Drama Nilton Santos: Palmeiras Kehilangan Takhta, Ketegangan Internal, dan Kemarahan Pemain Mantan

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Drama Nilton Santos: Palmeiras Kehilangan Takhta, Ketegangan Internal, dan Kemarahan Pemain Mantan

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 08 September 2026 | Hasil imbang tanpa gol antara Botafogo dan Palmeiras dalam laga pekan ke-26 Campeonato Brasileiro pada Minggu (6/9/2026) tidak hanya menyisakan skor kacamata di papan skor Stadion Nilton Santos. Pertandingan ini justru menjadi pemicu serangkaian drama yang mengguncang stabilitas internal Palmeiras dan memanaskan hubungan antara klub dengan para mantan pemainnya.

Hasil imbang tersebut membawa konsekuensi besar bagi posisi Palmeiras di klasemen. Dengan tambahan hanya satu poin, tim asuhan Abel Ferreira harus merelakan posisi puncak klasemen diambil alih oleh Flamengo yang berhasil meraih kemenangan atas Remo. Data dari Departemen Matematika dan Statistik Universitas Federal Minas Gerais (UFMG) menunjukkan bahwa peluang juara Palmeiras kini merosot ke angka 27,2 persen. Tim yang dijuluki Verdão ini kini berada di posisi kedua, tertinggal satu poin dari rival utamanya, Flamengo, yang menunjukkan performa lebih konsisten pasca-Piala Dunia.

Ketegangan di Ruang Ganti dan Kritik Felipe Melo

Di luar lapangan, suasana di kubu Palmeiras tampak tidak kondusif. Pelatih Abel Ferreira kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya pasca-laga yang memicu reaksi keras. Abel sempat melontarkan komentar mengenai pencapaian luar biasa Palmeiras dalam empat hingga lima tahun terakhir, yang dianggap sebagian pihak sebagai upaya untuk menonjolkan perannya secara berlebihan.

Mantan pemain Palmeiras, Felipe Melo, menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka mengkritik pandangan tersebut. Dalam perannya sebagai komentator, Melo menegaskan bahwa transformasi Palmeiras menjadi kekuatan dominan di sepak bola Brasil telah dimulai jauh sebelum kedatangan pelatih asal Portugal tersebut pada Oktober 2020. Menurut Melo, mengakui kontribusi Abel tidak boleh menafikan fondasi dan perjuangan tim yang sudah meraih gelar sebelum era kepemimpinannya.

Situasi semakin diperkeruh oleh perilaku Abel Ferreira yang tampak frustrasi dengan tekanan media. Ia sempat melontarkan sindiran tajam kepada awak media mengenai keberadaan mikrofon di pinggir lapangan, yang menurutnya tidak lazim ditemukan di kompetisi Eropa seperti Liga Champions. Sikap ini pun menuai kritik luas sebagai bentuk kegagalan pelatih dalam mengelola tekanan di tengah krisis performa tim.

Reuni Pahit di Nilton Santos

Sementara itu, pertandingan di Nilton Santos juga menjadi malam yang traumatis bagi Alexander Barboza dan Marlon Freitas. Keduanya, yang kini membela Palmeiras, disambut dengan permusuhan oleh suporter Botafogo. Barboza bahkan menjadi sasaran cemoohan sepanjang laga dan akhirnya menerima kartu merah pada masa tambahan waktu, sebuah momen yang dirayakan oleh pendukung tuan rumah.

Barboza menyatakan rasa kecewanya atas perlakuan suporter tersebut. Ia menegaskan bahwa selama berseragam Botafogo, ia selalu menghormati lambang klub. Namun, atmosfer panas di stadion menunjukkan betapa emosionalnya pertemuan antara pemain dengan mantan klubnya di tengah persaingan ketat liga musim ini.

Menatap ke depan, tantangan bagi Palmeiras kian berat. Skuad asuhan Abel Ferreira harus segera membagi fokus antara sisa laga Brasileiro dan perempat final Copa Libertadores. Pertandingan krusial melawan São Paulo dalam tajuk Choque-Rei pada Sabtu (12/9) mendatang akan menjadi ujian nyata apakah Palmeiras mampu keluar dari tren negatif ini atau justru semakin terpuruk dalam ketidakpastian gelar juara.

Secara keseluruhan, laga melawan Botafogo menjadi titik balik krusial bagi Palmeiras. Kehilangan posisi puncak klasemen, konflik narasi sejarah antara pelatih dan mantan pemain, serta tekanan psikologis dari suporter lawan menciptakan badai yang harus segera diatasi oleh manajemen tim jika mereka ingin tetap berada dalam jalur perebutan gelar juara musim ini.