Gayatri Putri News – 11 September 2026 | Turnamen US Open 2026 kembali menyajikan drama yang tak terlupakan bagi para penggemar tenis dunia. Dalam pertandingan babak perempat final yang berlangsung dramatis, petenis Amerika Serikat, Ben Shelton, berhasil menghentikan langkah juara bertahan Carlos Alcaraz melalui pertarungan lima set yang melelahkan. Pertandingan yang berakhir dengan skor 7-6(5), 1-6, 3-6, 6-1, 6-7(7) ini tidak hanya menyoroti kebangkitan Shelton, tetapi juga memicu perdebatan sengit mengenai jadwal pertandingan yang dinilai tidak manusiawi.
Duel Sengit hingga Dini Hari
Pertandingan antara Shelton dan Alcaraz tercatat sebagai salah satu laga paling ikonik musim ini, dengan durasi mencapai empat jam 28 menit. Ketegangan memuncak saat laga baru bisa diselesaikan pada pukul 03:33 pagi waktu setempat. Bagi Alcaraz, kekalahan ini menghentikan rekor kemenangan beruntunnya di ajang Grand Slam sebanyak 18 pertandingan. Sang petenis Spanyol yang sempat absen selama empat bulan akibat cedera pergelangan tangan di Barcelona, tetap menunjukkan sportivitas tinggi dengan memberikan apresiasi kepada lawannya melalui media sosial.
Alcaraz mengungkapkan rasa hormatnya kepada Shelton melalui sebuah pesan hangat, mengakui bahwa lawannya layak mendapatkan kemenangan tersebut. Meski tersingkir, Alcaraz menyatakan kepuasan atas level permainannya pasca masa pemulihan cedera. Di sisi lain, kemenangan ini menjadi momentum krusial bagi Ben Shelton, yang kini melaju ke babak semifinal untuk menghadapi Frances Tiafoe, membuka harapan bagi publik tuan rumah untuk melihat juara Amerika di US Open setelah penantian panjang selama 23 tahun.
Kontroversi Jadwal dan Masa Depan Format Tenis
Di balik gemerlap kemenangan Shelton, pihak tim pelatih Alcaraz melontarkan kritik tajam terhadap penyelenggara turnamen. Menjalani pertandingan lima set yang dimulai pada pukul 11 malam dianggap sangat tidak sehat bagi fisik seorang atlet profesional. Isu ini memicu diskusi lebih luas mengenai perlunya perubahan format tenis agar lebih ramah terhadap kesehatan pemain dan audiens.
Jim Courier, legenda tenis sekaligus pundit olahraga, turut memberikan pandangannya dalam perdebatan ini. Courier menyoroti beberapa poin penting terkait masa depan tenis:
- Kritik terhadap efektivitas shot clock yang justru sering dimanfaatkan pemain untuk mengulur waktu.
- Usulan penerapan sistem no-ad scoring sebagai solusi untuk memperpendek durasi pertandingan tanpa menghilangkan esensi kompetisi.
- Pentingnya penyesuaian jadwal agar penonton tidak melewatkan momen-momen krusial karena waktu pertandingan yang terlalu larut.
Kehidupan Pribadi di Balik Lapangan
Di luar ketegangan lapangan, kisah Ben Shelton juga menarik perhatian publik karena hubungannya dengan atlet sepak bola, Trinity Rodman. Pasangan atlet yang mulai menjalin kasih sejak Maret 2025 ini kerap menjadi sorotan media. Kehadiran Rodman yang rela terbang dari California ke New York demi menyaksikan langsung perjuangan Shelton di US Open, serta dukungan balik dari Shelton saat menonton pertandingan sepak bola Rodman, menunjukkan kedekatan yang menginspirasi banyak penggemar.
Secara keseluruhan, laga perempat final ini menjadi pengingat bahwa tenis modern berada di persimpangan jalan antara mempertahankan tradisi format panjang dan tuntutan akan efisiensi waktu demi kesehatan atlet. Keberhasilan Ben Shelton melaju ke semifinal bukan sekadar tentang angka di papan skor, melainkan simbol pergeseran kekuatan di peta persaingan tenis putra dunia yang kini semakin kompetitif dan menuntut stamina luar biasa.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






