Gayatri Putri News – 18 Agustus 2026 | Era baru Lazio di bawah asuhan Gennaro Gattuso dimulai dengan catatan yang sangat kelam. Klub ibu kota Italia ini harus menelan pil pahit setelah tersingkir secara memalukan dari babak 64 besar Coppa Italia 2026/2027. Bermain di hadapan pendukung sendiri di Stadion Olimpico pada Minggu (16/8/2026), Lazio takluk 0-2 dari tim divisi dua, Mantova, dalam sebuah laga yang dipenuhi ketegangan.
Kekalahan Memalukan di Stadion Olimpico
Pertandingan tersebut menjadi laga kompetitif pertama Gattuso sejak menggantikan Maurizio Sarri. Namun, debut ini jauh dari harapan. Mantova tampil disiplin dan berhasil membungkam tuan rumah melalui gol Francesco Ruocco pada menit ke-75. Saat Lazio mencoba mengejar ketertinggalan dengan menempatkan seluruh pemain, termasuk kiper Christos Mandas, jauh di depan, serangan balik cepat Mantova justru menjadi petaka. Pemain asal Montreal, Ismael Cajazzo, memastikan kemenangan tim tamu melalui gol di menit-menit akhir babak tambahan setelah memanfaatkan gawang yang kosong melompong.
Kekalahan ini memicu reaksi keras dari para pendukung setia Lazio. Stadion Olimpico tampak lengang dengan jumlah penonton hanya sekitar 5.528 orang, di mana sebagian besar di antaranya justru merupakan pendukung Mantova. Boikot yang dilakukan oleh tifosi Lazio bukan tanpa alasan. Mereka telah lama menyuarakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Presiden Claudio Lotito, yang mereka juluki sebagai ‘diktator’.
Protes Keras Tifosi dan Ketegangan Internal
Kemarahan suporter tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan, tetapi juga pada manajemen klub. Kelompok Ultras Lazio secara terbuka menyatakan bahwa klub sedang menuju kehancuran. Dalam pernyataan resminya, mereka mengkritik keras kebijakan transfer klub, termasuk kedatangan Davide Frattesi yang dikenal sebagai pendukung rival sekota, AS Roma. Fokus utama para suporter saat ini bukanlah pemain baru, melainkan pergantian kepemilikan klub. Mereka menolak proyek stadion baru jika itu berarti memecah tribun Curva Nord menjadi dua tingkat.
Tanggung Jawab Gattuso
Gennaro Gattuso sendiri tidak mencoba mencari alasan atas kegagalan ini. Dalam konferensi pers pascapertandingan, ia secara terbuka meminta maaf kepada para penggemar. Gattuso mengakui bahwa timnya menerima pukulan telak dan ia bertanggung jawab penuh atas hasil tersebut. Mantan pelatih AC Milan ini menyadari bahwa meskipun ada beberapa hal positif yang terlihat di babak pertama, timnya masih kurang agresif dan kesulitan dalam menyerap filosofi permainan baru dalam waktu yang singkat, yakni 40 hari masa persiapan.
Kekalahan ini meninggalkan luka mendalam bagi Lazio yang beberapa bulan lalu masih mampu melaju hingga babak final. Dengan tersingkirnya mereka dari Coppa Italia, tekanan terhadap Gattuso dan manajemen klub diprediksi akan semakin meningkat seiring dimulainya kompetisi Serie A dalam waktu dekat. Fokus klub kini harus segera beralih untuk memperbaiki moral tim dan meredam gejolak di kalangan suporter agar musim 2026/2027 tidak menjadi bencana yang lebih besar bagi klub berjuluk Biancocelesti tersebut.
Situasi di Lazio saat ini mencerminkan krisis kepercayaan yang mendalam antara pihak manajemen dan basis pendukung. Ketidakmampuan tim untuk menunjukkan performa yang kompetitif di atas lapangan, ditambah dengan konflik internal yang berkepanjangan, membuat masa depan klub di bawah kepemimpinan Lotito semakin dipertanyakan. Keberhasilan atau kegagalan Gattuso di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk menyatukan tim di tengah badai kritik yang terus menghantam dari berbagai sisi.
Menyampaikan apa yang harus disampaikan






