Earl Spencer Guncang Istana: Tuding Raja Charles ‘Gaslighting’ dan Ancaman Buku Memoar Diana

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Earl Spencer Guncang Istana: Tuding Raja Charles 'Gaslighting' dan Ancaman Buku Memoar Diana

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 22 September 2026 | Nama Charles Spencer kembali menjadi sorotan dunia setelah memoarnya yang berjudul Swan Song: Diana, My Sister memicu gejolak baru di lingkungan Istana Buckingham. Pria berusia 62 tahun itu, yang merupakan adik mendiang Putri Diana, melontarkan serangkaian tuduhan mengejutkan terhadap mantan iparnya, Raja Charles, menjelang peluncuran bukunya. Klaim-klaim tersebut tidak hanya membuka kembali luka lama seputar kematian Diana pada 1997, tetapi juga memicu perdebatan sengit mengenai batas antara duka pribadi dan protokol kerajaan.

Tuduhan Telepon Kontroversial Usai Kematian Diana

Pusat dari kontroversi ini adalah penggambaran Spencer mengenai sebuah percakapan telepon dengan Charles, yang saat itu masih bergelar Pangeran Wales, beberapa hari setelah kematian Diana dalam kecelakaan mobil di Paris. Dalam bukunya, Spencer mengklaim bahwa Charles terdengar seperti seorang “pemenang lotre” dan mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan: “Yakinlah, kita akan segera melupakannya.” Spencer menggambarkan nada bicara Charles saat itu sebagai “girang dan bersemangat.”

Klaim ini langsung memicu reaksi keras dari Istana Buckingham. Dalam pernyataan resmi yang jarang terjadi, pihak istana menyatakan bahwa “rasa sakit duka persaudaraan dapat mengaburkan akal sehat, penilaian, dan ingatan.” Pernyataan ini secara implisit meragukan akurasi ingatan Spencer. Namun, alih-alih mereda, Spencer justru meningkatkan serangannya. Dalam wawancara dengan Mail on Sunday, ia menuduh Raja Charles melakukan “gaslighting” terhadapnya.

“Tidak setiap hari Anda bangun dan mendapati diri Anda digaslighting oleh Raja,” ujarnya dengan nada tajam. Ia menambahkan bahwa pernyataan istana tersebut sangat provokatif dan di bawah standar, karena pada dasarnya menyiratkan bahwa ia berbohong tanpa Raja sendiri secara langsung membantah isi percakapan tersebut.

Ancaman Tersirat dan Informasi yang Disimpan

Ketegangan semakin memanas ketika Spencer muncul dalam wawancara dengan BBC bersama Laura Kuenssberg. Dalam kesempatan itu, ia memberikan petunjuk mengejutkan bahwa ia masih menyimpan banyak informasi tentang Raja Charles yang tidak dimasukkan ke dalam bukunya. “Saya tahu banyak hal tentang Raja yang tidak saya masukkan ke dalam buku karena tidak relevan,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah pernyataannya tersebut merupakan bentuk ancaman dengan informasi yang berpotensi merusak, Spencer dengan tegas membantahnya. “Sama sekali bukan ancaman, itu hanya kenyataan,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa jika ia ingin membuat bukunya lebih sensasional, ia memiliki lebih banyak materi yang bisa digunakan. Pernyataan ini memicu spekulasi luas mengenai apa lagi yang mungkin disembunyikan oleh Spencer tentang kehidupan pribadi Raja Charles.

Dampak pada Hubungan William dan Harry

Selain menyerang Charles, memoar ini juga menyinggung dinamika antara kedua putra Diana, Pangeran William dan Pangeran Harry. Spencer mengkritik keputusan untuk meminta William dan Harry, yang saat itu masih berusia 15 dan 12 tahun, berjalan di belakang peti jenazah ibu mereka dalam prosesi pemakaman. Ia mengklaim bahwa Diana tidak akan menginginkan hal itu terjadi.

Menurut laporan, Pangeran William sangat marah dengan publikasi buku pamannya tersebut. Sumber istana menyebutkan bahwa Raja Charles sangat terluka dan geram dengan klaim-klaim tersebut, namun memilih untuk mengambil pendekatan “tetap tenang dan lanjutkan hidup.” Kekhawatiran utama Raja saat ini adalah dampak dari buku ini terhadap upaya rekonsiliasi antara dirinya dengan Pangeran Harry, yang selama ini telah menjadi sorotan publik.

Spencer sendiri menyatakan bahwa ia telah berbicara dengan William dan Harry, dan ia yakin isi bukunya tidak akan mengejutkan mereka. “Saya tidak suka membicarakan apa yang saya diskusikan dengan William dan Harry, tetapi ini tidak akan menjadi kejutan bagi mereka,” katanya. Namun, pernyataan ini tidak meredakan ketegangan yang ada di dalam keluarga kerajaan.

Reaksi Publik dan Masa Depan Monarki

Kontroversi ini telah memecah opini publik di Inggris. Sebagian media dan komentator kerajaan mempertanyakan tujuan Spencer mengungkit kembali masa lalu yang kelam, sementara yang lain membelanya dengan alasan bahwa ia lebih mengutamakan keluarga daripada tradisi kerajaan. Bagi sebagian pihak, buku ini dianggap sebagai upaya Spencer untuk meluruskan sejarah dan memberikan penghormatan yang layak bagi saudarinya.

Namun, bagi Istana Buckingham, situasi ini merupakan gangguan yang signifikan. Pernyataan resmi yang dikeluarkan istana menunjukkan bahwa mereka berusaha untuk tidak memperpanjang kontroversi, tetapi tuduhan “gaslighting” dari Spencer telah membuat istana berada di posisi yang sulit. Spencer bahkan menyamakan pernyataan istana dengan pernyataan mendiang Ratu Elizabeth II yang terkenal, “kenangan bisa berbeda-beda,” namun ia menyebut versi baru ini sebagai “imitasi yang cukup buruk.”

Di tengah semua ini, Spencer menegaskan bahwa mendiang saudarinya akan mendukung tindakannya. “Diana akan bersorak dari atas sana untuk memoar ini,” ujarnya. Ia percaya bahwa buku ini adalah bentuk keadilan bagi Diana yang selama ini dianggap tidak mendapatkan perlakuan yang layak dari institusi kerajaan.

Kontroversi yang dipicu oleh Charles Spencer ini menyoroti kerentanan monarki modern dalam menghadapi narasi personal yang kuat. Meskipun Raja Charles berusaha untuk tetap tenang, bayang-bayang masa lalu dan hubungan yang rumit dengan keluarga Spencer terus menghantui. Buku ini tidak hanya menjadi catatan pribadi, tetapi juga potensi bom waktu yang dapat mempengaruhi stabilitas dan citra keluarga kerajaan di mata publik. Bagaimana istana menavigasi krisis ini, serta apakah akan ada lebih banyak pengungkapan dari Spencer di masa depan, masih menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.