Mengenal Tradisi Rebo Wekasan 2026: Simbol Tolak Bala dan Penguat Ikatan Sosial

Avatar Rizky

by

Published

Last update

2 menit

Read Time

Mengenal Tradisi Rebo Wekasan 2026: Simbol Tolak Bala dan Penguat Ikatan Sosial

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 13 Agustus 2026 | Tepat pada Rabu, 12 Agustus 2026, masyarakat Muslim di berbagai penjuru Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Kalimantan, kembali melestarikan tradisi tahunan Rebo Wekasan. Peristiwa yang bertepatan dengan 29 Safar 1448 Hijriah ini merupakan momen yang dinanti sebagai penanda Rabu terakhir di bulan Safar, yang kerap dimaknai sebagai waktu untuk memohon perlindungan dari segala mara bahaya.

Istilah Rebo Wekasan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni ‘Rebo’ yang berarti hari Rabu dan ‘Wekasan’ atau ‘Pungkasan’ yang bermakna akhir. Sejak abad ke-17, tradisi ini telah mengakar kuat sebagai perpaduan antara kearifan lokal Nusantara dengan syariat Islam. Meski kini zaman telah modern, antusiasme masyarakat untuk menjaga warisan leluhur ini tetap tinggi, terlihat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan di rumah ibadah maupun lingkup adat seperti keraton.

Esensi Spiritual dan Ikhtiar Masyarakat

Dalam praktiknya, Rebo Wekasan sering dikaitkan dengan anggapan bahwa pada hari tersebut turun banyak penyakit atau musibah. Namun, para ulama menekankan bahwa anggapan tersebut harus disikapi dengan bijak. Dalam pandangan Islam, tidak ada hari yang secara mutlak membawa kesialan. Amalan yang dilakukan pada Rebo Wekasan, seperti salat sunah, berdzikir, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, hingga bersedekah, lebih tepat dipahami sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan.

Beberapa kitab klasik seperti Kanzun Najah wa as-Surur bahkan menganjurkan umat untuk memperbanyak doa pada hari ini. Berikut adalah beberapa bentuk kegiatan yang lazim dilakukan masyarakat dalam menyambut Rebo Wekasan:

  • Melaksanakan doa bersama dan pengajian di lingkungan warga.
  • Membaca doa tolak bala yang dinukil dari keterangan para ulama.
  • Melakukan kegiatan sedekah atau memberi santunan kepada sesama.
  • Tradisi makan bersama atau saprahan untuk mempererat tali silaturahmi.
  • Tradisi budaya khusus di lingkungan keraton, seperti kegiatan curak atau tawurji.

Peran Sosial dalam Mempererat Kebersamaan

Selain memiliki nilai religius yang mendalam, Rebo Wekasan memegang peranan vital dalam memperkuat ikatan sosial masyarakat. Di Kalimantan Barat, misalnya, tradisi ini dikenal dengan sebutan Robo-Robo, di mana warga berkumpul di ruang publik untuk makan bersama dan berbagi rasa syukur. Begitu pula di Keraton Kasepuhan Cirebon, tradisi ini menjadi momentum bagi keluarga keraton untuk berbagi rezeki dengan masyarakat sekitar sebagai wujud kepedulian sosial.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Goemilar Soeriadiningrat, menegaskan bahwa rangkaian kegiatan di bulan Safar, termasuk Apeman dan Rebo Wekasan, adalah bentuk nyata pelestarian identitas budaya. Melalui interaksi sosial yang terjalin selama acara berlangsung, masyarakat tidak hanya memohon keselamatan, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Secara keseluruhan, Rebo Wekasan 2026 menjadi cermin bagaimana tradisi tetap relevan di era modern. Dengan memfokuskan diri pada doa dan perbuatan baik, masyarakat Nusantara berhasil mengubah ketakutan akan bala menjadi energi positif berupa kedekatan spiritual dan solidaritas sosial. Tradisi ini terbukti mampu bertahan selama berabad-abad karena kemampuannya beradaptasi sebagai sarana ibadah sekaligus perekat persatuan warga yang lintas generasi.