Fenomena Misterius di Bandung dan Peringatan Awas Kekeringan di Yogyakarta

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Fenomena Misterius di Bandung dan Peringatan Awas Kekeringan di Yogyakarta

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 06 September 2026 | Wilayah Jawa Barat baru-baru ini digemparkan oleh serangkaian suara dentuman misterius yang terdengar oleh masyarakat di kawasan Bandung Raya sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan otoritas terkait, terutama antara Badan Geologi Kementerian ESDM dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dua Analisis Berbeda Terkait Dentuman

Badan Geologi melalui Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menduga bahwa suara dentuman dan getaran yang dirasakan warga di Bandung Raya, Banten, hingga Lampung berkaitan erat dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Mengingat gunung tersebut saat ini berada pada level III atau Siaga, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak memasuki radius 3 kilometer dari kawah.

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung. Kepala BMKG Bandung, Suaidi Ahadi, menyatakan bahwa dentuman tersebut tidak memiliki kaitan langsung dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Menurutnya, jarak letusan gunung tersebut terlalu jauh untuk dapat menghasilkan dentuman yang terdengar secara spesifik di wilayah pemukiman Bandung.

Hingga saat ini, BMKG belum menemukan catatan aktivitas seismik atau gempa bumi di wilayah Bandung Raya pada saat kejadian berlangsung. Suaidi menjelaskan bahwa secara literatur, fenomena dentuman atau skyquake bisa dipicu oleh beberapa hal, di antaranya:

  • Aktivitas swarm earthquake atau rangkaian gempa kecil.
  • Gempa akibat aktivitas di kawasan karst atau runtuhan.
  • Aktivitas pelepasan gas metana dari danau purba.

Kondisi Cuaca dan Ancaman Kekeringan di Yogyakarta

Sementara itu, di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), BMKG memberikan perhatian khusus pada kondisi iklim yang ekstrem. Seluruh wilayah DIY kini berstatus Awas kekeringan karena telah melewati masa 60 hari tanpa hujan. Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada November 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, menegaskan bahwa status Awas ini membawa risiko signifikan bagi sektor pertanian, seperti potensi gagal panen, serta meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, ketersediaan air bersih bagi masyarakat di seluruh kabupaten dan kota di DIY mulai terancam.

Terkait aktivitas seismik di sekitar DIY, BMKG juga sempat mencatat adanya gempa bumi tektonik berkekuatan M 5,3 yang berpusat di laut selatan Cilacap pada Jumat (4/9/2026). Getaran gempa tersebut dirasakan hingga ke wilayah Sleman, Bantul, dan Kulon Progo dengan skala intensitas II-III MMI. Meskipun tidak berpotensi tsunami, masyarakat tetap diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari BMKG dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Secara keseluruhan, masyarakat diimbau untuk tetap tenang menghadapi fenomena alam yang terjadi. Baik itu dentuman misterius di Jawa Barat maupun kondisi kekeringan di DIY, koordinasi dengan pihak otoritas kebencanaan setempat menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan dan mitigasi risiko yang tepat.