Gayatri Putri News – 03 September 2026 | Sulawesi Selatan kembali dihadapkan pada persoalan klasik yang tak kunjung usai: pemadaman listrik bergilir. Di tengah pesatnya pertumbuhan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga digitalisasi yang sangat bergantung pada stabilitas energi, masyarakat justru harus bergelut dengan ketidakpastian pasokan daya. Fenomena ini memicu keresahan publik yang mempertanyakan efektivitas tata kelola kelistrikan di wilayah tersebut.
Paradoks Energi di Sulawesi Selatan
Secara kasatmata, Sulawesi Selatan seharusnya menjadi daerah yang mandiri energi. Wilayah ini memiliki infrastruktur pembangkit yang cukup masif dan tersebar di berbagai titik strategis. Sebut saja Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jeneponto, fasilitas pembangkit di Barru, hingga berbagai sumber energi yang tersebar di wilayah Luwu dan sekitarnya. Dengan keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut, logika publik tentu mempertanyakan mengapa stabilitas pasokan listrik tetap menjadi barang mewah.
Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara kapasitas terpasang dengan realitas pelayanan yang diterima konsumen. Masyarakat yang rutin menunaikan kewajiban membayar tagihan listrik merasa berhak mendapatkan kompensasi berupa layanan yang stabil. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Pemadaman bergilir yang terjadi berulang kali telah mengganggu ritme kehidupan rumah tangga, operasional sektor kesehatan, perbankan, hingga efisiensi dunia industri.
Membedah Kompleksitas Sistem Kelistrikan
Menurut pandangan para ahli, persoalan pemadaman bergilir tidak bisa dipandang hanya dari sudut pandang teknis sederhana. Terdapat rantai sistem yang sangat kompleks dalam penyaluran energi listrik dari pembangkit hingga ke tangan konsumen. Beberapa faktor krusial yang perlu diperhatikan dalam tata kelola kelistrikan antara lain:
- Ketersediaan Kapasitas Riil: Keberadaan pembangkit tidak menjamin seluruh kapasitasnya dapat dioperasikan secara penuh setiap saat. Faktor pemeliharaan rutin dan usia mesin sering kali menjadi hambatan.
- Rantai Distribusi dan Transmisi: Listrik yang dihasilkan oleh pembangkit harus melewati jaringan transmisi yang panjang. Gangguan pada infrastruktur transmisi dapat menyebabkan penurunan pasokan secara signifikan.
- Keseimbangan Beban: Sistem kelistrikan membutuhkan keseimbangan presisi antara pasokan daya (supply) dan beban konsumsi (demand). Ketidakseimbangan ini sering memicu gangguan sistem yang berujung pada pemadaman.
- Ketersediaan Bahan Bakar: Stabilitas pasokan bahan bakar untuk pembangkit termal menjadi kunci utama dalam menjaga kontinuitas operasional pembangkit.
Persoalan kelistrikan di Sulawesi Selatan sesungguhnya menuntut evaluasi menyeluruh terhadap manajemen energi. Masalahnya bukan hanya terletak pada kuantitas pembangkit yang dimiliki, melainkan pada keandalan sistem distribusi dan transparansi manajemen daya. Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa investasi besar pada infrastruktur pembangkitan benar-benar diikuti dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan mampu menjamin stabilitas pasokan energi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Hingga saat ini, tantangan utama bagi pemangku kebijakan adalah bagaimana mengintegrasikan seluruh sumber daya yang ada agar tidak terjadi ketimpangan antara ketersediaan energi dan kebutuhan riil di masyarakat. Tanpa pembenahan pada tata kelola transmisi dan distribusi, serta peningkatan keandalan setiap mata rantai sistem, pemadaman bergilir berpotensi akan terus menghantui aktivitas ekonomi dan sosial di Sulawesi Selatan.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






