Dinamika Pasar Modal: Saham BUMI Didera Aksi Jual Asing di Tengah Gejolak IHSG

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Dinamika Pasar Modal: Saham BUMI Didera Aksi Jual Asing di Tengah Gejolak IHSG

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 26 Agustus 2026 | Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan dinamika yang cukup menantang pada perdagangan sesi pertama hari Senin, 24 Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa harus terkoreksi sebesar 0,69% atau 45,04 poin, menempatkan indeks pada level 6.480. Penurunan ini mencerminkan sentimen negatif yang sedang menyelimuti bursa domestik, yang juga sejalan dengan pelemahan indeks di berbagai bursa utama kawasan Asia.

Salah satu sorotan utama dalam perdagangan hari ini adalah tingginya aktivitas jual bersih (net sell) oleh investor asing. Hingga jeda makan siang, investor asing mencatatkan nilai jual bersih mencapai Rp391,96 miliar. Di antara sekian banyak emiten yang tertekan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu yang paling ramai dilepas oleh pelaku pasar global, dengan nilai jual bersih mencapai Rp73,79 miliar.

Dominasi Transaksi dan Tekanan pada Saham BUMI

Secara volume, saham BUMI mencatatkan aktivitas yang sangat tinggi, menjadikannya sebagai emiten dengan nilai transaksi terbesar pada sesi tersebut, yakni mencapai Rp526,97 triliun. Tingginya frekuensi perdagangan pada saham ini menunjukkan volatilitas yang cukup tajam, di mana investor merespons kondisi pasar dengan melakukan aksi ambil untung atau penyesuaian portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain BUMI, tekanan jual asing juga menyasar saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). BBRI bahkan menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan nilai Rp160,84 miliar, yang sekaligus menyeret sektor perbankan ke zona merah bersama dengan emiten besar lainnya seperti BBCA, BMRI, dan BBNI.

Analisis Sektoral dan Prospek Pasar

Di sisi lain, sektor kesehatan menjadi penekan utama IHSG dengan koreksi sektoral sebesar 2,31%. Hal ini dipicu oleh sentimen negatif pada beberapa emiten kesehatan, termasuk PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) yang anjlok 4,35% setelah adanya kabar mengenai pengeluaran saham tersebut dari indeks FTSE Russell. Kondisi ini mempertegas bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen spesifik emiten maupun kebijakan indeks global.

Para analis menyoroti bahwa di tengah reli IHSG yang sempat terjadi pada pekan sebelumnya, penguatan tersebut tidak merata ke seluruh sektor. Saham-saham di papan pengembangan, khususnya sektor perbankan menengah, masih menunjukkan kinerja yang beragam. Investor saat ini cenderung bersikap lebih selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, likuiditas memadai, serta visibilitas pertumbuhan laba yang konsisten. Faktor kualitas aset dan potensi aksi korporasi menjadi pertimbangan utama bagi pelaku pasar sebelum memutuskan untuk melakukan akumulasi saham.

Melihat kondisi pasar yang masih berada dalam rentang dukungan (support) di area 6.480 hingga 6.500, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek. Strategi investasi yang lebih defensif dengan fokus pada emiten berfundamental solid tampaknya masih menjadi pilihan paling rasional bagi investor di tengah arus modal asing yang masih cenderung keluar dari pasar domestik.

Secara keseluruhan, fluktuasi yang terjadi pada saham BUMI dan indeks secara umum merefleksikan kehati-hatian investor dalam merespons data ekonomi global serta kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Ke depannya, stabilitas IHSG akan sangat bergantung pada kemampuan pasar untuk kembali menarik minat beli asing serta pemulihan performa emiten-emiten utama di bursa.