Langkah Tegas Kremlin Menjelang Pemilu Duma
Gayatri Putri News – 19 Agustus 2026 | Panggung politik Rusia menjelang pemilihan umum parlemen yang dijadwalkan pada 18-20 September 2026 semakin menyempit bagi kelompok oposisi. Komisi Pemilihan Umum Pusat (CEC) secara resmi telah menghapus Partai Yabloko dari daftar surat suara federal, sebuah keputusan yang menandai titik terendah dalam sejarah partisipasi partai dalam pemilihan State Duma. Dengan pencoretan ini, hanya tersisa 10 partai yang akan berkontestasi, jumlah paling sedikit yang pernah tercatat sejak era pasca-Soviet.
Keputusan ini merupakan tindak lanjut dari putusan Mahkamah Agung yang menguatkan gugatan dari Rodina, sebuah partai nasionalis kecil yang dikenal memiliki kedekatan dengan agenda pro-Kremlin. Rodina menuduh Yabloko menerima dukungan asing dan mempromosikan ekstremisme, tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh pihak Yabloko. Pihak partai menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan upaya sistematis untuk membungkam satu-satunya suara politik yang secara terbuka menentang perang di Ukraina.
Pembungkaman Tokoh Oposisi
Di saat yang bersamaan, pukulan telak lainnya menghantam Yabloko dengan jatuhnya vonis penjara bagi wakil ketua partai tersebut, Lev Shlosberg. Pengadilan di Pskov menjatuhkan hukuman 11 tahun satu bulan di koloni hukuman bagi pria berusia 63 tahun tersebut. Shlosberg dinyatakan bersalah atas tuduhan mendiskreditkan angkatan bersenjata dan menyebarkan informasi palsu mengenai militer Rusia.
Kasus hukum yang menjerat Shlosberg berakar pada unggahan di saluran Telegram miliknya pada tahun 2022 yang menampilkan halaman depan surat kabar Inggris dengan foto Presiden Vladimir Putin yang disandingkan dengan seorang wanita berlumuran darah. Selain itu, pernyataan Shlosberg dalam sebuah debat daring yang menyerukan gencatan senjata secepat mungkin di Ukraina turut menjadi dasar tuntutan jaksa.
Dalam pernyataan penutupnya di persidangan, Shlosberg menegaskan bahwa Rusia telah menempuh jalan panjang dari harapan akan kebebasan menuju penghancuran hampir total atas hak dan kebebasan sipil. Ia memperingatkan bahwa dampak perang di Ukraina akan dirasakan oleh setiap warga negara Rusia tanpa terkecuali, dan ia meyakini bahwa ketika jumlah korban jiwa yang sebenarnya terungkap, seluruh negeri akan terguncang.
Ketidakpastian Ekonomi dan Ketegangan Sosial
Tekanan terhadap oposisi politik ini terjadi di tengah meningkatnya kecemasan publik yang tercermin dalam perilaku ekonomi masyarakat. Laporan terbaru menunjukkan bahwa warga Rusia mulai menarik uang dalam jumlah besar dari bank karena kekhawatiran bahwa pemerintah mungkin akan menyita dana mereka untuk membiayai operasi militer yang berkepanjangan.
Data dari Bank Sentral Rusia mencatat penarikan tunai mencapai miliaran rubel dalam kurun waktu singkat. Fenomena ini, menurut para pengamat keuangan, merupakan indikator nyata dari ketidakpastian yang dirasakan masyarakat di tengah situasi perang yang sudah memasuki tahun kelima. Krisis kepercayaan ini, ditambah dengan pengecilan ruang demokrasi, menciptakan atmosfer ketegangan yang kian mendalam di masyarakat Rusia menjelang hari pemungutan suara.
Upaya Yabloko untuk menempuh jalur hukum melalui peninjauan pengawas terhadap putusan Mahkamah Agung tampaknya menjadi harapan terakhir bagi pendukung partai tersebut. Namun, dengan situasi politik yang ada, banyak pihak menilai bahwa peluang untuk perubahan arah kebijakan melalui kotak suara semakin kecil, meninggalkan masyarakat dengan pilihan politik yang sangat terbatas.
Pengecualian Yabloko dan pemenjaraan tokoh-tokoh pengkritik perang merupakan indikasi kuat dari sikap intoleran otoritas Rusia terhadap setiap bentuk perbedaan pendapat. Upaya ini bukan hanya membatasi pilihan pemilih dalam pemilu, tetapi juga menegaskan arah kebijakan Rusia yang semakin menutup diri terhadap kritik internal terkait konflik Ukraina.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






