Gayatri Putri News – 25 Agustus 2026 | Derby Brugge antara Club Brugge dan Cercle Brugge menyisakan catatan panas di kancah sepak bola Belgia. Meski pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Club Brugge berkat gol dari Nicolò Tresoldi, sorotan utama justru tertuju pada drama pengambilan keputusan wasit yang melibatkan teknologi VAR. Keputusan Nicolas Laforge di lapangan memicu perdebatan sengit di kalangan analis dan petinggi wasit nasional.
Drama Penalti dan Intervensi VAR
Momen krusial terjadi pada babak kedua ketika wasit Nicolas Laforge menunjuk titik putih, memberikan penalti kepada Cercle Brugge setelah bola mengenai tangan Brandon Mechele di dalam kotak terlarang. Namun, intervensi dari VAR yang dipimpin oleh Lawrence Visser mengubah segalanya. Setelah peninjauan panjang melalui layar di pinggir lapangan, Laforge membatalkan keputusan penalti tersebut dengan alasan adanya pelanggaran ringan atau tarikan yang dilakukan pemain Cercle, Steve Ngoura, terhadap Mechele sebelum insiden handsball terjadi.
Keputusan ini memicu kritik keras dari berbagai pihak. Direktur Teknis Perwasitan, Jonathan Lardot, secara terbuka mengecam penggunaan VAR dalam situasi tersebut. Menurut Lardot, keputusan awal wasit di lapangan sudah tepat dan seharusnya tidak perlu diubah. Ia menyoroti bagaimana penggunaan tayangan lambat (slow-motion) sering kali mendistorsi realitas, membuat kontak yang sebenarnya minimal tampak jauh lebih signifikan daripada yang terjadi pada kecepatan normal.
Kritik Terhadap Standar Perwasitan
Banyak pengamat sepak bola di Belgia merasa bahwa intervensi VAR dalam laga ini justru menciptakan masalah baru. Beberapa poin penting yang menjadi sorotan adalah:
- Ketidakkonsistenan dalam menilai tarikan ringan di dalam kotak penalti.
- Durasi pemeriksaan VAR yang mencapai empat hingga lima menit dinilai terlalu lama untuk sebuah keputusan yang diklaim sebagai ‘jelas dan nyata’.
- Kurangnya pemahaman mengenai intensitas kontak fisik dalam sepak bola profesional.
Para analis berpendapat bahwa jika wasit harus menghabiskan waktu terlalu lama di depan monitor, hal itu secara inheren membuktikan bahwa insiden tersebut bukanlah kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious error). Kritik pun mengalir kepada Laforge yang dianggap kurang memiliki ‘perasaan’ dalam memimpin pertandingan, terutama terkait penilaian insiden handsball yang menurut aturan IFAB bukanlah pelanggaran karena posisi tangan Mechele dianggap alami.
Kembalinya Sang Bintang
Di balik ketegangan perwasitan, suasana Stadion Brugge sempat dihangatkan oleh kehadiran mantan bintang mereka, Christos Tzolis. Pemain yang kini berseragam Arsenal tersebut mendapatkan sambutan luar biasa dari para suporter tuan rumah sebelum pertandingan dimulai. Kehadirannya memberikan sentuhan emosional di tengah rivalitas sengit derby ini, mengingatkan publik pada kontribusi besarnya selama dua tahun membela Club Brugge.
Secara keseluruhan, kemenangan ini menjadi modal penting bagi Club Brugge untuk melanjutkan kompetisi. Namun, bagi dunia perwasitan, laga ini menjadi pelajaran berharga mengenai bagaimana teknologi video harus digunakan dengan lebih bijak agar tidak merusak esensi permainan itu sendiri. Perdebatan mengenai efektivitas VAR dalam mengubah keputusan di lapangan dipastikan akan terus berlanjut hingga ada standarisasi yang lebih ketat di masa depan.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






