Gunung Bromo Membara: Upaya Penyelamatan di Tengah Ancaman El Nino

Avatar Rizky

by

Published

Last update

3 menit

Read Time

Gunung Bromo Membara: Upaya Penyelamatan di Tengah Ancaman El Nino

Foto: Istimewa

Gayatri Putri News – 10 Agustus 2026 | Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kini tengah menghadapi tantangan berat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas. Memasuki hari kedelapan, kobaran api telah melahap ratusan hektare area konservasi, termasuk padang rumput kering, vegetasi lokal, hingga bunga edelweiss yang dilindungi. Situasi ini memaksa pihak berwenang mengambil langkah drastis dengan menutup total akses wisata di kawasan Gunung Bromo hingga waktu yang belum ditentukan.

Situasi Kritis di Lapangan

Kebakaran yang bermula pada awal Agustus 2026 ini telah meluas secara signifikan, mencapai area Penanjakan yang menjadi titik favorit wisatawan untuk menikmati pemandangan matahari terbit. Berdasarkan data terbaru, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 700 hektare. Medan yang terjal, angin kencang, serta tingkat kelembapan udara yang sangat rendah menjadi hambatan utama bagi ratusan petugas gabungan yang terdiri dari pemadam kebakaran, TNI, Polri, hingga relawan dalam melakukan upaya pemadaman.

Untuk menekan laju api, operasi pemadaman dilakukan secara kombinasi antara jalur darat dan udara. Helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing atau pengeboman air pada titik-titik api yang sulit dijangkau oleh tim pemadam di lapangan. Selain itu, petugas juga terus membuat sekat bakar atau firebreak guna mencegah api merambat ke area yang lebih luas.

Rencana Modifikasi Cuaca yang Terkendala

Pemerintah sempat merencanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai solusi untuk memadamkan api melalui hujan buatan. Namun, rencana tersebut harus tertunda. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awan konvektif yang diperlukan untuk proses penyemaian garam (NaCl) belum terbentuk di atas kawasan Bromo. Para ahli memperkirakan kondisi ini setidaknya akan berlangsung selama sepuluh hari ke depan, sehingga fokus utama saat ini tetap berada pada operasi darat dan udara konvensional.

Alternatif Wisata di Sekitar Bromo

Meskipun empat pintu masuk utama TNBTS yakni Cemorolawang, Wonokitri, Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro telah ditutup, sejumlah destinasi wisata di sekitar Kabupaten Probolinggo dipastikan tetap aman. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo menyatakan bahwa beberapa objek wisata tetap beroperasi normal karena posisinya yang relatif jauh dari titik api, di antaranya:

  • Jembatan Kaca Bromo
  • Puncak Seruni Point
  • Terminal Wisata Seruni Point

Pihak pemerintah daerah terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan situasi. Jika nantinya kondisi kebakaran memburuk atau asap mulai mengancam keamanan pengunjung, kebijakan penutupan sementara akan segera diterapkan sebagai langkah preventif demi menjaga keselamatan wisatawan.

Dampak El Nino dan Peringatan Pemerintah

Kebakaran di Bromo menjadi bagian dari fenomena karhutla yang meningkat di berbagai wilayah Indonesia selama musim kemarau panjang tahun ini. Pengaruh fenomena El Nino yang semakin kuat telah meningkatkan risiko kekeringan ekstrem. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu api, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Penegakan hukum yang tegas pun disiapkan bagi pihak yang terbukti melanggar aturan di kawasan konservasi.

Kondisi Gunung Bromo saat ini menjadi pengingat akan kerentanan ekosistem nasional terhadap dampak perubahan iklim global. Sinergi antara pemerintah, petugas lapangan, dan kepatuhan masyarakat menjadi kunci utama untuk meredam api dan memulihkan kawasan wisata kebanggaan Indonesia ini. Pemantauan akan terus dilakukan secara intensif hingga situasi dinyatakan benar-benar aman bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.