ChatGPT di Pusaran Kontroversi: dari Skor Pemerintahan hingga Tragedi Kanada

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

ChatGPT di Pusaran Kontroversi: dari Skor Pemerintahan hingga Tragedi Kanada

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 23 September 2026 | Nama ChatGPT kembali menjadi sorotan dunia setelah serangkaian peristiwa besar yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari analisis politik, perlombaan kecerdasan buatan, hingga tragedi kemanusiaan yang berujung pada gugatan hukum. Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan generasi baru tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi aktor penting dalam dinamika sosial, ekonomi, dan hukum global.

ChatGPT Diminta Menilai Kinerja Dua Pemerintahan

Di Selandia Baru, politikus senior Richard Prebble memanfaatkan ChatGPT untuk menilai kinerja dua pemerintahan terakhir di sejumlah area kunci. Hasilnya cukup mengejutkan banyak pihak. Berdasarkan data aktual yang dimasukkan ke dalam model tersebut, pemerintahan yang dipimpin Partai Buruh hanya memperoleh skor 34 dari 100, sementara pemerintahan saat ini meraih 59 dari 100.

Prebble menegaskan bahwa angka 59 memang belum bisa disebut luar biasa, namun jauh lebih baik dibandingkan capaian pemerintahan sebelumnya. Analisis ini memicu diskusi hangat di ruang publik, terutama mengenai bagaimana kebijakan seperti pencabutan undang-undang Three Waters dan otoritas kesehatan Maori dinilai sebagai langkah perbaikan. Sejumlah pengamat menilai hasil ini sebagai cerminan bahwa perbaikan tata kelola membutuhkan waktu dan tidak bisa diukur hanya dari satu indikator.

Meta dan Muse: Perlombaan Melawan ChatGPT

Di sisi industri teknologi, ChatGPT kini menghadapi pesaing baru yang datang dari raksasa media sosial Meta. Peluncuran Muse, agen AI personal besutan Meta, langsung mengerek nilai pasar perusahaan tersebut hingga menambah sekitar 200 miliar dolar AS dalam satu sesi perdagangan. Saham Meta ditutup pada level 741,25 dolar AS, melonjak 11,43 persen.

Muse diluncurkan di iOS dan Android di dua negara, sementara peluncuran ChatGPT yang menjadi pembandingnya hanya tersedia di iOS namun berskala global. Meski demikian, pasar tampaknya telah berlari lebih cepat dari bukti yang ada. Muse belum memiliki model pendapatan yang jelas, sementara belanja modal Meta pada kuartal kedua mencapai 30,12 miliar dolar AS, naik 82 persen secara tahunan. Arus kas bebas perusahaan justru anjlok dari 8,55 miliar dolar AS menjadi hanya 784 juta dolar AS.

Meski demikian, sinyal positif tetap terlihat. Interaksi harian dengan Meta AI naik 60 persen setelah asisten tersebut dibangun ulang dan diintegrasikan dengan Muse Spark. Unduhan hanyalah keputusan sesaat, sedangkan penggunaan harian adalah indikator berulang yang sesungguhnya menentukan keberhasilan bisnis asisten AI.

Gugatan Hukum di Kanada Usai Tragedi Penembakan

Kontroversi paling serius datang dari Kanada. Pemerintah Provinsi British Columbia bersama keluarga korban menggugat OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, setelah AI tersebut diduga gagal melaporkan peringatan kepada pihak berwenang terkait rencana penembakan yang menewaskan sembilan orang dan melukai 27 lainnya pada Februari lalu.

Laporan menyebutkan bahwa pelaku telah menggunakan ChatGPT untuk merencanakan aksi tersebut, dan AI sempat memberikan peringatan sejak Juni 2025. Namun, perusahaan tidak meneruskan informasi itu kepada polisi. Akun pelaku memang sempat diblokir, tetapi ia berhasil membuat akun baru dan melanjutkan perencanaannya. Sam Altman, CEO OpenAI, dilaporkan telah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban.

Privasi Pengguna Jadi Perhatian

Di tengah semua kontroversi ini, isu privasi pengguna semakin mengemuka. Banyak percakapan dengan AI mencakup data finansial, kesehatan, dan proyek pribadi yang sensitif. Karena data diproses di server jarak jauh, pengguna sering kali kehilangan kendali atas informasi yang telah dikirim. Beberapa pendekatan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain:

  • Kontrak Zero Data Retention (ZDR) yang membatasi penyimpanan percakapan
  • Layanan perantara tanpa penyimpanan data
  • Trusted Execution Environments (TEE) untuk memproses data secara aman
  • Model AI yang dijalankan langsung di perangkat pengguna

Semua opsi ini menawarkan tingkat keamanan berbeda, namun umumnya berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan pengguna.

Arah Baru Kecerdasan Buatan

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa ChatGPT dan teknologi serupa telah memasuki fase baru yang jauh lebih kompleks. Ia bukan lagi sekadar alat percakapan, tetapi telah menjadi subjek penilaian politik, medan pertempuran bisnis, dan bahkan pihak yang dimintai pertanggungjawaban hukum. Pertanyaan besar yang kini menghadang adalah sejauh mana tanggung jawab etis dan hukum harus dibebankan kepada pengembang AI, serta bagaimana regulasi dapat menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan masyarakat.

Ke depan, keberhasilan AI tidak akan diukur hanya dari kecanggihan teknologinya, melainkan juga dari kemampuannya menjaga kepercayaan publik, melindungi data pengguna, dan mencegah dampak buruk yang bisa merenggut nyawa. Tanpa itu, kemajuan yang dicapai justru berpotensi menjadi bumerang bagi industri yang tengah berlomba menuju puncak.