Gayatri Putri News – 25 September 2026 | Laga pembuka Grup 3 League B UEFA Nations League 2026/27 antara Austria vs Israel di Raiffeisen Arena, Linz, Kamis malam waktu setempat, berakhir dengan kemenangan tuan rumah 3-1. Namun sorotan tidak hanya datang dari lapangan. Sebuah spanduk bertuliskan “END GENOCIDE” yang dibentangkan organisasi hak asasi manusia Amnesty International Austria di dalam stadion mengubah pertandingan ini menjadi panggung politik yang menggema jauh melampaui 90 menit pertandingan.
Jalannya Pertandingan: Austria Dominan Sejak Awal
Bertindak sebagai tuan rumah, Austria yang dilatih Ralf Rangnick tampil menekan sejak menit pertama. Dengan formasi 4-2-3-1, pasukan tuan rumah mengandalkan Alexander Schlager di bawah mistar, dengan Kevin Danso dan Philipp Lienhart sebagai tembok pertahanan. Romano Schmid menjadi motor serangan, didukung Xaver Schlager dan Nicolas Seiwald di lini tengah, serta Michael Gregoritsch, Patrick Wimmer, dan Marco Grüll di barisan depan.
Israel yang ditangani Ran Ben Shimon menurunkan kekuatan terbaiknya dengan skema serupa. Daniel Peretz dipercaya menjaga gawang, sementara Manor Solomon, Oscar Gloukh, dan Sayed Abu Farkhi menjadi andalan di lini serang. Namun, pertahanan Israel yang dikawal Roy Revivo, Nikita Stoinov, Idan Nachmias, dan Guy Mizrahi harus bekerja keras menghadapi gempuran Austria.
Gol pembuka Austria lahir pada menit ke-43 melalui titik putih. Romano Schmid mengeksekusi penalti dengan tenang, membawa tuan rumah unggul 1-0 hingga turun minum.
Drama Kartu Merah Abu Farkhi
Babak kedua menyajikan drama yang tak terduga. Pada menit ke-55, Sayed Abu Farkhi mencetak gol penyama kedudukan untuk Israel. Namun selebrasi pemain berusia 20 tahun itu justru berujung petaka. Ia terlihat menggunakan tiang bendera sudut untuk meniru gerakan menembak senjata, sebuah aksi yang dianggap provokatif dan melanggar hukum permainan.
Wasit tak ragu memberikan kartu kuning kedua kepada Abu Farkhi pada menit ke-56, yang berarti kartu merah langsung. Hukum sepak bola memang mengatur bahwa seorang pemain dapat dikartu kuning karena selebrasi gol yang bersifat provokatif, merendahkan, atau memicu kerusuhan. Keputusan ini membuat Israel harus bermain dengan sepuluh orang selama lebih dari setengah jam sisa pertandingan.
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Austria dengan maksimal. Pada menit ke-90, Phillipp Mwene mencetak gol kedua tuan rumah setelah memanfaatkan umpan Paul Wanner. Tiga menit berselang, tepatnya di menit 90+3, Sasa Kalajdzic menutup pesta gol Austria lewat assist Christoph Lang. Skor akhir 3-1 untuk kemenangan Austria.
Protes Amnesty International dan Seruan Suspend IFA
Di tengah jalannya pertandingan, Amnesty International Austria membentangkan spanduk bertuliskan “END GENOCIDE” di dalam stadion. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye mereka yang menyerukan kepada UEFA dan FIFA untuk menangguhkan keanggotaan Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA).
Amnesty International menilai IFA terus memberikan dukungan terhadap permukiman ilegal Israel di Wilayah Palestina yang Diduduki. Mereka menuntut agar klub-klub dari permukiman ilegal tersebut segera dikeluarkan dari kompetisi domestik Israel. Surat resmi telah dilayangkan kepada FIFA dan UEFA pada Oktober 2025, namun hingga kini belum ada tindakan konkret.
“Protes kami diarahkan kepada banyak pemerintah dan otoritas olahraga yang tahu persis apa yang terjadi di Jalur Gaza dan masih tidak melakukan apa pun untuk melawan genosida,” ujar Alexander Weihrauch, Campaigner Amnesty International Austria. “Genosida Israel yang berkelanjutan terhadap warga Palestina, sistem apartheid, pembersihan etnis di Area C Tepi Barat, dan pendudukan ilegal atas seluruh Wilayah Palestina tidak boleh hilang dari perhatian publik.”
Konteks Lebih Luas: Gaza dan Boikot Irlandia
Laga ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel. Lebih dari 73.000 orang dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Gaza, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas, angka yang dianggap kredibel oleh PBB. Perang ini dipicu oleh serangan Hamas ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang lainnya.
Dunia sepak bola pun turut terimbas. Pekan ini, muncul kampanye agar Republik Irlandia memboikot dua pertandingan mereka melawan Israel. Laga kandang dan tandang tersebut dijadwalkan berlangsung di venue netral tanpa kehadiran suporter tim tamu, menjadikannya salah satu pertandingan paling kontroversial dalam sejarah Nations League.
Statistik dan Rekam Jejak Pertemuan
Secara historis, pertemuan Austria vs Israel memang dikenal selalu berjalan ketat dan menghasilkan banyak gol. Dari 10 pertemuan, Austria menang 4 kali, Israel 3 kali, dan 3 laga berakhir imbang, dengan total 21 gol untuk Austria dan 23 gol untuk Israel. Empat pertemuan terakhir tidak pernah berakhir imbang, dengan rata-rata 5,75 gol per pertandingan.
Hasil ini menjadi modal berharga bagi Austria untuk memulai kampanye Nations League mereka. Sementara bagi Israel, kekalahan ini menambah catatan buruk mereka, terlebih dengan insiden kartu merah yang akan membuat Abu Farkhi absen di laga berikutnya.
Kemenangan Austria atas Israel di Linz bukan sekadar catatan tiga poin. Laga ini menjadi cermin bagaimana lapangan sepak bola kerap berubah menjadi ruang ekspresi politik ketika isu kemanusiaan mendesak. Protes Amnesty International dan selebrasi kontroversial Abu Farkhi menegaskan bahwa pertandingan ini akan dikenang bukan hanya karena skor 3-1, tetapi juga karena pesan-pesan yang menyertainya. Austria kini mengintip peluang lolos dari fase grup, sementara Israel harus segera berbenah jika ingin menjaga asa di kompetisi ini.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






