Gayatri Putri News – 19 September 2026 | Lebih dari dua dekade telah berlalu sejak kepindahan kontroversial Luis Figo dari Barcelona ke Real Madrid pada musim panas tahun 2000. Namun, hingga hari ini, nama sang legenda Portugal tersebut masih mampu memicu gelombang emosi yang kuat di kalangan pendukung klub Catalan. Luka sejarah itu kini kembali terbuka setelah tersiar kabar bahwa Barcelona secara tegas menolak tawaran kerja sama finansial bernilai fantastis dari perusahaan teknologi finansial, Revolut.
Penolakan Demi Harga Diri Klub
Manajemen FC Barcelona, di bawah komando Joan Laporta, dilaporkan mengambil keputusan krusial untuk membatalkan potensi kemitraan dengan Revolut. Meskipun tawaran tersebut sangat menggiurkan secara ekonomi di tengah upaya klub mencari pengganti sponsor utama setelah berakhirnya kontrak dengan CaixaBank, direksi klub merasa tidak dapat berkompromi dengan prinsip emosional suporter.
Alasan utamanya adalah posisi Luis Figo sebagai duta global bagi Revolut. Perusahaan tersebut bahkan secara terang-terangan menggunakan narasi kepindahan Figo yang penuh drama dalam kampanye iklan mereka. Bagi publik Camp Nou, tindakan tersebut dianggap sebagai pengkhianatan yang belum termaafkan. Manajemen Barcelona khawatir bahwa menjalin kerja sama dengan entitas yang mengagungkan sosok Figo akan merusak hubungan harmonis antara klub dan para pendukung setianya.
Warisan Galacticos dan Rivalitas Abadi
Luis Figo memang bukan sekadar mantan pemain biasa bagi sejarah Real Madrid. Ia dikenal sebagai rekrutan marquee pertama dalam era Galacticos di bawah kepemimpinan Florentino Perez. Kepindahannya dari Barcelona ke Madrid mengubah peta kekuatan sepak bola Spanyol secara drastis. Selama berkarier di Santiago Bernabeu, Figo meraih kesuksesan besar, termasuk memenangkan gelar LaLiga dan Liga Champions, yang mempertegas posisinya sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah direkrut Madrid sejak era 90-an.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, memori tentang kedatangan pertamanya di Camp Nou sebagai pemain lawan pada Oktober 2000 tetap menjadi salah satu momen paling mencekam dalam sejarah sepak bola. Sorakan permusuhan yang begitu intens hingga memaksa Figo menutup telinganya dengan jari menjadi simbol betapa mendalamnya kebencian suporter Barcelona terhadap keputusan kariernya kala itu.
Figo Tetap Menjadi Pusat Perhatian
Pengaruh Luis Figo dalam dunia sepak bola tidak hanya terbatas pada urusan sponsor. Baru-baru ini, dalam sebuah acara promosi video game FC 27 di New York, mantan bintang Real Madrid, Marcelo, sempat melontarkan candaan mengenai perbedaan jumlah gelar Liga Champions antara Madrid dan Barcelona. Meskipun Figo hadir dalam acara tersebut, kehadirannya seolah menegaskan bagaimana rivalitas antara kedua klub raksasa Spanyol itu selalu menjadi komoditas yang menarik perhatian publik, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Keputusan Barcelona untuk mengorbankan keuntungan finansial demi menjaga perasaan suporter menunjukkan bahwa bagi klub besar, nilai identitas dan sejarah terkadang jauh lebih berharga daripada angka di atas kertas. Hingga kini, Luis Figo tetap menjadi figur yang dicintai di Madrid namun tetap menjadi sosok yang tabu untuk dibicarakan di Barcelona, sebuah bukti bahwa sepak bola adalah tentang loyalitas yang melampaui batas waktu.
Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa keputusan seorang atlet di masa lalu dapat memiliki dampak jangka panjang yang melampaui karier bermainnya. Barcelona telah menunjukkan bahwa mereka lebih memilih untuk tetap setia pada memori kolektif pendukungnya daripada harus menjalin kemitraan dengan pihak yang dianggap mengabaikan luka sejarah klub.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






