Gayatri Putri News – 29 September 2026 | Di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel, sebuah strategi kontroversial mencuat dari sebuah lembaga pemikir terkemuka di Yerusalem. Dr. Dan Diker, presiden Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs, mengusulkan penggunaan hubungan ekonomi Israel dengan Otoritas Palestina (PA) sebagai senjata untuk melawan boikot internasional terhadap produk-produk Israel. Usulan ini muncul saat Israel menghadapi gelombang boikot dari berbagai negara, terutama terkait produk dari pemukiman di Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan.
Boikot sebagai Alat Tekan
Diker berargumen bahwa di bawah Perjanjian Oslo, produk Israel dari Area C diakui sebagai produk Israel, dan negara-negara yang memboikotnya dianggap mendistorsi kerangka hukum perjanjian tersebut. Ia mengusulkan agar Israel menggunakan hubungan ekonominya dengan PA sebagai leverage. “Sembilan puluh enam persen ekspor PA menuju Israel,” ujar Diker. “Jika kami memberlakukan boikot terhadap produksi Palestina, seperti furnitur, barang, buah-buahan, sayuran, dan lainnya, itu akan menghancurkan ekonomi mereka dan menjadi tuas tekanan pada negara-negara Barat.”
Ketika ditanya apakah langkah tersebut dapat memicu tuduhan bahwa Israel berusaha menyakiti populasi Palestina, Diker menjawab bahwa hasilnya akan sangat bergantung pada bagaimana Israel mempresentasikan kebijakannya kepada dunia. Ia menyerukan perubahan pada apa yang disebutnya sebagai “front kedelapan”, yaitu pertempuran untuk opini publik dan legitimasi internasional. Diker menilai bahwa warga Arab Israel dan Druze yang mengidentifikasi diri dengan Negara Israel dapat memainkan peran penting dalam menyajikan kasus Israel, termasuk mengekspos apa yang disebutnya sebagai propaganda Otoritas Palestina dan pembayaran kepada teroris serta keluarga mereka.
Ia juga menyebut bahwa aktivis Palestina di ibu kota negara-negara Barat berpotensi didorong untuk menekan pemerintah Eropa agar meninggalkan boikot yang pada akhirnya dapat merugikan ekonomi Palestina. Diker mengakui bahwa beberapa negara tidak mungkin mengubah posisi mereka, tetapi perubahan politik di negara-negara Barat lainnya dapat menciptakan peluang bagi Israel untuk mempengaruhi kebijakan. Ia juga menyerukan pendekatan yang lebih proaktif terhadap Amerika Serikat, di mana ia mengatakan Israel kehilangan dukungan di dalam Partai Demokrat. “Kita tidak boleh meminta maaf dan menjelaskan diri dari posisi defensif,” tegas Diker. “Kita bergerak dari hubungan masyarakat ke eksposur, dari pertahanan ke serangan di semua arena.” Untuk mencapai hal ini, Diker menyerukan pemerintah untuk membentuk “Kementerian Dampak dan Kesadaran” dan memperlakukan diplomasi publik internasional sebagai isu keamanan nasional, dengan sumber daya dan anggaran khusus untuk melawan kampanye diplomatik dan hubungan masyarakat terhadap Israel.
Gelombang Dukungan untuk Palestina di Irlandia dan Amerika
Sementara itu, dukungan terhadap Palestina terus menguat di berbagai belahan dunia. Dalam sebuah wawancara dengan Pakistan TV, Profesor Scott Lucas dari Clinton Institute, University College Dublin, menganalisis mengapa mayoritas penduduk Irlandia mendukung Palestina dan menentang pendudukan Israel, pemukiman ilegal, dan pembunuhan massal. Lucas mengaitkan konteks sejarah Irlandia dengan situasi kontemporer di Gaza dan Tepi Barat. Ia menggambarkan langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Irlandia, bersama negara lain, mulai dari pengakuan Negara Palestina hingga larangan impor barang Israel dari Tepi Barat. Lucas menambahkan bahwa meskipun langkah-langkah tersebut patut disambut, Pemerintah Israel tetap memiliki kebebasan bertindak selama negara-negara dan blok seperti AS, Jerman, dan Uni Eropa tidak memberikan tekanan signifikan.
Di Amerika Serikat, gelombang solidaritas pro-Palestina juga terlihat di kampus-kampus. Di Cornell University, sekitar 2.000 orang menghadiri acara “Students vs. Billionaires” yang diselenggarakan oleh Young Democratic Socialists of America (YDSA). Ketua YDSA, Mina Petrova dan Zoe Reisman, memimpin massa dalam meneriakkan slogan “from the river to the sea” sebelum Rep. Alexandria Ocasio-Cortez naik ke panggung. Reisman bahkan menyerukan “long live the student intifada”. Petrova menyerang kepemimpinan Cornell, menyebutnya sebagai institusi kapitalis yang memprioritaskan miliarder dan keuntungan di atas mahasiswa dan komunitas, serta dikendalikan oleh dewan CEO yang mengambil keuntungan dari genosida dan perang. Ocasio-Cortez, yang tampil tanpa menjauhkan diri dari tuan rumahnya, malah bergabung dalam menuduh Cornell melakukan penyensoran terhadap suara mahasiswa.
Ketegangan di Dunia Olahraga
Ketegangan juga merambah ke dunia olahraga. Timnas Irlandia belum menentukan sikap mereka untuk pertandingan ulang Nations League melawan Israel, menurut laporan media Irlandia pada Selasa (29/9/2026). Pelatih timnas Irlandia, Heimir Hallgrimsson, mengatakan bahwa pihaknya belum memutuskan secara pasti. Pernyataan ini muncul dua hari setelah Irlandia mengalahkan Israel 3-0 di Hongaria, dalam pertandingan yang diwarnai ketegangan. Para pemain Irlandia dilaporkan sempat melakukan voting untuk tetap bermain meskipun ada kekhawatiran dalam skuad terkait perang antara Israel dan Hamas di Gaza. Pertandingan berikutnya antara kedua negara dijadwalkan pada Minggu, 4 Oktober 2026, di TSC Arena, Bačka Topola, Serbia.
Di sisi lain, media Israel melaporkan berbagai peristiwa penting, termasuk kunjungan rahasia Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Uni Emirat Arab untuk membahas Iran, Houthi, dan keamanan regional. Selain itu, harga gas Israel diprediksi mencapai rekor tertinggi di atas $10 per galon akibat lonjakan biaya minyak global. Sebuah survei juga menemukan bahwa 27% Muslim Amerika menyalahkan Israel dan Zionis atas serangan 11 September. Di Berlin, kanselir Jerman memperingatkan bahwa kehidupan Yahudi di Jerman “tidak lagi aman” setelah kemenangan sayap kiri dalam “election intifada”.
Kesimpulan
Dinamika konflik Israel-Palestina semakin kompleks dengan munculnya strategi baru dari Israel untuk melawan boikot internasional, sekaligus meningkatnya solidaritas pro-Palestina di berbagai negara. Usulan Diker untuk menggunakan ekonomi PA sebagai senjata menuai kontroversi, sementara dukungan untuk Palestina terus mengalir dari Irlandia hingga kampus-kampus Amerika. Di tengah semua ini, pertandingan olahraga dan isu-isu domestik Israel menambah lapisan ketegangan yang memperumit upaya mencapai perdamaian. Masa depan kebijakan Israel dan respons internasional akan sangat menentukan arah konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






