Gayatri Putri News – 08 September 2026 | Serie A musim 2026/27 baru saja memasuki pekan-pekan awal, namun nama Alphadjo Cisse telah mencuri perhatian publik sepak bola Italia. Penyerang muda AC Milan ini menjelma menjadi fenomena baru setelah mencatatkan dua gol dalam tiga penampilan perdananya, sebuah pencapaian yang menandai perubahan drastis dalam karier profesionalnya yang baru saja dimulai.
Hanya beberapa bulan lalu, masa depan Cisse sempat berada di persimpangan jalan. Skenario peminjaman ke klub lain demi mendapatkan menit bermain reguler tampak menjadi pilihan paling masuk akal bagi pemain yang baru akan menginjak usia 20 tahun pada Oktober mendatang. Namun, pelatih Ruben Amorim memiliki pandangan berbeda. Terkesan dengan etos kerja dan performa Cisse selama sesi latihan, Amorim memutuskan untuk mempertahankannya di skuad utama Rossoneri.
Kepercayaan yang Terbayar Lunas
Keputusan Amorim terbukti tepat. Cisse memberikan dampak instan dengan mencetak gol krusial ke gawang Torino dan raksasa Italia, Juventus. Meski masih sangat belia, Cisse menunjukkan ketenangan dan kepribadian yang jarang dimiliki pemain seusianya. Amorim sendiri tidak segan mengungkapkan kekagumannya terhadap talenta pemain Italia tersebut, meski ia tetap mengingatkan anak asuhnya untuk tidak cepat berpuas diri.
Dalam komentarnya, Amorim menekankan pentingnya menjaga ekspektasi terhadap pemain muda. Menurutnya, Cisse masih harus terus berkembang, belajar, dan mematangkan permainannya. Sang pelatih menegaskan bahwa perjalanan karier Cisse baru saja dimulai, dan konsistensi dalam latihan akan menjadi kunci utama bagi sang pemain untuk mencapai potensi maksimalnya di masa depan.
Drama di Allianz Stadium
Puncak dari sorotan terhadap Cisse terjadi saat AC Milan bertandang ke markas Juventus pada pekan ketiga. Dalam duel yang berlangsung sengit, Cisse sempat membawa Milan unggul pada menit ke-68 melalui penyelesaian klinis ke tiang jauh. Gol tersebut lahir dari skema serangan balik cepat yang melibatkan kerja sama apik antara Koni De Winter, Luka Modric, dan diakhiri dengan eksekusi dingin Cisse.
Pertandingan tersebut berjalan penuh tensi. Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, memilih untuk tidak memperdebatkan gol tersebut meski sempat ada kontak fisik dalam proses pembangunannya. Di sisi lain, pemain sayap Juventus, Francisco Conceicao, merasa timnya lebih layak mendapatkan kemenangan. Conceicao berpendapat bahwa selain gol tersebut, Milan tidak memberikan ancaman berarti sepanjang laga.
Penyelamat di Menit Akhir
Kegembiraan Milan nyaris menjadi sempurna sebelum Federico Gatti hadir sebagai sosok antagonis bagi Rossoneri. Masuk sebagai pemain pengganti di menit ke-89, Gatti berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan kepala memanfaatkan umpan silang Teun Koopmeiners pada menit ke-90+2. Gol tersebut memaksa pertandingan berakhir imbang 1-1.
Bagi Gatti, momen tersebut menjadi bukti ketangguhan mentalnya. Selebrasi emosional dengan meneriakkan “Selalu aku!” menegaskan perannya sebagai spesialis penyelamat Juventus di masa-masa kritis. Hasil imbang ini membuat kedua tim kini sama-sama mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan pertama mereka di liga.
Performa impresif Alphadjo Cisse di awal musim ini memberikan harapan baru bagi AC Milan. Dengan bimbingan yang tepat dari Ruben Amorim dan kemauan keras untuk terus belajar, Cisse berpotensi menjadi salah satu talenta paling bersinar di sepak bola Italia. Meskipun perjalanan musim masih sangat panjang, kemunculan bintang muda seperti Cisse menjadi bumbu menarik dalam persaingan ketat Serie A tahun ini.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






