Krisis Performa dan Kontroversi: Aryna Sabalenka Terancam Kehilangan Takhta Dunia

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Krisis Performa dan Kontroversi: Aryna Sabalenka Terancam Kehilangan Takhta Dunia

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 20 Agustus 2026 | Posisi Aryna Sabalenka sebagai petenis nomor satu dunia kini berada di ujung tanduk setelah mengalami kekalahan mengejutkan pada babak 16 besar Cincinnati Open. Petenis Belarusia tersebut takluk di tangan pemain muda berusia 20 tahun asal Ceko, Sara Bejlek, dengan skor 7-6(7), 6-4. Kekalahan ini tidak hanya menjadi pukulan telak bagi persiapannya menuju US Open, tetapi juga memicu sorotan tajam atas sikap emosionalnya di lapangan.

Runtuhnya Dominasi di Lapangan

Sabalenka, yang sempat mendominasi awal musim 2026 dengan menjuarai Brisbane, Australian Open, serta mencatatkan prestasi ‘Sunshine Double’ di Indian Wells dan Miami, kini tampak kehilangan taringnya. Sejak kemenangan di Miami, ia belum mampu menembus final di turnamen mana pun. Kegagalan di Cincinnati ini menjadi hasil terburuknya sejak 2021, memperpanjang tren negatif setelah sebelumnya juga tersingkir lebih awal di ajang Canadian Open.

Pertandingan melawan Bejlek sebenarnya sempat berada dalam kendali Sabalenka. Ia sempat memimpin 5-1 pada *tie-break* set pertama dan unggul 4-1 pada set kedua. Namun, kurangnya konsistensi dan masalah pada servis andalannya membuat Bejlek mampu bangkit dan membalikkan keadaan. Bagi Bejlek, ini merupakan kemenangan terbesar dalam kariernya, sekaligus menjadi kemenangan pertamanya atas petenis peringkat 10 besar dunia.

Kontroversi Sikap terhadap Ball Boy

Di balik kekalahan teknis tersebut, perilaku Sabalenka selama pertandingan menjadi topik hangat di media sosial. Frustrasi yang memuncak akibat performa yang tidak sesuai harapan dilampiaskan kepada seorang *ball boy*. Pada awal set kedua, Sabalenka tampak kesal karena tidak menerima bola sesuai keinginannya. Ia kemudian memukul bola dengan keras ke arah penonton, memaksa sang *ball boy* untuk mengambil bola tersebut dari tribun.

Tindakan ini memicu kritik keras dari para penggemar tenis yang menganggap sikap tersebut tidak sopan dan tidak profesional. Sabalenka, yang memang dikenal ekspresif, tampak kesulitan mengelola emosinya saat berada di bawah tekanan besar, terutama ketika permainannya mulai berantakan di hadapan lawan yang lebih muda.

Ancaman Takhta Peringkat Satu Dunia

Kekalahan ini membuka jalan lebar bagi Elena Rybakina untuk menggeser Sabalenka dari puncak peringkat WTA. Saat ini, Rybakina hanya terpaut jarak poin yang tipis dalam peringkat *live*. Jika petenis asal Kazakhstan tersebut mampu melaju ke babak final Cincinnati Open, maka posisi Sabalenka sebagai ratu tenis dunia akan resmi berakhir pekan depan.

Situasi ini jelas menjadi peringatan keras bagi tim pelatih Sabalenka. Menjelang pertahanan gelar di US Open, ia harus segera menemukan kembali ritme permainannya. Persaingan di papan atas tenis putri saat ini sangat kompetitif, dan kegagalan untuk mengontrol emosi serta inkonsistensi performa bisa menjadi hambatan serius bagi ambisi jangka panjangnya di sisa musim ini.

Secara keseluruhan, kekalahan di Cincinnati Open menjadi momen refleksi bagi Aryna Sabalenka. Selain harus membenahi aspek teknis dan mental, ia juga perlu memperbaiki citra diri di lapangan agar tidak terus terjebak dalam kontroversi yang merugikan. Dengan US Open yang sudah di depan mata, waktu bagi Sabalenka untuk bangkit sangat terbatas, namun bukan berarti tidak mungkin jika ia mampu kembali fokus pada performa terbaiknya.