Gayatri Putri News – 13 September 2026 | Pemerintah Kabupaten Kotabaru melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara resmi menyelenggarakan Rapat Koordinasi Kedaruratan Bencana Karhutla dan Kekeringan. Acara yang berlangsung di Aula Bamega ini bertujuan untuk menyatukan langkah antisipasi menghadapi dampak musim kemarau yang sedang melanda wilayah tersebut.
Sekretaris Daerah Kotabaru, H. Eka Saprudin, dalam sambutannya menekankan bahwa kondisi kemarau saat ini membawa dua ancaman serius, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih. Dampak dari bencana ini tidak hanya terbatas pada kerusakan ekosistem dan polusi udara, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Tantangan Ketersediaan Air Baku
Salah satu poin krusial yang dibahas dalam rapat tersebut adalah kendala ketersediaan sumber air baku di Kabupaten Kotabaru. Eka Saprudin menyoroti beberapa tantangan utama yang dihadapi di lapangan, di antaranya:
- Keterbatasan akses sumber air di wilayah Pulau Laut.
- Ketidaksesuaian antara kesiapan peralatan pemadam dengan ketersediaan titik air.
- Risiko kekeringan pada lahan pertanian dan konsumsi rumah tangga.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mencari dan mengelola potensi sumber air baku baru guna mengatasi masalah klasik “susah air” di wilayah tersebut. Meskipun peralatan untuk penanganan karhutla sudah mencukupi, tantangan distribusi air tetap menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan.
Sebagai penutup, pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, sektor swasta, dan aparat keamanan untuk bersinergi. Kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai kunci utama dalam mencegah meluasnya dampak karhutla serta memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi selama masa kekeringan berlangsung.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






