Waspada Cuaca Ekstrem: BMKG Ingatkan Potensi Udara Kabur dan Ancaman Karhutla di Indonesia

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Waspada Cuaca Ekstrem: BMKG Ingatkan Potensi Udara Kabur dan Ancaman Karhutla di Indonesia

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 13 September 2026 | Indonesia saat ini tengah menghadapi dinamika atmosfer yang kompleks di tengah periode musim kemarau yang masih mendominasi sebagian besar wilayah nusantara. Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena udara kabur yang menyelimuti banyak wilayah pada Minggu, 13 September 2026, serta ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Distribusi Cuaca Nasional dan Fenomena Udara Kabur

Prakirawan BMKG, Henokhvita, melaporkan bahwa kondisi udara kabur terpantau terjadi di berbagai titik, mulai dari wilayah Sumatera seperti Bengkulu, Palembang, dan Bandar Lampung, hingga ke beberapa kota di Kalimantan seperti Tanjung Selor, Palangka Raya, Samarinda, dan Banjarmasin. Di Pulau Jawa, wilayah Yogyakarta juga dilaporkan mengalami kondisi serupa, sementara kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang cenderung berawan tebal.

Secara umum, meski Indonesia berada dalam fase puncak kemarau dengan sekitar 81,1 persen wilayah berada dalam zona musim kering, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap muncul secara lokal. Faktor-faktor seperti gelombang Rossby ekuatorial, gelombang Kelvin, serta pertemuan massa udara mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah, termasuk sebagian Sumatera, Banten, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua.

Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menekankan bahwa perubahan iklim adalah realitas yang menuntut kesiapsiagaan tinggi dari seluruh elemen bangsa. Salah satu dampak paling krusial dari musim kemarau panjang tahun ini adalah meningkatnya Fire Weather Index (FWI). BMKG memprediksi kategori tinggi hingga sangat tinggi untuk potensi kebakaran hutan dan lahan pada periode 11 hingga 17 September 2026, terutama di wilayah berikut:

  • Sumatera bagian timur, tengah, dan selatan
  • Sebagian besar wilayah Jawa
  • Kalimantan bagian tengah dan selatan
  • Sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara
  • Papua bagian barat dan selatan

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menambahkan bahwa masyarakat harus lebih bijak dalam penggunaan air bersih di tengah ancaman kekeringan. Ia secara tegas mengimbau warga untuk menghindari aktivitas pembakaran sampah atau pembukaan lahan secara sembarangan yang dapat memicu titik panas (hotspot) di tengah kondisi atmosfer yang labil.

Rekomendasi Kesiapsiagaan

Melihat kondisi cuaca yang bervariasi, BMKG menyarankan masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi melalui kanal-kanal komunikasi BMKG. Bagi warga yang berada di wilayah dengan potensi angin kencang dan hujan lebat, seperti di Aceh, wilayah Sulawesi, hingga Papua, diharapkan tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi jangka pendek.

Secara keseluruhan, tantangan iklim di tahun 2026 ini mengharuskan masyarakat untuk lebih adaptif. Dengan tetap menjaga kesehatan dari paparan debu dan suhu panas ekstrem, serta mematuhi arahan instansi terkait mengenai penggunaan air dan pencegahan api, diharapkan dampak negatif dari cuaca ekstrem selama masa peralihan dan puncak kemarau ini dapat diminimalisir secara kolektif.