Gayatri Putri News – 25 September 2026 | Doha dan Manama kembali menegaskan posisi mereka di tengah memanasnya situasi keamanan kawasan Teluk. Qatar dan Bahrain secara terpisah menyampaikan kecaman keras terhadap serangan rudal balistik yang dilancarkan milisi Houthi ke dua kota besar Arab Saudi, Taif dan Yanbu. Serangan tersebut dinilai bukan hanya pelanggaran kedaulatan Riyadh, tetapi juga ancaman nyata bagi stabilitas seluruh negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Kementerian Luar Negeri Qatar dalam pernyataan resminya menyebut serangan itu sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan menargetkan warga sipil serta infrastruktur vital. Doha menyerukan penghentian segera aksi militer tersebut dan menegaskan solidaritas penuh dengan Arab Saudi, termasuk mendukung langkah sah Riyadh dalam melindungi keamanan, integritas wilayah, dan kepentingan nasionalnya.
“Keamanan Arab Saudi sangat erat kaitannya dengan keamanan Qatar dan keamanan kolektif negara-negara GCC,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar, menegaskan bahwa ancaman terhadap satu anggota adalah ancaman bagi semua.
Bahrain: Eskalasi Berbahaya yang Mengancam Kawasan
Senada dengan Doha, Bahrain melalui Kementerian Luar Negerinya menyebut serangan Houthi sebagai eskalasi berbahaya, pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, hukum humaniter, dan Piagam PBB. Manama menegaskan dukungan penuh bagi segala upaya Riyadh menjaga kedaulatan, keamanan, serta melindungi warga dan penduduk sesuai Pasal 51 Piagam PBB yang mengatur hak membela diri.
Kecaman ini muncul setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan telah mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke Taif dan Yanbu. Serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian eskalasi yang melibatkan Houthi, Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.
Ketegangan Regional dan Mediasi Qatar
Di tengah situasi ini, Qatar tetap memainkan peran diplomasi aktif. Perdana Menteri Qatar dilaporkan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat, melanjutkan upaya mediasi Doha yang telah lama menjadi jembatan antara Teheran dan negara-negara Barat maupun Arab. Iran sendiri dikabarkan menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir dalam tujuh hari jika Amerika Serikat mencabut blokade laut, menghapus sanksi penjualan minyak, dan menyetujui gencatan senjata yang mencakup Lebanon.
Namun ketegangan belum mereda. Irak melalui Bandara Internasional Najaf menghentikan seluruh penerbangan ke dan dari Iran mulai pukul 02.00 waktu setempat, menyusul instruksi kantor perdana menteri Irak untuk menegakkan sanksi AS terhadap maskapai Iran. Bandara tersebut merupakan hub utama bagi penerbangan Iran yang melayani jamaah, pelajar, dan pasien.
Dampak pada Aviasi: Qatar Airways Pensiunkan A330
Konflik berkepanjangan juga memukul sektor penerbangan. Qatar Airways resmi memensiunkan seluruh armada Airbus A330 penumpangnya dan mengalihkan sejumlah pilot ke RwandAir melalui skema penugasan sementara. Langkah ini mempercepat pembaruan armada di tengah lonjakan harga avtur yang berlipat ganda sejak perang Iran dimulai.
Maskapai nasional Qatar itu sebelumnya menyewa empat pesawat A330 dari Oman Air pada tahun lalu dan berencana mengoperasikannya hingga akhir 2026, namun pesawat tersebut tidak pernah masuk layanan. Salah satu unit A330 kini diakuisisi maskapai Rwanda, RwandAir. Qatar Airways menyatakan dalam lima tahun ke depan pihaknya mengharapkan 138 pesawat baru, dengan armada saat ini mencakup 239 jet penumpang dan 30 pesawat kargo.
F1 2026: Imola Menjadi Rencana Cadangan
Ketidakpastian keamanan kawasan juga merembet ke dunia olahraga. Formula One Management (FOM) dilaporkan tengah menyiapkan Sirkuit Imola sebagai pengganti “siap pakai” untuk seri penutup musim F1 2026. Qatar dan Abu Dhabi dijadwalkan menjadi tuan rumah dua putaran terakhir pada 29 November dan 6 Desember 2026.
Meski FOM tetap yakin kedua balapan di Timur Tengah itu bisa digelar sesuai jadwal, mereka menyiapkan Rencana B dan C. Jika Qatar dan Abu Dhabi dinilai tidak layak, kedua balapan dibatalkan dan musim berakhir di Imola pada 6 Desember. Keputusan akhir yang semula dijadwalkan pertengahan September kini mundur ke pertengahan hingga akhir Oktober, memberi waktu sekitar satu bulan untuk penjualan tiket resmi Imola.
Kesimpulan
Kecaman bersama Qatar dan Bahrain terhadap serangan Houthi menegaskan solidaritas GCC dalam menghadapi ancaman keamanan regional. Namun ketegangan yang belum surut memaksa sektor aviasi dan even olahraga internasional menyiapkan skenario darurat. Qatar dan Bahrain, sebagai dua negara Teluk yang paling terdampak, kini berada di persimpangan antara diplomasi, stabilitas ekonomi, dan keselamatan kawasan.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






