Gayatri Putri News – 23 Agustus 2026 | Dunia olahraga Indonesia tengah disibukkan dengan berbagai dinamika terkait infrastruktur stadion. Mulai dari proyek strategis pembangunan Stadion Sudiang di Sulawesi Selatan hingga sorotan tajam terhadap kondisi lapangan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), kesiapan arena pertandingan menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan agenda olahraga nasional maupun internasional.
Polemik Lahan Stadion Sudiang dan Langkah Pemprov Sulsel
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan kini tengah menghadapi tantangan terkait proyek pembangunan Stadion Sudiang di Makassar. Munculnya klaim kepemilikan lahan dari pihak yang mengaku sebagai ahli waris sempat memicu perhatian publik. Namun, Pemprov Sulsel menegaskan bahwa proyek pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sulsel, Reza Faisal Saleh, menjelaskan bahwa lahan yang kini digunakan telah memiliki Sertifikat Hak Pakai (SHP) atas nama pemerintah. Pihaknya menegaskan bahwa hingga saat ini, pihak pengklaim belum mampu menyertakan bukti plotting dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang secara spesifik menunjukkan lokasi tanah yang disengketakan. Berikut adalah poin utama sikap Pemprov Sulsel dalam menghadapi masalah ini:
- Memastikan status lahan sudah clean and clear berdasarkan sertifikat resmi.
- Melakukan pendampingan bersama Aparat Penegak Hukum (APH) untuk meninjau aspek legalitas.
- Menunda segala bentuk pembayaran ganti rugi hingga proses hukum dan verifikasi dokumen selesai.
- Menyiapkan dokumen tambahan berupa novum baru untuk memperkuat posisi hukum pemerintah.
Langkah tegas ini diambil guna memastikan bahwa pembangunan stadion tidak terhambat oleh klaim yang belum teruji kebenarannya secara hukum.
Sorotan Kondisi Lapangan Stadion GBLA
Di sisi lain, kondisi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kini menjadi sorotan utama jelang laga penting Persib Bandung. Sembilan hari sebelum pertandingan babak playoff AFC Champions League Two (ACL 2) melawan Manila Digger pada 31 Agustus 2026, pelatih Persib, Igor Tolic, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kelayakan lapangan.
Kondisi lapangan yang dianggap tidak ideal memicu perdebatan mengenai kesiapan infrastruktur untuk ajang internasional. Igor menekankan bahwa masalah ini telah berlangsung cukup lama dan memerlukan perhatian serius dari pihak pengelola. Selain untuk kebutuhan kompetisi Asia, Persib juga harus mempersiapkan diri menghadapi musim baru Super League, sehingga kualitas lapangan menjadi aspek yang sangat krusial bagi performa tim.
Kesiapan Stadion Internasional di Ajang Piala AFF 2026
Sementara itu, di level regional Asia Tenggara, Stadion Rajamangala di Bangkok, Thailand, tengah bersiap menjadi panggung utama leg pertama final Piala AFF 2026 antara Thailand dan Vietnam. Pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 22 Agustus 2026, ini menjadi bukti betapa pentingnya kesiapan stadion dalam mendukung atmosfir kompetisi bergengsi.
Pelatih Thailand, Anthony Hudson, mengakui bahwa evaluasi mendalam telah dilakukan terhadap skuadnya setelah melewati fase semifinal. Fokus utama kini beralih pada pemanfaatan status tuan rumah di stadion kebanggaan Thailand tersebut untuk meraih hasil positif di leg pertama sebelum bertandang ke Vietnam.
Perkembangan infrastruktur stadion di Indonesia memang masih menghadapi tantangan yang beragam, mulai dari sengketa lahan hingga pemeliharaan kualitas rumput lapangan. Keberlanjutan proyek seperti Stadion Sudiang sangat bergantung pada ketegasan pemerintah dalam mematuhi aturan hukum pertanahan. Sementara itu, masalah di GBLA menjadi pengingat bagi para pengelola stadion di tanah air untuk lebih memperhatikan standar kualitas lapangan agar tidak menghambat agenda klub yang berlaga di kompetisi resmi. Keberhasilan dalam mengelola stadion tidak hanya berdampak pada kenyamanan pemain, tetapi juga menjadi cerminan profesionalisme dalam tata kelola fasilitas olahraga nasional.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






