Gayatri Putri News – 24 Agustus 2026 | Kondisi Sungai Barito di wilayah Kalimantan Tengah tengah menjadi sorotan publik menyusul beredarnya rekaman video yang memperlihatkan hamparan pasir luas di bagian tengah sungai. Pemandangan yang menyerupai gurun pasir tersebut muncul di sekitar wilayah Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, akibat penurunan muka dan debit air yang signifikan selama musim kemarau panjang tahun 2026.
Kepastian Operasional Jalur Sungai
Menanggapi kekhawatiran masyarakat, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa Sungai Barito tidak mengalami kekeringan total. Berdasarkan pemantauan langsung dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, penurunan debit air memang terjadi, namun alur utama sungai tetap memiliki aliran air dengan lebar sekitar 100 meter. Alur ini dipastikan masih berfungsi dengan baik dan aman untuk dilalui oleh kapal serta perahu yang menjadi urat nadi transportasi warga setempat.
Kepala BWS Kalimantan III, Sandi Eriyanto, menambahkan bahwa hamparan pasir yang tampak dalam video viral merupakan bagian sungai yang tidak teraliri air karena penurunan muka air. Pengambilan gambar dari sudut tertentu di atas Jembatan Kalahien memberikan ilusi seolah-olah seluruh badan sungai telah mengering, padahal aktivitas logistik dan transportasi air masih berjalan normal.
Dampak Kemarau dan Krisis Kesehatan
Fenomena surutnya Sungai Barito merupakan dampak langsung dari rendahnya intensitas curah hujan yang diprediksi BMKG akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Selain masalah infrastruktur sungai, wilayah Kalimantan saat ini juga tengah berjibaku menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap meluas di tujuh provinsi.
Data Kementerian Kesehatan per 21 Agustus 2026 mencatat lebih dari tiga juta penduduk terpapar kabut asap, yang memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Berikut adalah langkah darurat yang telah diambil pemerintah untuk menangani krisis kesehatan di wilayah terdampak:
- Pengerahan 314 tenaga medis profesional ke tujuh provinsi terdampak.
- Pendirian pos kesehatan dan ruang oksigen di wilayah berisiko tinggi seperti Barito Utara dan Barito Timur.
- Distribusi logistik kesehatan meliputi 278.940 masker, 56 unit konsentrator oksigen, dan berbagai jenis vitamin.
- Implementasi inisiatif Oase Udara di fasilitas kesehatan Kalimantan Barat untuk menjamin pasokan oksigen bagi warga.
Upaya Penanggulangan Karhutla
Di Kalimantan Selatan, operasi darat dan udara terus digencarkan untuk memadamkan 53 titik api yang tersebar di sembilan wilayah. BNPB mencatat estimasi luasan lahan terbakar mencapai 595 hektare, dengan Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan sebaran titik api paling luas. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau kondisi lingkungan secara menyeluruh, baik dari sisi ketersediaan air di Sungai Barito maupun penanganan titik api di daratan.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menyaring informasi dengan bijak terkait kondisi Sungai Barito. Pemerintah memastikan bahwa penanganan kebutuhan dasar warga, baik terkait akses transportasi sungai maupun layanan kesehatan akibat dampak kabut asap, menjadi prioritas utama selama masa kemarau panjang ini. Sinergi antarinstansi terus dilakukan demi memastikan ketahanan warga menghadapi tantangan iklim yang ekstrem.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






