Rupiah Terombang-ambing di Level Rp18.000: Harga Barang Impor Naik, Ekonomi Domestik Jadi Penyelamat

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Rupiah Terombang-ambing di Level Rp18.000: Harga Barang Impor Naik, Ekonomi Domestik Jadi Penyelamat

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 06 Agustus 2026 | Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan utama dalam beberapa hari terakhir. Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada awal Agustus 2026, mata uang Garuda sempat mencatatkan penguatan tipis berkat sentimen positif dari data pertumbuhan ekonomi domestik. Meski demikian, volatilitas ini telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha di tanah air.

Dampak Nyata di Sektor Ritel

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) melaporkan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi dalam satu hingga dua bulan terakhir telah memaksa pelaku usaha menyesuaikan harga jual. Produk impor yang dijajakan di ritel modern kini mengalami kenaikan harga antara 5 hingga 10 persen. Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, menegaskan bahwa pelaku usaha tidak mengharapkan nilai tukar tertentu, melainkan stabilitas kurs yang dapat diprediksi.

Kestabilan kurs sangat krusial bagi perusahaan untuk melakukan perhitungan harga jual yang akurat. Budihardjo berharap tekanan terhadap rupiah akan berkurang pada kuartal IV 2026, sehingga peritel dapat melakukan penyesuaian kembali harga jual mereka agar lebih terjangkau bagi konsumen.

Sinyal Positif dari Ekonomi Domestik

Di tengah tekanan eksternal, ekonomi Indonesia memberikan secercah harapan. Rupiah sempat menguat 94 poin atau 0,52 persen ke posisi Rp17.933 per dolar AS pada perdagangan Rabu (5/8), setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen (year on year). Angka ini melampaui ekspektasi pelaku pasar yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan hanya berada di kisaran 5,1 persen.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa penguatan tersebut didorong oleh sentimen domestik yang kuat. Sementara itu, pihak Bank Indonesia melalui Pjs Gubernur Destry Damayanti menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah. Bank Indonesia terus memantau pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar spot maupun melalui transaksi derivatif seperti Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Sektor yang Diuntungkan

Meski pelemahan rupiah menekan daya beli pada produk impor, tidak semua sektor mengalami kerugian. Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mencatat bahwa sektor berorientasi ekspor justru memiliki potensi untuk mendapatkan keuntungan. Depresiasi rupiah membuat komoditas Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional.

  • Minyak sawit: Meskipun dipengaruhi oleh kontrak jangka panjang, pelemahan rupiah secara teori meningkatkan daya saing ekspor.
  • Batu bara: Sebagai salah satu komoditas ekspor terbesar, sektor pertambangan diuntungkan oleh nilai tukar yang melemah.

Secara keseluruhan, tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada nilai tukar dolar AS masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas inflasi serta memperkuat cadangan devisa melalui kebijakan yang pro-pertumbuhan domestik menjadi kunci utama agar ekonomi nasional tetap tangguh di tengah ketidakpastian global. Stabilitas yang terjaga diharapkan mampu menekan biaya barang konsumsi dan memberikan kepastian bagi iklim bisnis nasional ke depan.