Dolar AS Mengamuk, Rupiah dan Mata Uang Asia Terkapar: Sinyal The Fed Makin Hawkish

Avatar Rizky

by

Published

Last update

4 menit

Read Time

Dolar AS Mengamuk, Rupiah dan Mata Uang Asia Terkapar: Sinyal The Fed Makin Hawkish

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 22 September 2026 | JAKARTA – Pasar keuangan global kembali bergejolak pada pekan ketiga September 2026. Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan taringnya setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen. Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023 dan langsung mengguncang mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.

Pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026), rupiah berada di level Rp17.790 per dolar AS. Hingga pukul 09.11 WIB, mata uang Garuda tercatat melemah 22 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp17.780 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.758. Tekanan ini tidak lepas dari lonjakan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS atau US Treasury yang dipicu prospek suku bunga The Fed yang lebih tinggi.

Dolar AS Perkasa, Mata Uang Asia Berjatuhan

Penguatan dolar AS sepanjang pekan lalu membuat mayoritas mata uang Asia terpuruk. Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama bertengger di level 100,248 pada penutupan Kamis (17/9/2026) waktu New York. Pergerakan itu menghentikan reli enam hari berturut-turut dolar AS, namun tetap meninggalkan luka mendalam bagi mata uang regional.

Merujuk data Refinitiv, won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan pelemahan 3,19 persen sepanjang pekan. Yen Jepang menyusul dengan penurunan 2,11 persen. Pelemahan yen terbilang mengejutkan karena Bank of Japan (BoJ) justru menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25 persen pada Jumat (18/9/2026), level tertinggi sejak 1995. Namun pasar menilai keputusan itu kurang hawkish dari perkiraan, sehingga yen tetap tertekan. Selisih suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang juga membuat strategi carry trade yen masih menguntungkan.

Rupiah sendiri sempat berbalik menguat tipis 0,03 persen ke Rp17.730 per dolar AS pada penutupan Jumat (18/9/2026). Meski begitu, secara akumulatif mata uang Garuda masih melemah 0,82 persen sepanjang pekan. Pengecualian terjadi pada yuan China yang mampu bertahan dan bahkan mengalahkan dolar AS.

Tekanan The Fed dan RDG BI

Pengamat pasar uang Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah terjadi seiring kenaikan yield US Treasury yang dipengaruhi prospek suku bunga The Fed lebih tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung Rabu pekan ini.

“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang memberikan tekanan pada BI menjelang RDG BI Rabu ini,” ujarnya.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti sikap hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh yang menilai inflasi masih terlalu tinggi. Keputusan kenaikan suku bunga disebut sebagai upaya mengurangi tingkat akomodasi kebijakan moneter karena kondisi keuangan dinilai belum menunjukkan pengetatan signifikan. Pandangan tersebut mendapat dukungan luas dari anggota Federal Open Market Committee (FOMC), mengisyaratkan masih terbukanya ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan potensi ditutup melemah di kisaran Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Emas dan Minyak Ikut Terdampak

Di pasar komoditas, harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Jumat waktu setempat. Emas spot naik 0,9 persen menjadi USD4.379,59 per ons, sedangkan emas berjangka menguat 0,4 persen ke USD4.417,84 per ons. Dalam sepekan, emas spot naik 0,8 persen dan emas berjangka menguat 0,2 persen. Penguatan emas didukung pelemahan dolar AS dan berlanjutnya penurunan harga minyak.

Sebelumnya, pada Rabu (16/9/2026), harga minyak Brent turun 2,7 persen menjadi 105,83 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 3,2 persen menjadi 102,43 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah muncul harapan Arab Saudi dapat memulihkan sekitar setengah dari pasokan minyak yang terdampak dalam beberapa hari ke depan.

Lukman Leong menilai penurunan harga minyak mentah dunia menjadi sentimen positif bagi rupiah karena meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan Jumat.

Dampak bagi Pasar Domestik

Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, kombinasi dolar AS yang kuat dan ketidakpastian kebijakan The Fed menghadirkan tantangan tersendiri. Beberapa dampak yang perlu dicermati antara lain:

  • Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang modal.
  • Kenaikan imbal hasil US Treasury yang membuat aset berdenominasi dolar AS lebih menarik, berisiko memicu arus modal keluar dari pasar emerging market.
  • Harga minyak yang masih volatil akibat dinamika pasokan global, memengaruhi inflasi domestik dan anggaran subsidi energi.
  • Keputusan RDG BI menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik minat investor asing.

Pasar juga mencermati kebijakan bank sentral lain, termasuk Bank of England (BoE) yang mempertahankan suku bunga acuan, serta prospek kebijakan BoJ ke depan. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar cenderung wait and see sebelum menentukan posisi.

Dengan sikap The Fed yang masih hawkish dan inflasi AS yang belum sepenuhnya terkendali, tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia lainnya diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Kemampuan Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter serta respons pasar terhadap RDG pekan ini akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya. Investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas dan mengelola risiko portofolio dengan bijak di tengah dinamika global yang cepat berubah.