Meluruskan Sejarah 500 Tahun Kesultanan Banjar dalam Gelaran Ma’aturi Dahar

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Meluruskan Sejarah 500 Tahun Kesultanan Banjar dalam Gelaran Ma'aturi Dahar

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 25 Agustus 2026 | Kawasan makam Datu Kuin di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin, menjadi saksi pelaksanaan prosesi Ma’aturi Dahar yang berlangsung khidmat pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan haul Sultan Suriansyah, Khatib Dayan, dan Patih Masih, sekaligus memperingati 500 tahun berdirinya Kesultanan Banjar.

Dipimpin oleh Ahmad Syarif atau yang akrab disapa Abah Sultan selaku Ketua Yayasan Restu Sultan Suriansyah, kegiatan ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari juriat Pegustian, juriat kerajaan terdahulu, tokoh agama, hingga unsur pemerintah dan TNI/Polri. Fokus utama dalam pertemuan ini adalah pembacaan manakib untuk meluruskan pemahaman sejarah mengenai momentum 24 September 1526.

Meluruskan Narasi Sejarah

Abah Sultan menegaskan bahwa peristiwa 24 September 1526 bukan sekadar momen masuk Islamnya Pangeran Samudera menjadi Sultan Suriansyah. Beliau meluruskan pandangan umum yang sering menganggap Sultan sebagai mualaf pada hari tersebut. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam telah berkembang di wilayah Banjar jauh sebelum berdirinya kesultanan.

Prosesi ikrar dua kalimah syahadah pada masa itu lebih tepat dipahami sebagai bentuk baiat atau sumpah kesetiaan dalam kerangka politik dan pemerintahan. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penyatuan masyarakat dari berbagai wilayah seperti Kuin, Alalak, Berangas, Bakumpai, dan Hulu Sungai di bawah panji Kesultanan Banjar yang baru.

Sinergi Tiga Pilar Kesultanan

Dalam pemaparannya, Abah Sultan menguraikan tiga pilar utama yang menjadi fondasi awal Kesultanan Banjar:

  • Sultan Suriansyah: Representasi kepemimpinan pemerintahan.
  • Khatib Dayan: Peran ulama yang memberikan bimbingan moral dan agama.
  • Patih Masih: Representasi masyarakat yang menggerakkan ekonomi dan tatanan sosial.

Ketiga unsur ini saling melengkapi, di mana pemimpin membutuhkan ulama untuk menjaga arah moral, sementara ulama memerlukan dukungan masyarakat untuk menciptakan perubahan. Sebaliknya, masyarakat membutuhkan pemerintahan yang stabil untuk menjamin kesejahteraan.

Peringatan 500 tahun ini diharapkan menjadi refleksi bagi generasi penerus agar tidak sekadar mewarisi nama besar, tetapi juga mampu menjaga marwah, adat, dan persaudaraan di tanah Banua. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dirawat di tengah tantangan zaman.