Gayatri Putri News – 01 Oktober 2026 | Adopsi kecerdasan buatan generatif di dunia korporasi kembali mencatatkan babak baru. Anthropic, pengembang model bahasa besar Claude, mengumumkan perluasan kerja sama strategis dengan raksasa perbankan Inggris, Barclays. Kesepakatan ini menjadi salah satu implementasi Claude AI berskala paling masif di sektor jasa keuangan global hingga saat ini.
Dalam pengumuman resmi yang dirilis Kamis (1/10), Barclays menargetkan setengah dari total pengembang perangkat lunaknya telah menggunakan Claude Code, alat pengkodean berbasis agen kecerdasan buatan, sebelum akhir tahun ini berakhir. Target tersebut bahkan diperluas: mayoritas pengembang bank tersebut diharapkan mengadopsi teknologi itu pada akhir 2027.
Dari Asisten Pengetahuan hingga Pemrosesan 120 Ribu Email
Craig Bright, Group Co-Chief Operating Officer Barclays, menyatakan bahwa sistem kecerdasan buatan tengah mengubah lanskap rekayasa perangkat lunak dan keamanan siber secara fundamental. Menurutnya, bank kini menambahkan kapabilitas agen untuk membangun, menguji, mengamankan, dan mengoperasikan teknologi.
“Di Barclays, kami menggunakan Claude untuk membantu memodernisasi platform warisan, meningkatkan kualitas perangkat lunak, dan memungkinkan para ahli teknis kami fokus pada tantangan paling kompleks,” ujar Bright.
Kolaborasi ini bukan proyek percontohan semata. Barclays telah lebih dulu menerapkan sejumlah sistem berbasis Claude AI di berbagai lini operasionalnya:
- Colleague Knowledge Assistant, asisten pengetahuan internal yang telah digunakan lebih dari 16.000 karyawan Barclays di Inggris dan menangani lebih dari 1 juta pencarian sejak 2025.
- Model Claude di divisi Global Markets, yang memproses 120.000 email dari klien setiap hari dan membantu staf menindaklanjuti pesan-pesan tersebut secara lebih cepat dan akurat.
Langkah Barclays ini menegaskan bahwa Claude AI tidak lagi sekadar alat bantu eksperimental, melainkan telah menjadi tulang punggung operasional di institusi keuangan berskala global.
Peringatan dari Jepang: Menambah Skill Justru Menurunkan Performa
Namun, di tengah euforia adopsi, sebuah temuan dari Jepang memberikan catatan penting. Seorang engineer senior asal Jepang, kawasin73, mempublikasikan hasil pengujian yang mengejutkan: menambahkan kemampuan kustom atau custom skills ke dalam Claude Code ternyata tidak selalu meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, hal itu dapat menurunkan performa dan melonjakkan konsumsi token hingga hampir dua kali lipat.
Dalam eksperimennya, ia mengembangkan sebuah skill bernama session-title untuk memberi label emoji pada judul sesi kerja di aplikasi Claude Desktop. Versi pertama skill tersebut berisi 78 baris kode atau sekitar 4 kilobyte. Ketika ia memindahkan alur kerja ke lingkungan cloud, fungsi tersebut gagal berjalan. Ia pun memperluas skill menjadi 139 baris atau sekitar 7,4 kilobyte agar kompatibel di dua lingkungan sekaligus.
Alih-alih mempercepat pekerjaan, penambahan instruksi yang redundan justru membuat jumlah giliran percakapan meningkat, konsumsi token membengkak, dan pada akhirnya memicu apa yang ia sebut sebagai degradasi performa kecerdasan buatan. Kawasin mengakui bahwa sejak terbiasa menggunakan kecerdasan buatan untuk menulis kode, ia bahkan jarang melakukan peninjauan kode secara manual.
“Selama program bisa berjalan, saya menganggap semuanya beres,” tulisnya, seraya mengingatkan bahwa penumpukan skill tanpa evaluasi ketat dapat menyembunyikan biaya komputasi yang besar di balik ilusi keberhasilan tugas.
Persaingan Model Makin Ketat
Dinamika pasar Claude AI juga tidak lepas dari tekanan kompetitor. Google baru saja memperkenalkan Gemini 4 Argon, model yang diklaim unggul dalam 13 dari 19 pengujian benchmark melawan GPT-6 Astra dan Claude Opus 5.5. Meski demikian, keunggulan itu tidak merata. Pada pengujian FrontierSWE v2, GPT-6 Astra mencatatkan 65,5 persen, sementara Argon hanya 55 persen. Di Terminal-Bench 4.0, Claude Opus 5.5 memimpin dengan 66,4 persen, jauh di atas Argon yang meraih 57,4 persen.
Sementara itu, Meta mencatatkan rekor tersendiri melalui asisten personal Muse yang menembus 5 juta unduhan hanya dalam 22 hari sejak peluncuran. Pencapaian itu jauh melampaui ChatGPT yang membutuhkan 56 hari, Grok 103 hari, dan Claude 492 hari untuk mencapai angka serupa.
Di sektor data kripto, Blockworks turut mengintegrasikan datanya ke dalam Claude dan ChatGPT melalui server berbasis Model Context Protocol. Server ini memungkinkan pengguna mengakses data lebih dari 40.000 aset kripto langsung melalui asisten kecerdasan buatan, lengkap dengan sumber datanya.
Antara Efisiensi dan Kewaspadaan
Kisah Barclays dan temuan kawasin73 menghadirkan dua sisi mata uang yang sama. Di satu sisi, Claude AI terbukti mampu mentransformasi cara kerja perusahaan besar, memangkas waktu, dan meningkatkan kualitas layanan. Di sisi lain, adopsi tanpa disiplin evaluasi berisiko menimbulkan pemborosan sumber daya dan menurunkan kualitas hasil kerja.
Bagi perusahaan yang tengah berlomba mengintegrasikan kecerdasan buatan, pelajaran utamanya jelas: keberhasilan bukan diukur dari seberapa banyak fitur atau skill yang ditambahkan, melainkan dari seberapa tepat teknologi itu diterapkan pada masalah yang benar-benar membutuhkan solusi.
Sumber Berita: PYMNTS, T客邦, Kurir, Forbes Japan, Unchained
Penulis: Redaksi Teknologi
Editor: Redaksi
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






