Gayatri Putri News – 29 September 2026 | BRUSSELS — Nama Lucas Da Cunha mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar penggemar sepak bola dunia. Namun, dalam laga Nations League antara Belgia dan Prancis di Stade Roi Baudouin, Selasa dini hari WIB, gelandang berusia 25 tahun itu menorehkan kisah yang akan dikenang sepanjang kariernya. Di bawah arahan Zinedine Zidane, ia menjalani debut bersama tim nasional Prancis dan langsung tampil sebagai starter di lini tengah.
Kepercayaan yang diberikan Zidane bukan tanpa alasan. Da Cunha tampil mengesankan sepanjang 90 menit, berduet dengan Eduardo Camavinga dari Real Madrid dan Maghnes Akliouche dari Paris Saint-Germain. Ia mencatatkan 97 sentuhan bola, mengatur tempo permainan, dan menjadi jembatan antara lini belakang dan serangan. Penampilan itu mengundang pujian dari berbagai kalangan, termasuk media Prancis RMC Sport yang memberinya nilai 8 dan menyebutnya mungkin sebagai pemain Prancis terbaik di laga tersebut.
Perjalanan Panjang Menuju Panggung Tertinggi
Kisah Da Cunha adalah kisah tentang ketekunan. Beberapa tahun lalu, namanya tidak terdengar di level tertinggi sepak bola Eropa. Ia sempat gagal menembus skuad utama Rennes, kemudian dipinjamkan OGC Nice ke Lausanne Sport dan Clermont Foot sebelum akhirnya dijual ke Como pada 2023. Bersama klub Italia itu, ia tumbuh menjadi pemain inti di Serie B dan menjadi kapten tim yang mengantar Como promosi ke Serie A pada 2024.
Pencapaian itu membawanya kembali ke level kompetisi tertinggi, dan musim ini ia menjadi sosok sentral di lini tengah Como di bawah asuhan Cesc Fabregas. Performa konsistennya di Serie A membuat Zidane tak ragu memanggilnya memperkuat Les Bleus, meski ia sebenarnya juga memiliki darah Portugal dari sang ayah dan berpeluang membela Selecao.
- Nama lengkap: Lucas Da Cunha
- Usia: 25 tahun
- Klub: Como (Serie A)
- Posisi: Gelandang tengah
- Debut internasional: Belgia vs Prancis, Nations League 2026/27
Pujian Setinggi Langit untuk Profil Unik
Analis sepak bola Prancis, Jean-Louis Tourre, menilai Da Cunha sebagai tipe pemain yang selama ini langka di sepak bola Prancis. Menurutnya, Da Cunha adalah gelandang teknis yang mampu bermain di depan bek, mengatur serangan, dan tetap tenang di bawah tekanan. “Ketenangannya luar biasa. Ini debut internasional pertamanya, ia bermain di depan bek, tekanan Belgia terus menghantuinya, tetapi ia tetap tenang dan tidak pernah membuang bola sembarangan,” ujar Tourre.
Senada dengan itu, Samuel Umtiti, mantan bek timnas Prancis, juga memuji ketenangan Da Cunha. Ia menilai gelandang Como itu tampil persis seperti yang biasa ia lakukan di level klub. Sementara itu, Riolo menyebut profil Da Cunha sebagai sosok yang bisa memberi wajah baru bagi lini tengah Prancis, berbeda dari tipe gelandang seperti Vitinha, Rodri, atau Jorginho.
Momen Emosional dan Pesan Inspiratif
Usai laga, Da Cunha mengaku sangat bahagia dan emosional. Baginya, debut bersama timnas Prancis adalah puncak dari perjuangan panjang yang penuh liku. “Saya merasa baik di lapangan. Saya sangat senang dengan debut ini. Ini momen yang sangat emosional. Beberapa tahun lalu saya masih bermain di Serie B, sekarang saya berada di timnas Prancis. Ini menunjukkan bahwa ketika Anda tidak menyerah, hal-hal seperti ini bisa terjadi,” ujarnya kepada TF1.
Zidane pun mengaku puas dengan penampilan anak asuhnya. Ia menilai Da Cunha bermain sesuai karakternya dan mampu memberikan keseimbangan di lini tengah. “Dia bermain seperti biasanya dan itu yang saya inginkan. Dia harus merasa bebas, dan dia melakukannya dengan baik,” kata Zidane.
Dalam laga yang juga menampilkan sejumlah pemain Serie A seperti Mike Maignan, Pierre Kalulu, dan Adrien Rabiot, Da Cunha menjadi sorotan utama. Kemenangan Prancis atas Belgia menjadi latar sempurna bagi kelahiran seorang bintang baru. Debutnya tidak hanya menandai awal karier internasionalnya, tetapi juga membuktikan bahwa jalan menuju puncak tidak selalu lurus.
Dari kompetisi kasta kedua Italia hingga dipercaya Zidane di panggung Nations League, Lucas Da Cunha adalah bukti hidup bahwa kerja keras dan kesabaran akan berbuah manis. Kini, ia bukan lagi sekadar nama di daftar pemain Como, melainkan bagian dari masa depan lini tengah Les Bleus.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






