Gayatri Putri News – 28 September 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah ditemukan kandungan bahan berbahaya dalam salah satu menunya. Peristiwa ini terjadi di UPT SD Negeri 58 Lengkese, Desa Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, pada Senin (21/9/2026). Empat guru mengalami keluhan gatal di area mulut hingga pembengkakan pada bibir setelah mencicipi menu MBG sebelum makanan tersebut dibagikan kepada para siswa.
Kepala UPT SD Negeri 58 Lengkese, Supriadi, menjelaskan bahwa pihak sekolah melakukan pengecekan rasa terlebih dahulu sebelum makanan diberikan kepada siswa. Menurutnya, keempat guru yang mencicipi menu tersebut langsung merasakan sensasi gatal dan menilai rasa makanan berbeda dari biasanya.
“Kami coba makanannya bersama teman-teman guru sebelum dibagikan. Setelah dicicipi, ada empat guru yang mengalami gatal di mulut dan rasanya juga berbeda,” ujar Supriadi.
Karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan pada siswa, pihak sekolah memutuskan untuk tidak membagikan makanan tersebut. Sekolah itu sendiri memiliki 86 siswa penerima manfaat MBG dan 12 tenaga kependidikan. Supriadi menegaskan tidak ada satu pun siswa yang mengalami gangguan kesehatan karena makanan belum sempat dikonsumsi oleh anak-anak.
Dinkes Takalar Temukan Boraks pada Sampel Tahu
Aduan para guru itu langsung ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Takalar bersama tim puskesmas dan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda). Tim kesehatan bergerak ke lokasi untuk melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan mengambil sampel makanan yang disajikan pada hari itu.
Kepala Dinkes Takalar, Nilal Fauziah, mengungkapkan bahwa pihaknya memeriksa dua bahan makanan dari menu MBG tersebut, yakni tahu dan ayam. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sampel tahu positif mengandung boraks, sementara pemeriksaan terhadap formalin dinyatakan negatif.
“Dari sampel makanan itu kami periksa ada dua bahan yang kami periksa yaitu ada tahu dan ada juga ayam. Dari pemeriksaan itu tahunya mengandung boraks dan juga kami lakukan pemeriksaan terhadap formalin tetapi keduanya negatif,” kata Nilal kepada wartawan, Kamis (24/9/2026).
Meski ditemukan boraks pada tahu, Nilal menegaskan pihaknya belum dapat memastikan bahwa reaksi alergi yang dialami para guru disebabkan oleh menu MBG. Pasalnya, para guru juga mengonsumsi makanan lain sehingga sumber alergi belum dapat dipastikan secara pasti.
“Alhamdulillah belum ada yang dirawat karena keracunan. Jadi mereka memang mengalami reaksi alergi, tetapi kita juga tidak bisa menjustifikasi apa penyebab reaksi alerginya karena tidak dilakukan pemeriksaan saat itu,” ungkapnya.
Peran SPPG Topejawa dan Imbauan Keamanan Pangan
Menu MBG tersebut disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa, Kecamatan Mangarabombang. Sebanyak 97 paket MBG yang didistribusikan ke sejumlah sekolah diketahui menggunakan tahu sebagai salah satu lauk. Kepala SPPG Topejawa, Muhammad Alwi, memberikan klarifikasi terkait penarikan makanan dari sekolah dan menyatakan bahwa makanan tersebut bukan dikembalikan atau ditolak pihak sekolah.
Terlepas dari perbedaan keterangan tersebut, temuan boraks ini menjadi peringatan serius bagi pengelolaan program MBG. Dinkes Takalar mengimbau seluruh SPPG agar lebih selektif dalam memilih bahan pangan yang akan diolah, terutama pangan olahan seperti tahu yang rentan dicampur zat berbahaya.
“Saya mengimbau ke seluruh SPPG yang ada di Kabupaten Takalar agar berhati-hati di dalam mencari bahan atau sumber pangan yang akan diolah untuk kebutuhan dapur MBG,” jelas Nilal.
Sejumlah siswa yang telah menerima paket MBG pun memilih untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut. Paket yang dikembalikan siswa kemudian dibuang karena mereka khawatir dengan kandungan bahan berbahaya di dalamnya.
Poin-Poin Penting Peristiwa di Takalar
- Empat guru UPT SD Negeri 58 Lengkese mengalami gatal di mulut dan pembengkakan bibir usai mencicipi menu MBG pada Senin (21/9/2026).
- Sebanyak 86 siswa tidak mengonsumsi makanan tersebut karena keluhan muncul saat proses uji rasa.
- Dinkes Takalar memeriksa sampel tahu dan ayam; hasilnya tahu positif boraks, sedangkan formalin negatif.
- Menu berasal dari SPPG Topejawa dengan total 97 paket yang didistribusikan ke sejumlah sekolah.
- Dinkes mengimbau seluruh SPPG menguji bahan baku, terutama pangan olahan, sebelum digunakan.
Kasus ini menegaskan pentingnya pengawasan mutu bahan pangan dalam program MBG yang menyasar anak-anak sekolah. Meskipun belum ada siswa yang terdampak langsung, kejadian ini menunjukkan bahwa risiko kontaminasi zat berbahaya, seperti boraks pada tahu, masih mengintai. Pengujian bahan baku secara rutin dan pengawasan ketat terhadap pemasok menjadi langkah krusial agar program MBG tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi. Pemerintah daerah dan seluruh SPPG diharapkan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran untuk memperketat seleksi bahan pangan demi melindungi kesehatan para penerima manfaat.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






