Gayatri Putri News – 08 September 2026 | Dunia sepak bola Italia baru saja melalui fase pergolakan yang dramatis. Di satu sisi, sejarah baru tercipta dengan keberhasilan Como 1907 menembus kompetisi Eropa untuk pertama kalinya, sementara di sisi lain, klub Cremonese harus menelan pil pahit degradasi yang memicu eksodus pemain bintang mereka ke luar negeri.
Kebangkitan Fenomenal Como 1907
Cesc Fabregas, mantan gelandang Arsenal dan Barcelona, berhasil mengukir tinta emas dalam karier kepelatihannya. Hanya dalam waktu tiga tahun sejak ia pensiun sebagai pemain, Fabregas sukses membawa Como 1907 finis di posisi keempat Serie A pada musim 2025/26. Kepastian ini diraih setelah Como menghancurkan Cremonese dengan skor telak 4-1 pada 24 Mei 2026, yang bertepatan dengan kekalahan AC Milan dari Cagliari.
Keberhasilan ini sangat luar biasa jika menilik rekam jejak klub. Tujuh tahun lalu, Como masih berkutat di kasta keempat sepak bola Italia (Serie D). Kini, mereka menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan dengan catatan impresif sebagai berikut:
- Total poin: 71 dari 38 pertandingan.
- Rekor pertahanan terbaik di Serie A: Hanya kebobolan 29 gol.
- Produktivitas lini depan: Mencetak 65 gol, tertinggi kedua di liga.
Fabregas membangun identitas tim dengan mengandalkan pemain muda berbakat alih-alih menghamburkan dana untuk nama besar. Strategi ini terbukti efektif dalam membawa klub yang berusia 119 tahun tersebut mencicipi panggung Liga Champions untuk kali pertama sepanjang sejarah mereka.
Nasib Berbeda Cremonese dan Eksodus Jamie Vardy
Berbanding terbalik dengan Como, Cremonese mengalami musim yang kelam. Setelah dipastikan terdegradasi dari Serie A pada akhir musim lalu, klub tersebut harus merelakan kepergian beberapa pemain kunci. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah kepindahan penyerang ikonik asal Inggris, Jamie Vardy.
Vardy, yang sempat merumput di Italia bersama Cremonese, kini resmi kembali ke Inggris untuk bergabung dengan Burnley. Striker berusia 39 tahun tersebut didatangkan dengan kontrak hingga akhir musim sebagai pengganti Foster. Langkah ini diambil Burnley di tengah situasi sulit mereka yang terpuruk di dasar klasemen kasta kedua Liga Inggris, tanpa kemenangan dalam lima laga pembuka.
Keputusan Burnley merekrut Vardy memicu perdebatan di kalangan suporter. Banyak yang memandang pengalaman dan insting gol Vardy sebagai solusi instan untuk mengangkat performa tim, namun tidak sedikit yang meragukan kondisi fisiknya di usia yang sudah tidak muda lagi. Bagi Vardy, kepindahan ini adalah babak baru setelah petualangannya di Cremonese berakhir dengan degradasi.
Gejolak di Serie A Lainnya
Tidak hanya Como dan Cremonese yang menjadi sorotan, dinamika Serie A juga diwarnai pergantian kursi kepelatihan. Fiorentina baru saja mengambil langkah drastis dengan memecat Fabio Grosso setelah serangkaian hasil buruk di awal musim. Paolo Vanoli telah ditunjuk kembali untuk menggantikan Grosso, menandai era baru di Viola Park demi memperbaiki posisi tim yang sempat terpuruk di awal kompetisi.
Perubahan-perubahan ini menunjukkan betapa dinamis dan kejamnya sepak bola profesional, di mana kesuksesan seperti yang diraih Cesc Fabregas dan Como 1907 sering kali berbanding lurus dengan penderitaan klub lain seperti Cremonese. Ke depan, para pemain yang hijrah seperti Vardy akan menjadi penentu apakah keputusan transfer tersebut merupakan langkah jenius atau sekadar keputusasaan di tengah ketatnya kompetisi musim ini.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






