Gayatri Putri News – 29 Agustus 2026 | Situasi di depan kantor DPRD Kalimantan Selatan memanas pada Jumat (28/8/2026) sore. Aksi yang tergabung dalam gerakan Demo Kalsel Lumpuh Jilid II ini berujung ricuh ketika massa mahasiswa berusaha menerobos barikade pagar kantor legislatif tersebut.
Kericuhan dipicu oleh kekecewaan mahasiswa karena dialog yang dilakukan dengan perwakilan pemerintah dan DPRD tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Massa menuntut kehadiran Gubernur Kalsel, Muhidin, untuk memberikan jawaban langsung atas aspirasi mereka, namun sang gubernur tidak hadir di lokasi.
Beberapa tuntutan utama yang dibawa oleh aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil dalam aksi ini mencakup:
- Penanganan serius terhadap masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.
- Perbaikan distribusi BBM bersubsidi bagi masyarakat.
- Penyelesaian masalah kelistrikan di wilayah Kalsel.
- Desakan segera disahkannya Undang-Undang Perampasan Aset.
Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Riza Muttaqin, bersama jajaran kepolisian lainnya turun langsung ke lapangan. Mereka berupaya meredam emosi massa melalui pengeras suara agar tidak terjadi benturan fisik. Meski sempat mundur beberapa kali, massa terus mencoba mendobrak pagar hingga aparat kepolisian terpaksa memukul mundur mereka.
Ketegangan sempat mereda saat waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA, di mana sebagian massa mulai membubarkan diri karena izin aksi telah habis. Namun, menjelang Maghrib, massa kembali melakukan konsolidasi di sekitar kawasan kantor BCA Banjarmasin dan kembali mendekati area DPRD. Hingga saat ini, aparat kepolisian masih bersiaga ketat di lokasi untuk mengantisipasi potensi bentrokan lanjutan.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan





