi kualitas udara di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, tengah berada dalam fase kritis akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap pekat tidak hanya mengganggu jarak pandang yang dilaporkan hanya berkisar satu hingga tiga meter di beberapa titik, tetapi juga telah mengancam kesehatan masyarakat serta menghambat roda pendidikan.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengambil langkah tegas dengan menyegel 50 perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran lahan. Penindakan ini mencakup 14 badan usaha di Sumatra dan 36 di Kalimantan, dengan total luas lahan terdampak mencapai 27.333 hektare. Tindakan hukum ini menjadi respons atas memburuknya status kualitas udara yang di beberapa wilayah, seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, telah menyentuh kategori berbahaya.

Dampak Kesehatan dan Pendidikan

Paparan asap yang tak kunjung reda telah memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak. Banyak orang tua melaporkan kondisi kesehatan buah hati mereka menurun secara drastis, yang memaksa tenaga medis untuk mengimbau anak-anak agar tetap berada di dalam rumah dan meminimalkan aktivitas luar ruangan. Situasi ini pun memaksa pemerintah daerah di Sumatra dan Kalimantan untuk kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah.

Berikut adalah beberapa dampak nyata yang dirasakan masyarakat di daerah terdampak:

  • Penerapan sistem sekolah via Zoom untuk berbagai jenjang pendidikan, termasuk saat masa ujian berlangsung.
  • Penghentian sementara program pemberian Makan Bergizi Gratis di beberapa wilayah untuk menghindari paparan asap saat distribusi.
  • Pembatasan ketat kegiatan tatap muka di sekolah dan pemindahan aktivitas olahraga ke dalam ruangan.
  • Peningkatan signifikan jumlah penderita ISPA pada kelompok usia anak-anak.

Kondisi Udara di Berbagai Kota

Di sisi lain, kualitas udara di Jakarta juga menunjukkan tren mengkhawatirkan dengan tingkat konsentrasi partikel PM 2,5 yang jauh melampaui panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada Jumat (18/9/2026), Jakarta tercatat sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk, bersanding dengan Palembang, Pontianak, dan Jambi yang mengalami dampak lebih parah dari karhutla. Sebaliknya, beberapa wilayah di Indonesia timur, seperti Kendari dan Tasikmalaya, masih menikmati kualitas udara yang berada dalam kategori baik.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk mematuhi panduan kesehatan, termasuk penggunaan masker di luar ruangan dan penggunaan penyaring udara di dalam rumah. Bagi warga di wilayah dengan status kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya, pengurangan aktivitas luar ruangan menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan paru-paru dan jantung dari paparan polutan berbahaya.

Penanganan karhutla yang komprehensif, mulai dari penegakan hukum terhadap korporasi hingga perlindungan kesehatan bagi kelompok rentan, menjadi prioritas utama saat ini. Tanpa langkah mitigasi yang konsisten, risiko kesehatan jangka panjang bagi masyarakat di wilayah terdampak akan terus membayangi, mengingat kompleksitas perubahan iklim dan cuaca yang memperburuk kondisi polusi udara di tanah air.